Showing posts with label tipstravel. Show all posts
Showing posts with label tipstravel. Show all posts

Tuesday, 10 July 2018

Genghis Khan Statue & Telej National park

Jadwal dari Tour agent :Day 2. Genghis Statue and Terelj National Park  
After breakfast, we will drive to Genghis Statue which is tallest statue of Genghis Khan on horseback, on the bank of Tuul River. Take a picture with Genghis Khan that let's go to the Terelj National Park which is located in north-east of Ulaanbaatar and 80km far. The park has many rock formations for rock climbers and includes two famous formations named for things they resemble: Turtle Rock, (Mongolian Melkhii Khad) and the Old Man Reading a book (Praying Lama Rock).  Stay overnight in Ger camp. (Breakfast, Lunch and Dinner) 


Ceritaku (Tuesday, 10 July 2018) :
Kalau dari catatan tour harusnya hari ini kami hanya menuju 2 tempat. Akan tetapi karena terlalu santai dan waktu masih panjang. Paginya kami manfaatkan pergi ke museum dinosaurus dulu.
Jadi setelah sarapan di hotel, kami langsung menuju Central museum of Mongolian dinosaurs, tepatnya di Chingeltei District, 5th Khoroo, Independence square.
Tadinya mau jalan kaki kesini, eh gak jadi karena hujan lebat. Untungnya supir dan tour guide sudah sampai jam 10 pagi. Padahal mereka pengennya kita berangkat jam 11 siang. Kami memang luar biasa, kalau sudah jalan-jalan gak bakal mau rugi waktu, lebih tepatnya gak suka banyak waktu nganggur. Sementara agent mereka bikin plan nya lebih santai dan waktu lebih banyak.

Ok kita sampai di Museum Mongolia Dinosaurus. Disini kita bisa lihat kerangka dinosaurus asli yang masih utuh, khususnya Jenis Tarbusaurus. Kerangka Dinosaurus dulu ditemukan pertamakali di daerah Bayanzag, Mongolia. Sungguh luar biasa katanya dulu orang amerika pernah mencurinya dari Mongolia dan ngaku-ngaku kerangka itu punya mereka. Mungkin sejak saat itu film dinosaurus jadi muncul. Dan kita kan ngiranya punya Amrik, eh ternyata punya Mongolia. 

Selain ada telur-telur dinosaurus, juga ada cerita sejarah terbentuknya bumi yang dulunya terbagi hanya daratan dan perairan, lalu jaman berubah sesuai dengan sejarahnya. Bla bla bla…dinosaurus purba sejak ice age. Dan dulunya Mongol ditutupi sebagian dengan air laut, lalu mengering. Bla bla bla…O ya ada beberapa artefak tanpa penjelasan bahasa inggris. Jadi ya rajin-rajinlah bertanya pada tour guide nya. Dan kalau bahasa inggrisnya kurang bisa didengar, ya cobalah google (klo ada inet) hihi…
Setelah selesai dengan touring museum dinosaurus nya, kami segera menuju mobil hujan-hujanan.















Perjalanan menuju Genghis Statue tidak ada makan siang. Tour guide takut kalau sarapan yang sudah dipersiapkan tadi pagi tidak bisa diterima oleh perut kita yang orang indonesia. Dia takut kita sakit. Sungguh baik sekali dia. Tapi akibatnya kita tidak diberi makan siang, yang padahal dan harusnya kita mendapat jatah makan siang. 

Sebelum menuju tempat tujuan, kita pergi ke supermarket dulu, beli beberapa keperluan layaknya camping. Makanan yang kita beli agak berlebihan, karena kita pikir pada saat Nadaam Festival besok, semua supermarket tutup. Sesungguhnya, supermarket luar kota tidak tutup. Jangan terkecoh.

