Monday, 20 October 2014

Day 5 masih di Jiuzhaigou, Cina

DAY 5 JIUZAIGOU, Cina
Senin, 20 October 2014

Lebih baik banyak gambar di hari ke-5 di Cina, daerah Jiuzhaigou. Tempat indah yang pernah saya kunjungi. Benar-benar rekomen buat yang bawa pacar. Loh. Emang benar. Karena disana saya melihat banyak pasangan preweding mengabadikan foto mereka di pinggir danau, diapit gunung. daun-daun hijau, langit yang biru. Sungguh Indah.

Pergi kesana sih perjuangan ya. Jelas! Bersama dengan beribu-ribu penduduk asli cina yang tamasya. Rasanya perfect sekali.

Setiap kami sampai di tempat wisata tertentu, kami harus berebut bis, berdesak-desakkan. Foto seperlunya, lalu jalan lagi. Begitu terus sepanjang area titik yang kami temui.
Intinya kalau ke Jiuzhaigou harus kuat, fisik dan mental. Apalagi di bulan Oktober ini, dimana orang-orang penduduk asli berwisata kesana.

Ada 6 titik yang utama perlu dilihat. 2 dari sebelah kiri, 2 ditengah, 2 di sebelah kanan.
Guide tour nya yang kasihtau. 
Kalau sudah lihat 6 titik itu, semua titik wisata sama saja isinya.
Kita akan dipuaskan dengan pemandangan sungai, danau, air terjun, gunung, warna warni tanaman gunung, Keren sekali!  

Rasanya damai dan indah. Bayangkan ini adalah desa orang-orang Tibet suku minoritas. Bayangkan bagaimana mereka melalui perjalanan hidupnya dengan penuh keindahan dan kedamaian, sampai suatu saat kaisar jalan-jalan dan menemukan tempat itu sangat indah, makanya sekarang jadi tempat pariwisata. 

Makan siang pakai nasi instan. cara makannya cuma ditaruh air aja trus masak sendiri seperti terebus gitu. Keren dah. 




















.

Sunday, 19 October 2014

Day 4 Jiuzhaigou menuju Huang Long

CHENGDU – JiuZhaigou – HUANG LONG 
Minggu, 19 October 2014

Mobil  akan jemput jam 4.15 pagi. Tadinya saya sudah bangun jam 3.30, tapi kemudian saking ngantuknya ketiduran lagi dan baru terbangun jam 4 pagi ketika Mba Puteri teman seperjalanan kami mengetuk pintu kamar. Fei langsung kaget bertanya jam berapa. Saya jawab jam 4. Dia lompat dan bilang, “Ah Becanda LO!” secepat kilat kita bereskan barang-barang, ganti baju, cek –cek barang yang masih tersisa.

Untungnya tadi malam saya sudah bereskan beberapa barang packing sampai jam 1.30 pagi, jadi gak banyak. Tiba-tiba sms Fei bunyi yang isinya mobil  jemput jam 4.30. Saya jadi lega namun tak mengurangi kecepatan.
Turun ke bawah dengan 2 tas koper, 1 tas besar hitam, 2 tas punggung. Fei check out, saya titip barang 1 tas koper Fei, 1 tas hitam besar. Kami hanya bawa 1 koper kecil dan 2 tas punggung masing-masing.  Saya dan teman-teman menebak-nebak mobil apa gerangan yang akan mengantarkan kita ke Jiuzhaigou.
Jam 4.30 pagi sudah nunggu di depan hotel Crown. Kami tebak yang akan jemput adalah bis. Kalau naik bis, kita akan pilih tempat duduk paling depan, jangan dekat roda (kalau jalanan tak rata kena gajruk), jangan dekat mesin (panas).
4.30 tak kunjung datang. 4.45 barulah sebuah mini van datang. OMG kita ke Jiuzhaigou 8 jam naik beginian? Sesak nafas rasanya. Banyak orang. Orang dipepet2. Kalau barang bawaan banyak gimana ini?
Masih jemput 2 orang lagi. Orang cina kan gak akan membiarkan 1 tempat duduk pun kosong. Bangku sudah penuh, mobil berjalan ke sebuah tempat.