Sepanjang perjalanan menuju Genghis Statue terdapat pemandangan menarik padang rumput dan bukit-bukit kecil di kejauhan.
Sudah sampai Genghis Statue.
Tempatnya itu sebenarnya museum. Museum menceritakan kehidupan orang-orang nomaden Mongolia jaman dulu, dari mulai bentuk ger nya yang berubah sampai dengan sekarang, sampai cara hidupnya. Selain itu juga ada cerita perjuangan Genghis melawan musuh-musuhnya dan mempersatukan Mongolia, sampai menjadi raja. Tokoh-tokoh cerita Genghis dihadirkan dalam bentuk patung-patung lilin. Saya sangat menyarankan buat teman-teman baca dulu cerita Genghis Khan sebelum pergi ke museum ini, biar mendapat pencerahan lebih mendalam.
Tempat foto-foto epic terdapat diatas, dekat dengan patung Genghis nya. Patung ini besar sekali dan dibuat oleh para ahli dari beberapa negara sekutu Mongol. Tingginya berapa, luasnya berapa, silahkan di search ditempat lain :D. Untuk bisa mencapai tempat ini, ada tangga atau lift. Waktu kami kesini, sedang banyak angin, karena hujan. Jadi sesudah foto-foto ria, langsung balik kebawah.












Uda puas lihat-lihat dan foto-foto, jam 4 sore kami menuju tempat penginapan, yang bernama ger camp. Malam ini rencananya adalah menginap di daerah Terelj National Park. Tour guide mencoba menghubungi pemilik ger camp yang telah direncanakan sebelumnya, namun tidak berhasil. Karena jadwalnya kami sudah harus stay di ger camp dan makan, maka tour guide kami berinisiatif mencari tempat lain untuk menginap.

Mobil muter-muter cari jalan menuju ger hotel. Ada 1 ger hotel yang menyarankan kami menginap ditempatnya karena ger camp yang seharusnya kami menginap sedang kena banjir dan sungai meluap, sehingga tidak bisa kesana.  Tadinya kita sudah mau menginap di hotelnya, tapi Baekal bilang tempatnya agak kotor dan lembab lantainya, wc nya juga jorok, jadi kurang bagus lah untuk ditinggali. Selera Baekal kan tinggi kalau urusan bersih. Btw nama tour guide kita itu Baekal. Jadi kalau saya tiba-tiba nyebut Baekal, jangan kaget ya… Dia sudah tinggal lama di kota Ulanbataar, jadi dia termasuk orang Mongol yang bersih.
Dia menyarankan untuk menginap di tempat lain. Setelah cari sana sini, kita dapat ger hotel tepat di belakang ger yang pertama Baekal temukan itu. Dia sempet khawatir ketauan sama orang ger hotel pertama yang gak jadi. Hehe..tapi ya bodo lah ya, yang penting tempat sekarang ini lebih bersih. Harga ger hotel ini katanya 80.000 tugrik permalam.

Nah sudah lah kami bermalam disitu. Wc nya berjarak 50 meter jauhnya ke belakang. Tempatnya lumayan bersih, cuma agak unik dengan papan yang dibolongi bagian tengahnya untuk kita jongkok. Segala kotoran nyemplungnya kebawah haha…
Ini tempat pertama, dimana kami bermalam di ger yang bagus. Karena ini ger hotel. Ada tungku pemanas ruangan, dan dapat makan malam. Pemandangan dari sini pun epik dan menarik. Tenang. Damai. Surga.

Makan malam dengan Suivan. Makanan khas mie Mongol yang dicampur dengan daging-daging. Disini kami mengaku bahwa tidak semua kami vegetarian. Baekal tidak mengerti dan aku langsung bilang, “I want eat meat” dan akhirnya dia mengerti dan menyuguhkan kami Suivan mie dengan daging domba. Temanku tetap tidak bisa makan daging domba. Bau nya dan alotnya membuat dia sang pecinta makanan itu tidak bisa menerimanya. Sangat sayang sekali.



WC nya kayak begini











Suivan
Sarapan





Ada hal yang malas aku ceritakan, tapi ya sudahlah terpaksa aku cerita. Sore yang indah ini aku ingin berkuda menikmati suasana padang rumput yang indah. Aku tanya Baekal bisa naik kuda gak? Bayarpun ok lah, demi mendapat experience bahagia. Baekal bertanya dan jawabannya kuda-kuda tersebut tidak ada lagi disini, karena sudah dibawa semua ke Nadaam festival untuk ikut lomba ataupun hanya untuk memeriahkan acara. Ok lah kalau begitu, gak usah aja, lagi pula aku hanya bertanya bisa atau gak nya dan harga berapa.  Gak lama kemudian, Baekal kasihtau ada orang kampung yang sedang menuju situ dan bisa pinjami kuda. Karena waktu masih jam 6 sore dan masih terang, aku bilang ya uda boleh deh, tapi aku mau tahu dulu harga berapa, dan kalau sudah malam tidak usah. Kata Baekal gak sampai malam, dan harga tetap tidak diberitahukan berapa. Tukang kudanya pun sudah on the way dan segera tiba. Padahal aku belum mengiyakan. Pelajaran di Mongol, tidak bisa bertanya, kalau memang niat ya sudah siapkan uang saja. Ok? Lalu, setelah ditunggu-tunggu, sampai kami naik dulu ke perbukitan, foto-foto, bersantai ria, tukang kuda dan kudanya belum datang. Aku bilang gak jadi aja. Batal!
Akan tetapi Jam 9.30, ketika suasana temaram sudah mau gelap, tukang kuda datang. Padahal aku sudah bilang batal tadi. Tapi katanya aku tidak bisa membatalkan, karena tukang kudanya sudah datang dari jauh. Heh??? Demi aku dia datang dari kampung nan jauh disana. Luar biasa! Ya sudahlah aku tanya harganya. Agak mahal, kena 10.000 tugrig. Gak boleh ditawar. Oklah, naik aja. So, dalam kegelapan aku naik kuda. Dan itu kuda kayak buat lucu-lucuan aja. Pemandangan gak dapat, kudanya jinak banget. Dan Fei temanku bilang, aku seperti menunggangi anjing hahaa…rese! O ya sejak hari ini kami sering menggunakan hastag #gagalpaham sama orang Mongolia.
Lampu ger dimatikan jam 12 malam. Pagi jam 4 ada orang mabuk dan aku gak berani kencing. Baekal bilang orang mabuk ini adalah orang mongolia, tapi karena mabuk dia bisa ngomong bahasa korea.

Monday, 9 July 2018

Apa yang Menarik di Ulaanbatar Mongolia


Nanti di blog cerita Mongol, saya akan mulai dengan jadwal tur yang diberikan oleh agent tour kami lalu apa yang terjadi di hari itu. 

Jadwal tour:
Day 1. Ulaanbaatar  
After you come to in Ulaanbaatar from Beijing, take a rest for a while then we will explore Ulaanbaatar city such our main square was called Sukhbaatar square but name is officially changed in 2013. Now, it's Genghis Square. After dinner, we will go Zaisan hill which is memorial place that honors allied Mongolian and Soviet Soldiers killed in World War 2. Memorial features a circular memorial painting that depicts of friendship between people of the Russia and Mongolia. 
Stay in Hotel 2 star (Dinner)

Ceritaku: (9 July 2018 Beijing – Ulaanbatar)

Aku dan teman-teman sampai bandara International Chinggis Khaan jam 12 siang. Pesawat MIAT dari Beijing jam 9.30. Kurang lebih 2 jam perjalanan udara.
Sudah ada tour agent yang jemput kami, namanya Siney (paling gampang disebutnya begitu, nama aslinya agak susah karena beribet pelafalannya dan lidahnya muter-muter). Bahasa inggris Siney lumayan bagus dan dapat dimengerti, karena dia pernah kuliah di Amrik.