Berhenti.
 Lega deh!
Ternyata kami cuma di drop di tempat  seperti terminal, tapi bukan. Banyak tukang jajanan disana. Ada bakpao, jagung rebus, ada pula yang jual rain coat dan bantal leher. Orang-orang sudah banyak menunggu disana.  Saya beli rain coat 10yuan. Katanya di Huang Long sering hujan. 
Kita semua disuruh hapalkan nomor bis buat naik. Sambil nunggu saya lihat hiruk pikuk orang-orang berebut naik saat bisnya sudah datang. Rata-rata orang cina asli. Mereka berlari, kejar-kejaran, desak-desakkan dan berebut naik.
Ok, begitulah cara naiknya.
Ketika bis nomor kita datang, kami semua berlari menuju bis berebut naik.

Tapi akhirnya eing ing eng….
Duduk paling belakang. Kalah sama orang cina itu haha..

Perjalanan naik bis ke Huang long kira-kira 8 jam lebih. Ditambah beberapa kali berhenti untuk buang air. WC nya udalah ya tak usah diceritakan. Jarak 100 meter tercium bau nya. Ada beberapa tempat bayar 1yuan.
Sampai di Huang Long kira-kira pukul 3 sore. Tour leader memberi kita 2 pilihan keatas gunung,  jalan kaki atau naik kereta gantung bayar 80yuan sekitar 10menit saja. Nanti sampai atas jalan kaki lalu turun lagi sejauh 3km atau turun naik kereta gantung 40yuan. Total perjalanan 13km.
Saya dan teman-teman memilih naik kereta gantung naiknya, jalan kaki turunnya.. Lebih susah naik daripada turun gunung.

Antrian masuk itu sesuatu banget loh hanya untuk menuju kereta gantung. Panjangnya bisa sekitar 2 km, dan itu antri panjang dari jalanan turun bis. Kebanyakan turis berasal dari cina asli. Mereka jalan dengan cepat, tak boleh ada celah kosong, bisa diselak sama mereka. Makanya saya dan kawan-kawan berjuang lebih keras. Orang cina itu kan semasa hidupnya berjuang karena harus bersaing melawan 1,7miliar penduduknya. Makanya jangan salahkan mereka yang selalu berjuang menjadi terdepan. Antrian masih panjang sejauh 1km lagi, dan saya mau pipis. Wadow dah gak tahan. Saya keluar antrian sementera, berlari menuju toilet terdekat. Toiletnya lumayan ok sedikit. Saya lari lagi menuju antrian. 

Sampai pintu masuk tunjuk tiket masuk, lalu menuju kereta gantung tunjuk lagi tiket naik kereta. Naik kereta gantungnya pun gak bisa berleha lehe. Semua harus dilakukan dengan cepat. Kereta gantung datang, kami ber-6 lari dan buru-buru naik. Kereta gantung pun melaju dengan cepat. 10 menit dengan kecepatan kereta gantung yang lebih cepat dari kereta gantung yang pernah saya naiki di Genting, TMII. Tempatnya tinggi. Dari sini saya bisa melihat kebawah hutan-hutan, pohon-pohon, bebatuan.
Tinggi Huang Long kira-kira 4000 an meter. Sampai atas, foto-foto, dan yang lain ke toilet dulu, antri.

Lanjut jalan kaki sejauh kurang lebih 5km ada kali tuh dengan nafas terengah-engah, oksigen menipis, udara dingin melewati hutan-hutan di kanan kiri.  Di suatu point ada yang jualan sosis cabe merah Sichuan. Enaknya luar biasa. Walau saya dan Fei tahu itu sosis murahan punya yang kalau kita makan di kota mungkin rasanya biasa aja. Tapi makan di ketinggian 4000an meter ini rasanya Uenak tenan loh. Nah dari sini tuh ada 2 pilihan mau jalan short cut langsung turun, atau mau jalan 500 meter lagi lihat danau 5 warna diatas. 