Mongolia musim panas buat siang hari jadi terasa lama. Gelapnya mulai jam 9 malam. Jadi bisa main ke banyak tempat.
Kami dibawa menuju hotel Guide, hotel bintang 2. Hotel ini punyanya Siney. Dia sekaligus sebagai manager disitu. Hotelnya bersih dan kamarnya ok.

Kota Ulanbataar sudah modern, sebagian mirip kota-kota di Beijing, China, sebagian mirip Rusia dan ada sentuhan gaya Eropa, tapi banyakan toko-toko korea.
Sepanjang perjalanan banyak coffee shop Korea, toko baju fashion ala korea, makanan-makanan khas Korea. Memang sebagian besar turis adalah orang Korea. Selain itu, orang-orang Mongol juga ternyata suka sekali drama Korea dan hal-hal yang berbau Korea.

Ulanbataar, ibukota Mongolia penduduknya 1.5 jt dari total keseluruhan penduduknya yang berjumlah 3jt.  Setengahnya lagi tinggal di luar kota dengan kehidupan nomaden. Bayangkan aja luas negaranya 1.566 juta km2, cuma punya penduduk 3jt. Beda banget sama Indonesia dengan luas 1.905 juta km2, dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa.

Sesampainya di hotel, kami disambut dengan makanan khas Mongol namanya “Buts”, ini seperti wonton diisi daging. Ukuran 1 piringnya besar. Orang-orang disini tuh kalau makan kuat-kuat, makanya mungkin badannya gede-gede ya…hehe…Kami makan gak habis. Di satu sisi kebanyakan, satu sisi lagi, daging yang diisi adalah daging domba. Bau khas dombanya membuat kami tidak kuat.

makanan khas Mongol  “Buts”

Setelah itu mari kita jalan-jalan eksplor kota Ulaanbataar. Kami datangi Sukhbaatar square. Ini seperti sebuah alun-alun ditengah kota, bagian tengah lapangan besar itu ada patung pejuang bernama Damdin Sukhbaatar diatas kuda. Beliau adalah pejuang revolusi, yang mendeklarasikan kemerdekaan melawan China. Nama tempatnya ada perubahan nama menjadi Genghis Square sekarang. Karena berhadapan dengan patung Sukhbaatar berdiri tegak patung Genghis Khan (raja sekaligus pahlawan Mongolia yang menyatukan orang-orang dan daerah Mongolia). 



Dekat sini ada museumnya, “National Museum of Mongolia”. Syukurlah teman-teman satu rombongan sukanya melihat museum, jadi kami pergi ke museum sampai tutup jam 5 sore (karena musim panas). Kunjungan singkat 1 jam saja dari jam 4 sore mulainya. Dibela-belain lihat bentar, padahal masuk museum ini tidak di cover oleh tour agent nya. Jadi kami harus bayar sendiri. Masing-masing orang kena 8.000MNT (tugrik). 1 MNT=Rp 6.
Museum ini bercerita tentang sejarah Mongolia mulai dari sejarahnya, pakaian adat, perhiasan-perhiasan, budayanya, dll.

 

Setelah itu kami sengaja mengunjungi Gandantegchinlen Monastery.  Tempat ini juga tidak di cover oleh tour agent, so kami yang minta pergi kesini. Tempatnya mirip-mirip Tibet versi mini. Monastery ini tempat pemujaan bagi pemeluk agama Budha Tibetan. Sayangnya cuma ada 1 kuil yang bisa dilihat dari beberapa kuil yg ada. Sementara taman besarnya tidak bisa dikunjungi karena sudah tutup. Di lapangan, tak jauh dari kuil, ada sebuah tiang dari batang pohon, tinggi menjulang keatas, dan sudah hidup ratusan tahun lamanya. Banyak orang mengucapkan doanya sambil memeluk batang pohon tsb, jalan mengelilinginya sambil mengusap-usapkan tangannya di batang. Saking sering disentuh, kayunya jadi licin melengkung.    



Makan malam kami di restorant vegetarian bernama Luna Blanca. Kami makan vegetarian karena ada sepasang suami istri di group yang beragama Muslim. Ada larangan tersendiri memakan daging yang dipotong tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Kami makan bersama supir dan tour guide. Budaya disini supir dan tour guide ikutan makan semeja bersama tanpa diminta. Tapi sayangnya supir tidak mau makan, karena dia tidak suka makan sayuran dan daging bohongan. Kebiasaan orang Mongol adalah makan daging beneran. Haha…


Malamnya kami jalan lagi menuju ‘Zaisan hill’. Berdekatan dengan Zaisan hill ternyata adalah sebuah mall mewah. Kamar mandi nya saja bersih dan premium. Zaisan hill adalah tempat memorial untuk memperingati dan menghormati persahabatan orang-orang Mongol dengan prajurit Soviet yang terbunuh pada perang dunia 2. Untuk mencapai tempat ini, kita harus naik tangga menuju bukitnya. Lumayan cape sih nanjaknya. Di sisi tangga ada tempat duduk, dan kelihatan banyak yang pacaran disitu heheh…

Di Zaisan hill ini juga banyak orang membuka lapak untuk main game ringan. Mainannya lempar balon-balon pakai panah kecil, klo pecah dapat hadiah boneka sesuai jumlah pecahnya balon. Yang main tua dan muda.

Sekeliling tembok atas berisi lukisan yang menceritakan tentang monumen bersejarah dengan gambaran persahabatan Rusia dan Mongol. Dari sini kita bisa melihat kota ulanbataar dari ketinggian dengan lampu-lampunya.


Kita balik hotel sampai jam 11 malam. Tournya nyantai, kayak tour pribadi. Karena istirahatnya kemalaman, tour guide minta kami berangkat siang besoknya.



Alasan jalan-jalan ke Mongolia



Tadinya aku berpikir perjalanan ke Mongolia itu sulit, tapi ternyata tidak. Caranya hanya punya tiket pesawat dari Jakarta – Beijing, Beijing- Ulanbataar. Ulanbataar itu ibukota Mongolia luar (Outer Mongolia), karena Mongol terbagi 2 bagian. Mongol yang di dalam Negara China, dan Mongol yang sudah bebas dari negara China (Outer Mongol). 

Setelah itu buat visa china (kalau tidak ada rencana kunjungan ke China, tidak dibutuhkan visa china. Tanpa Visa China selama 6 hari (kalau gak salah), bisa hanya untuk transit. Lalu buat Visa Mongolia. Visa Mongolia itu dibuatnya dengan syarat dokumen dapat undangan dari pemerintah Mongolia nya. Yang ngurus tour agent Mongolia. Jadi carilah agent tour Mongolia. 

Perlu diketahui, kalau jalan-jalan di Mongol nya 11 hari, maka undangan dan visa yang diberikan adalah 11 hari, tidak kurang dan tidak bisa lebih. Semua sesuai dengan lamanya perjalanan kita disana dan undangan yang tertera disitu. Jadi kalau beli tiket pesawat juga harus PAS, jangan lewat hari kunjungan. Kalau gak kena denda. 

Perjalananku dimulai dari tgl 9 - 20 Juli 2018 (1 hari menunggu pesawat di Beijing + 11 hari perjalanan di Mongolia). 

Trus kenapa sih aku memilih berkelana ke Mongolia?
Inilah beberapa alasan kenapa aku jalan-jalan ke Mongolia. Mungkin bisa dijadikan inspirasi teman-teman yang ingin pergi ke Mongolia. Terserah keputusan teman-teman juga sih.