Nafas  mau habis rasanya, sudah tak sanggup jalan lagi. Orang di samping sudah menggunakan oksigen untuk bertahan hidup. Harga alat oksigen sekitar 25yuan. Saya coba tak menyerah. Pelan-pelan keatas menaiki tangga satu persatu hanya untuk melihat apa sih danau 5 warna itu. Dari mulai bernafas pelan-pelan setiap 5 langkah, ngebalikin kepala ke bawah, kaki di atas pakai tangga, dan macam-macam.  Sampai puncaknya terlihat jelas dari dekat. Danau berundak-undak. Mungkin karena mataku tertutup kabut, saya tak melihat ada 5 warna disana, hanya beberapa warna saja, dan danaunya biasa saja. Bagus sih, Cuma kayaknya kok gak worthed ya sudah naik setinggi ini. Foto-foto sebentar lalu turun lagi. Turun saja dari 500 meter itu, masih butuh turun kira-kira 3km lagi ke arena terminal bis.  Saya dan Fei memilih jalur darurat 2200 meter. 

Jalan ke bawah rasanya gak habis-habis. Kok panjang dan lama. Dari sisi sebelah kanan terlihat danau 5 warna tadi dari bawah. Indahnya! Saya dan Fei baru mikir, coba dari tadi gak usah maksa ke atas lagi, lihat dari sini aja sudah cukup indah. Hais…ini kayak penipuan haha…
Jalan kaki dari jam 5.30 – 6.45 sore. Padahal tour leader suruh kita ke bis jam 5.30 paling 
lambat. Sampai di bis nafas mau habis rasanya. saya mencoba mengatur nafas sebisa-bisanya.
Saya pikir saya dan Fei sudah yang paling terakhir, ternyata masih ada 2 anak muda yang juga terakhir. Tak lama bis jalan kembali. Kami menuju Hotel. Hotel bintang 4, namun penampilannya biasa saja. 1 kamar ini bisa menampung 3 orang. Ada 2 kasur dan 1 kasur tambahan, dengan handuk dan semua peralatan untuk 3 orang. Kalau Fei tidak mengupgrade tour nya supaya 1 kamar 2 orang, mungkin 1 kamar  bisa masuk 3 orang. Restorannya di samping hotel. Jadi kita perlu jalan kaki untuk makan malam. Makan malam hotel yang tidak begitu enak. Malam itu turun salju, tapi sayang kami tak bisa lihat wujudnya karena sudah gelap, yang terasa hanyalah dingin.










Saturday, 18 October 2014

Day 3 Masih Jalan-jalan di Kota CHENGDU, CHINA

Jalan-jalan keliling kota Cheng du lihat penangkaran panda 
Sabtu, 18 October 2014

Memulai hari di 7.30 pagi. Sarapan bubur telur pitan dan susu kacang di bagian pintu belakang hotel. Tokonya rame dikunjungi orang-orang yang mau beraktifitas pagi-pagi untuk kerja. Rasanya enak.  Harga tidak mahal karena banyak orang mau kerja sarapan dulu disitu. Ada yang berdiri, ada juga yang sampai jongkok di pinggir jalan.

Jam 8 panggil taxi, jalan menuju tempat penangkaran panda, Panda Center.
Tempat dimana kita bisa melihat banyak panda, dari panda besar, panda kecil dan panda merah yang saya kenal dengan nama Rakun. Ternyata yah…panda merah itu adalah guru si Poh dalam film Kungfu panda. Mereka masih satu suku panda.

Tempatnya seperti kebun binatang pada umumnya, Cuma lebih kecil sedikit sih menurutku. Tak banyak binatang lain yang bisa dinikmati kecuali Panda. Kenapa kami datang kesini pagi-pagi sekali? Kami pengen lihat panda makan di jam-jam tertentu khususnya dari jam 10 pagi  – 11 gitu.

Masuk sana, saya sangat kagum dengan tempatnya yang bersih dan sangat terawat. Hal ini khususnya berlaku untuk toilet umumnya. Astaga baru kali ini melihat wc Cina yang sangat beradab ini. Bersih dan flush nya standar teknologi internasional. Pokoknya mau buang air besar gak akan ada masalah.
Menikmati panda disana tidak bisa terlalu lama, apalagi untuk kegiatan panda makan bamboo. Semua orang Cina juga ingin mengambil foto dan melihat. Kami semua Cuma bisa lihat sebentar dan foto-foto saja. Berdesak-desakan dengan pengunjung lain supaya bisa lihat tepat di depan kandangnya.