Kalau aku, inilah alasan-alasannya: 

  • Kebanyakan nonton dan baca cerita bertema Mongolia, seperti cerita Genghis Khaan (seorang pahlawan yang mempersatukan Mongolia dan menjadi khan (raja) popular Mongol), Kweceng (pendekar rajawali), Wolf totem, dll. Jadi aku ingin melihat langsung pemandangan, budaya dan orang-orangnya seperti yang diceritakan di buku-buku atau film.
  • Aku suka naik kuda. Beberapa tahun ini aku tergila-gila dengan kuda. Aku berlatih naik kuda dan tetap naik kuda walaupun ada sedikit traumatis tularan, akibat teman jatuh 3x saat sedang berlatih kuda. Dia jatuh dari yang tidak parah sampai yang parah. Sampai sekarang masih tertatih tatih jalannya, belum terlalu normal. Tapi aku tetap naik kuda dan menikmati. Bangsa Mongol, anak-anaknya dari yang terkecil sudah terlatih naik kuda. Dan kuda di Mongolia banyak sekali. Kudanya kuat dan endurance nya tahan lama.
  • Aku memang menyukai sejarah, budaya dan pemandangan yang melatarbelakangi semua itu. Karena daerah Mongolia adalah tempat pertama kali telur dinosaurus dan kerangka nya ditemukan.
  • Alasan klise: refreshing. Melihat keluarga nomaden itu gimana sih hidupnya. Beternak dan berpindah-pindah. Udara yang segar di musim panas, tidak terlalu panas di Mongol, kecuali beberapa daerah.
  • Mongol mungkin menjadi tempat perhentian terakhir perjalanan travelling keliling china. Walau mongol yang satu ini diluar negeri China sih…Outer Mongol sudah bebas dari penjajahan China, sementara inner Mongol penduduknya masih harus menikah dengan orang China asli. Menurutku Inner Mongol sudah tidak murni Mongol, hanya keturunan saja.  
Ok, selanjutnya akan aku ceritakan bagaimana perasaan dan kejadian-kejadian yang terjadi selama perjalanan kesana. Kalau mau kesana, aku sarankan cari agen tour yang benar-benar ok, dan sudah terpercaya. Untuk agent tour yang kami sewa, tidak aku rekomendasikan. Jadi, tidak aku masukkan dalam blog ini. Sorry!

Thursday, 20 October 2016

Baca selalu syarat dan ketentuan pesan hotel online di China

Ada pengalaman seru berkaitan dengan hotel waktu perjalanan bulan Oktober tahun ini. Mungkin karena perjalanan kami selama 3 minggu, pastinya jauh lebih banyak mengalami hal-hal tidak sesuai rencana atau hal-hal yang aneh. 

Hari pertama perjalanan dari Jakarta, transit Malaysia, dan sampai Guangzhou jam 2 pagi. Naik uber menuju hotel yang sebelumnya sudah dipesan online. Namanya Hai you Jiu dian. Sampai hotel, mau check in masih lancar-lancar saja, sampai si reseptionis menanyakan identitas kami melalui KTP. Kami kan orang asing, jadi cuma bisa kasih passport. Tiba-tiba petugas hotel lainnya langsung menolak dengan halus. Mereka minta maaf tidak bisa mengijinkan kami menginap. Temanku pesan hotel ini melalui online booking lokal China gitu (semacam traveloka). Mereka belum meng-update keterangannya di aplikasi tersebut. Dulu mereka pernah kasus karena menerima orang luar menginap disana. Di China ada pengetatan service berkaitan dengan hotel. Jadi suka ada petugas kayak polisi mendatangi setiap hotel untuk diperiksa. Kalau mereka tidak ada ijin untuk memberi penginapan kepada turis asing, mereka bisa kena masalah. Sepertinya ini tidak main-main, karena teman kami suatu kali pernah menginap di hostel. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, seorang petugas kepolisian memeriksa passport nya. Untungnya hostel itu ada ijin turis asing, jadi aman. 

Kenapa China memberlakukan kebanyakan hotel hanya untuk orang lokal saja, dan tidak terlalu bersahabat bagi turis asing? Karena katanya, Standar hotel untuk orang asing adalah hotel dari bintang 3 sampai 5. Alasannya sih untuk lebih memberi kenyamanan bagi turis asing dalam hal hotel. Tapi menurut alasan pribadiku, mungkin lebih kepada mengutamakan rakyatnya sendiri. Penduduk Chinakan lebih banyak ya.... Apalagi sekali travelling, bisa berjejel orang-orangnya. 