Ada satu tempat tertutup dimana panda-panda bayi tidur dan dirawat. Mereka sangat rentan. Makanya perlu penjagaan khusus dan semua petugas yang masuk ke dalam ruang kaca tersebut menggunakan baju-baju steril. Kami hanya menonton di balik kaca dan terus jalan, karena ngantri.
Mau foto dengan panda? Bisa saja, bayar 2000Yuan. Yah kira-kira 4jt lah ya….hahaha…
Disana juga ada museum panda dan teater pemutaran film mengenai panda. Betapa kita harus menghargai dan menjaga kelestarian binatang ini. Mereka termasuk binatang purba loh.



Kami balik dari sana siang hari, supaya bisa makan siang di dekat jalanan samping hotel. Tempat seperti foodcourt itu menyediakan banyak makanan Sichuan. Mantap!
Sebelum sampai hotel, saya bertemu dengan 2 teman lainnya yang akan bergabung bersama kami dalam perjalanan ke Tibet ini. Mereka adalah Putri dan suaminya. Mantan Bosku J
Makan kenyang dengan makan-makanan pedas, berminyak, dan banyak sekali. 







Sore.
Jalan ke Jin Li Street. Sayang sekali sampai sana sore, kalau gak saya mau mengunjungi Museum nya huhu..itu adalah museum Chugeliang, tokoh dalam romans 3 negara (SamKok). 
Sudah jam 5 sore saat saya sampai sana. Akhirnya kami ke jalanan Jin li itu. 
Melihat-lihat tempatnya seperti pergi ke jaman Cina kuno dulu. Namun jangan salah tempat ini beda dengan Kuanzhai Alley. Tempat ini campuran Cina kuno dan modern. Banyak pertunjukkan disana. Ada kedai teh, tempat makan ala film-film kungfu. Keren bangeeeeet…..Saya suka jalanan ini. Bisa duduk di kedai makan mie dan menikmati teh pakai kursi dan meja kayu ala Cina dulu itu adalah sesuatu.

Malamnya kami nonton Opera Seni Berubah Wajah (Bian Lian). Harga tiket 40 yuan. Kami duduk di ruangan yang tidak besar. Kami tak menyangka kalau tempat ini tidak seperti yang kami bayangkan. Ini murah untuk suatu pertunjukkan. Ternyata tempatnya bisa menampung banyak banget orang yang ingin menikmati pertunjukkan. Mirip deh dengan pertunjukkan ala rakyat.
Tapi pertunjukkannya bagus. Pelayannya cantik dan ganteng. Menarik!

Saya puas 



Friday, 17 October 2014

Day 2 Cheng du, Sichuan, China

Keliling Kota Cheng du (baca: Chengtu) menikmati makanan khas Sichuan dan Kota tua 
Jum’at, 17 October 2014

Berkumpul jam 8 pagi. Sarapan: mie daging sapi dan suancai Mian (sayur asin) di samping pintu belakang hotel. 




Jalan. Makan lagi di longchaoshao, sejenis pangsit.



Setelah kenyang, kami ber-4 naik taksi menuju Wenshu temple. Temple Budha dari jaman dinasti Tang  yang sudah berdiri beratus-ratus tahun. Disana kami hanya foto-foto dan lihat sekilas. Saya ambil teh yang dikasih gratis di depan kuil. Tehnya tawar banget. Tapi sih lumayan kalau gratis. Tempat ini seperti vihara. Banyak orang sembayang dan melakukan ritual kerohanian disana. Di tamannya, ada beberapa orang berpakaian baju kungfu jaman dulu untuk taichi. Hen you Yisi.




Cari makan disana banyak dan saling berdekatan. Rata-rata restoran disini menyediakan makanan khas Sichuan. Bahkan ada restoran yang telah berdiri dari tahun 60an dan dapat sertifikat dari pemerintah yang menyatakan keaslian restoran tersebut sudah berdiri sejak lama.
Kami makan di CHEN MAPO DOUFU. Pesan Mapodoufu, sayur-sayuran, kuah dan nasi. Rasanya biasa saja. Mapodoufu-nya pun tidak panas dan agak anyep-anyep rasanya. Restorannya sangat menarik, menggambarkan cina kuno jaman film-film silat.