Padahal hotel yang sebelumnya sudah dipesan itu review nya bagus. Tapi sayang sudah tidak menerima turis asing. Aplikasi booking hotel online milik lokal China itu bertanggungjawab dengan memberi kami pilihan hotel lainnya yang bisa menerima turis asing dengan harga yang ok. Saat itu hotel-hotel semua lagi pada naik harganya, karena sedang ada Cantonese Fair. Jadi banyak turis asing datang ke Guangzhou. Selain itu, beberapa hotel ok dengan harga sudah naik dari rate standar, banyak yang penuh. Alhasil kami harus bersusah payah mencari lagi. Setelah dapat rekomendasi dari aplikasi booking hotel online ini, kami segera cari taxi dan mendatanginya. Sudah jam 3 saat itu. Lelah. Untungnya ada taxi, karena jam segitu tiba-tiba hujan mulai turun. 

Sampai lokasi, check in, lalu lihat kamar. Nama hotelnya aku lupa. Yang jelas aku tidak ingin datang lagi ke hotel itu kalau bukan terpaksa..#belagubanget yaa...Hehehe... 
Hotel itu terletak di pinggir jalan. Kamar yang diberikan ukurannya kecil. Paling ujung dekat jalan. Jadi bisa dengar bunyi mobil lewat, suara klakson, suara orang lewat, dan lain-lain. Cat tembok sudah bopel-bopel, alias retak,  dan tampak habis kena rembesan air dalam jangka waktu lama.  Kamar ini lebih mirip kos-kosan murah gitu. Ranjang, TV, meja, lemari pakaian, dan kamar mandi. Lumayan lah untuk istirahat. 

Setelah itu kami lebih memperhatikan term and condition online booking. Kalau  tertera kata ini 
 内宾 (neibing), artinya hanya untuk orang dalam/lokal, jangan dipesan. 

ini adalah hotelnya..temboknya sudah mulai mengelupas








Saturday, 11 June 2016

Pengalaman Ke Bromo dari Malang (Bag.2)


Bis Jogya - Malang. Dari jam 10 malam, sampai Malang jam 5 pagi. 
Perjalanan Malang ke Batu 1 jam. Kami naik taxi menuju kota Batu. Harganya 100rb an lebih.  Early check in di The Villas Batu. Semula aku pesan kamar deluxe yang harga 300rb. Tapi semua kamar penuh, dan kami sudah mau istirahat banget. Jadi kami pesan kamar diatas deluxe, Suite room supaya bisa dapat early check in. Harga 500rb. Jadi kan lumayan bisa istirahat pagi dulu.
Setelah istirahat, sarapan dan mencari tahu mau ngapain, jam 1 siang aku dan Fei pergi ke Museum angkut jalan kaki dari hotel. Deket.  Jalan-jalan dan menikmati Museum Angkut  sampai jam 6 an.
Habis itu lanjut ke BNS (Batu Night Spectakuler). Jaraknya dekat, tapi kami naik ojek Rp 10.000.
Namun akhirnya kami gak jadi masuk BNS (karena mau ngirit). Kalau masuk BNS selain tiket masuk (Rp 40.000), kami juga harus mengeluarkan uang untuk main di wahananya.  Di dalamnya banyak wahana permainan, seperti hiburan rakyat. Hmm gak jadi deh... Akhirnya aku dan Fei makan sosis dan baso dekat sana. 

Lalu kami cari penginapan di dekat-dekat sana, banyak homestay yang harganya hanya Rp 200.000. Karena ini low season, kami pikir agak sayang nginep di homestay. Harga segitu tambah dikit sudah bisa dapat hotel yang lumayan. 

Malam hari kami masih tidur di hotel The Villas Batu.
Museum Angkut

Museum Angkut

Museum Angkut

Jumat, 10 Juni 2016


Pagi hari jam 9 naik taxi sewaan menuju Omah Kayu. Disana ada Paralayangnya.
Kontak Paralayang dengan Eko : 085236584033
Pemandangan di sekitar paralayang dan Omah Kayu sangat menarik untuk dikunjungi.
Aku beruntung bisa naik paralayang sebelum jam 12 berlalu, kalau gak mesti nunggu entah sampai jam berapa. Uda gitu sewa mobilnya gak bisa lama-lama, karena dia taxi. Karena memang sebelumnya angin tidak bersahabat, dan aku tidak bisa naik. Lalu dilanjutkan Sholat Jumat. Tapi ada seorang pilot yang baik (mungkin melihat wajahku melas hehe..belum pernah naik), dia mengambil alih dan ingin menerbangkanku. So, dengan harga Rp 350.000,- aku naik paralayang untuk pertama kali.

Pilotnya duduk dibelakangku. Diterbangkan angin, kami melayang di udara selama 15 menit. Seru, cuma sempat bikin mabuk, mungkin karena anginnya kencang.
Sambil menunggu, menyaksikan pemandangan alam 
Seperti ini bentukannya

Malam hari
saatnya melakukan perjalanan 1 malam ke Bromo.
Aku sudah pesan open trip Bromo. Nama open trip nya Be Borneo (telp: 085101579524 dengan Udin).
Jam 11 malam seperti yang sudah dijanjikan untuk dijemput, aku menunggunya di Alun-alun Batu.
Jam 12 mereka bilang sudah datang dan siap menjemput. Aku tidak melihat mereka. Patokan kami adalah Masjid. Namun mesjid yang disebutkan berbeda. Aku menyebut Masjid An-Nur. Mereka menyebut Mesjid Jami. Aku pikir ada Masjid lagi yang lain.
Kami agak miskomunikasi. Aku bingung. Fei bingung. Aku menyebut kami pas depan patung batu besar strawberi, apel dan sapi. Udin, nama guide nya baru sadar, kalau kami sedang berada di alun-alun Batu, bukan Malang. (nyengir). Aku melihat kembali email yang mereka kirim. Memang alun-alun yang dimaksud adalah Malang. Kami di Batu. Oalah...aku salah. Agak pinter sih.

Jadi kami langsung bergegas panggil taxi. Naik taxi dari alun-alun Batu menuju alun-alun Malang.
Akhirnya baru ketemulah kita. Tadi di jalan gak sampai 1 jam, 30 menit doank mungkin. Taxi nya disuruh ngebut.


Sabtu, 11 Juni 2016

Bromo Sunrise. Makan indomie dulu di penanjakan sebelum lihat sunrise.
Bromo memang indah. Dingin. Banyak yang menyediakan jaket-jaket untuk disewakan. Pengunjungnya rame banget disini. Semua area yang bisa dijejaki penuh. Gak ada tempat buat foto. Agak perlu lompat atau manjat ke genteng. 
Selanjutnya naik kuda di kawah Bromo. Celana panjang bahan yang kupakai robek ketika turun dari kuda. Ups. Teman seperjalananku melihat hal itu, lalu aku menutupnya dengan kain. Masih pede aku tetap naik ke puncak donk..haha
Perjalanan selanjutnya ke Pasir berbisik dan teletabis.

Dari Bromo diantar Jeep menuju baso malang president. Rumah makannya samping rel kereta api. Maka sekalian lah aku dan Fei makan siang di baso malang president itu. 
Menurutku rasanya biasa saja. hihi..Cuma lucu aja makannya samping kereta api yang masih aktif.

Check in di Lily guest house (Rp 185.000). Tidak ada sampo dan sabun. Aku beli sampo dan sabun di hotelnya. Harga sabun batang dan sampo kena 10rb.


Tidur di hotel seharian dan semalaman.  Tidur dari jam 4 sore sampai besok pagi. 

Masih ada seminggu lagi di Malang.....Bersambung