Makan selesai lalu jalan kaki lihat-lihat gang dekat situ yang penuh toko-toko souvenir. Harganya lumayan, tidak mahal tidak murah juga. Disana banyak turis.
Saya lihat-lihat barang unik khas china, khas Tibet. Gelang-gelang, sisir tanduk, alat-alat kaligrafi, makanan khas Sichuan, dll.








Perjalanan berikutnya menuju TianFu Square dengan naik ditie (subway) bayar 2 yuan/orang.  Jalan menyusuri mall-mall bawah tanah, naik keatas kita akan melihat taman luas tempat orang duduk-duduk dan menikmati jalan-jalan dengan anjingnya. Dari jalan situ bisa terlihat ada patung Maozidong yang besar  dengan jubah panjangnya. Kami foto-foto sebentar lalu jalan kaki 20 menit menuju RenminPark. Kami beli makanan kecil dipinggir jalan sejenis kue tapi dari jagung harganya 5yuan. Kata saya ini mah bakwan jagung gak jadi hehe…

Renmin Park tempat yg sangat unik. Disana orang-orang pensiunan berkumpul untuk mementaskan kreatifitas dan seni mereka. Jadi disepanjang taman itu banyak orang tua yang melakukan kegiatan. Saya melihat orang-orang joget-joget mengikuti irama lagu yang super kenceng. Tak jauh jaraknya dari situ ada yang karoekaan, menari, mementaskan drama china kuno. Semua lagu bercampur aduk menjadi satu, sangat kencang menguncang telinga.

Saya berpikir alangkah indahnya orang-orang tua itu bisa berkumpul bersama menikmati masa tuanya dengan gembira. Mengekspesikan karyanya.



Di Renmin Park ada kedai teh yang besar dimana orang-orang berkumpul bersama untuk menghabiskan waktu mengobrol, bermain kartu, sambil minum teh makan kuaci. Harga teh nya juga bervariasi tergantung dari jenis teh yang dipilih. Saya pilih teh mao ding harganya 25 yuan. Bisa duduk-duduk 2-3 jam, air panas diberikan gratis dengan termos yang bisa isi ulang. Tapi yah yang namanya teh beberapa kali seduh juga sudah hilang rasanya. 
Yang lebih unik sambil duduk minum teh ada layanan korek kuping. Ha ha..ini yang unik dari tempat ini. Mereka membunyikan garpu tala untuk menarik perhatian pembeli. Saya mencobanya setelah pikir-pikir lumayan lama. Khawatir sakit, khawatir jorok. Soalnya habis korekin kuping orang mereka tidak cuci lagi. Mereka hanya lap saja. Alat korek kuping mereka sangat banyak. Mungkin beda kuping beda kasus beda alat koreknya hihi…ketika ditawari mereka selalu bilang, “Ayolah korek kuping! Sangat nyaman loh, tidak sakit. Sebentar saja”. Ternyata setelah dicoba memang tidak sakit dan sangat professional. Lebih keren dari THT. Korekan pertama gak buat geli ataupun sakit, kuping rasanya langsung terbuka. Tukang korek kupingnya menggunakan berbagai macam alat untuk membersihkan. Terakhir dia menggunakan garpu talanya untuk membuat getaran supaya semua tahi kuping jatuh semua, hehe…Harganya 20 ¥. Yah kira-kira Rp.40,000 lah, not bad, sudah bersih pula.
Duduk-duduk di tempat teh  hanya 1.5 jam, jam 4.30 sore kami lanjut jalan ke Kuanzhai Alley.  



Ditengah perjalanan, karena jalan kaki kami bisa mampir ke toko post panda. Lucu deh disana jual berbagai macam kartu post dengan berbagai macam design panda. Ada beberapa souvenir juga seperti gelas, mug,  boneka,dll. Nanti setelah pilih kartu pos yang diinginkan,bayar kira-kira 3yuan untuk 1 kartupos. Saya pilih yang murah :D. Tulis pesan dan alamat yang dituju. Cap dengan berbagai macam gambar panda yang lucu-lucu. Lalu kirim deh di kotak pos panda.




Di depan rumah kantor pos panda itu, ada pengemis kursi roda bernyanyi dengan sound system kecil gitu loh kayak karoekean. Suaranya bagus. Tapi sayang belum sempat dikasih uang, sudah diusir polisi.


Kami lanjut jalan lagi ke Kuanzhai Alley.  Dari pintu pertama masuk, kesan pertama begitu menggoda. Bangunan dan jalanannya mengingatkan memori akan jaman cina kuno. Jaman Chengdu masa lalu. Disana ada 3 bagian alley; kuan alley (wide alley), Zhai alley (Narrow), dan Jing Alley. Saya jalan mengitari alley-alley tersebut. Tempatnya unik-unik, antara kuno dicampur modern mewah. Bagus banget tempatnya. Banyak orang berjualan juga, tempat makan, dll. Saya makan suan la fen dan siomay yang rasanya biasa saja tapi mahal. Suan la fen nya kena 10 yuan. Sambung foto-foto dengan gambar 3d di tembok-tembok.
Dari Kuanzhai Alley sudah jam 9 malam. Jalan kaki dan naik ditie (subway) sampai jalan Chun Xi, jalanan dekat hotel kami. 

















Thursday, 16 October 2014

Day-1 Jakarta to CHENG DU - China

Day 1 Berangkat dari Jakarta - Transit KL - CHENG DU 
Kamis, 16 October 2014

Naik pesawat promo Air Asia Rp 650.000 berangkat dari Jakarta ke Chengdu. Sampai Chengdu pukul 11 malam. Pesawat transit di KL  dari jam 14.00 – 16.00.

Transit di Malaysia 2 jam, bertemu temannya Fei dulu, Wang Ting Ting. 
Dia memberi kami old town coffee dan Ahuat coffee. Katanya sekarang yang terkenal di Malaysia Ahuat Coffee. Enak juga kopinya. 

Pesawat boarding kembali jam 4 sore. Sesampainya di Chengdu kami celingak-celinguk memperhatikan 2 orang perempuan yang baru kenalan dari backpacker Indonesia. Saya setengah khawatir tak dapat bertemu di Chengdu airport, karena janjian di Malaysia pun tak dapat mempertemukan kami. 

Akhirnya sang kakak menghampiri Fei. Kami langsung akrab :)
Mereka dari Jogya dan Semarang, adik dan kakak. Sang kakak melihat itenary Fei di backpacker forum lalu memutuskan bergabung dan jalan bareng dalam perjalanan Tibet kali ini. 
Kakaknya bernama Linda. Adik, Moniq.

   
Keluar dari Airport kira-kira jam 12 malam. Check in di Hotel ChunXi Fang lou sebelah Crown Plaza. 
Ada 2 pintu gerbang di hotel ini, depan dan belakang. 
Pintu depan mengarah ke jalan besar dan ditengah-tengah pusat jajanan . Masuk dari Huaxing jie (Huaxing Street). Disana terdapat banyak sekali toko-toko (seperti food court) makanan Sichuan.
Hotelnya sangat strategis, dekat dengan  wangfujing pusat perbelanjaan dan mall-mall besar.

Kira-kira penampakan dari gerbang pintu depannya begini.




Sudah jam 1 pagi saat kami sampai hotel. Check in lalu keluar cari makan. Lapar banget. kami cari makan malam dekat hotel, ada 1 rumah makan shabu-shabu masih buka. Makan dengan kuah pedas dan kuah ayam tawar dalam 1 panci yin yang. Makanannya terdiri dari tusukan-tusukan sate daging, sayur-sayuran, jamur, jagung, dll.

Ini foto kuah sate-satenya. Pedas mantap!





Balik ke kamar kulayangkan pandang keseluruh sudutnya. Ada banyak barang antik dan unik yang menyimpan budaya Cina kuno jaman dinasti Tang. Worthied kok dengan harganya 250yuan permalam (kamar standar) dan uang jaminan sekitar 2000 Yuan, takut barang-barangnya hilang. 
Yang paling saya suka design hotel ini selain jadul, cina kuno juga budaya dan tradisi minum teh serta peralatan teh nya. 


Wastafel - lihatnya miring ke kiri