Showing posts with label Europe. Show all posts
Showing posts with label Europe. Show all posts

Saturday, 21 September 2013

Thanks Tukang Gelato di Stasiun Milan, Italy

Perjalanan terakhir kunjungan ke negara-negara Eropa. Saatnya pulang kembali ke bandara di Milan. Kali ini bandaranya yang cakepan. Karena pesawat pulang kami dari Milan ke Jakarta menggunakan ETihad Air. Pesawat yang sama dengan yang pergi.

Kami menunggu kereta ke bandara dari stasiun Milan. Dari beberapa hari lalu di Negara Italy ini saya belum mencoba Ice cream ala Italy yang namanya Gelato.
Kebetulan di Stasiun ini ada yang jual. Saya kepengin. 
Fei menyakinkanku kalau Gelato yang enak itu bukan beli di Stasiun tapi di kota yang sebelumnya dia sudah search dan ada di itenary kami. Hanya saja tidak sempat makan, karena setiap kali mau makan sudah kenyang. Kalau gak kenyang keadaan tidak memungkinkan karena udara dingin makan es krim rasanya mau mate sajah.

Ok akhirnya kami memutuskan makan gelato di stasiun ini saja. Harganya 2.5€. Fei mengeluarkan semua uang receh dan hanya ada 2.48€.
Saya bilang padanya mungkin kita bisa beli dengan uang segitu. Hmmm..terdengar tidak masuk akal.
Tapi saya bilang, bilang aja kita Cuma ada segitu, masa sih gak dikasih? Hmm terdengar kayak gembel.
Ok Fei mencobanya dengan berat hati. Akhirnya kami mendapatkan Gelato asli Italy dengan harga 2.48€, yang aslinya 2.5€. Yah apalah artinya 0.2€.

Padahal denger cerita Fei, dia sempat mengeluarkan 10€ nya. Dan pelayannya baik memberi kami dengan harga yang kurang dari label tertera, karena agak malas kembaliin receh. :D


Thanks tukang Gelato di Italy! Saya dapat Gelato! Nyam!!!

Wednesday, 18 September 2013

Akhirnya bisa sewa Hotel di Bologna, Italy

Akhirnya dari semua perjalanan kami di salah satu negara menclak menclok di Eropa, hanya di Bologna lah kami menginap di sebuah hotel.

Hotel di sini harganya tidak terlalu mahal. Kami menginap di Hotel Caroline dengan harga per malam 60€.

Dari stasiun Firenza ke Bologna memakan waktu sejam.
Dari peta, hotel Caroline tidak jauh dari stasiun di Bologna. Kami memutuskan jalan kaki. Dengan mengerek-gerek koper menjauhi pusat kota di stasiun menuju jalan yang tidak kami ketahui benar atau tidaknya. Ini semua berdasarkan insting dan peta saja.

Tiba-tiba di tengah jalan seorang Nci-nci asli Cina dan kepo bertanya menggunakan bahasa mandarin, 
“Ni shi bu shi zhong guo ren ma?” (Kamu orang Cina bukan?). 
Aku jawab, “Bu shi” (bukan) dengan tergesa-gesa, dudul dan polos. 
Dia Tanya lagi, kamu ngerti bahasa mandarin ya?” 
Fei fei menggeleng. 
Dia bilang lagi, “O gak ngerti ya?” lalu jalan melalui kita. 
Hahaha dudul banget sih, kita baru sadar kok kita bisa jawab semua tapi tuh nci-nci mengira kita tidak tahu bahasa mandarin. Cakep!

Sorry ya tante, abisnya kita sudah ada hotel, gak perlu nginep murah lagi. SOMBONG!

Sombong itu memang harus dikeluarkan di hari-hari terakhir perjalanan di Negara-negara Eropa ini. 

Ini Hotelnya. Not bad kan?
Wcnya terdapat kloset duduk dan juga bidet khas toilet Eropa. Bidet ini sama bentuknya seperti wastafel hanya lebih pendek. Ini digunakan setelah menggunakan kloset duduk seperti biasa, lalu bilas-bilas disitu. Jadi jangan buat minum atau taruh gelas ya? :D


Tuesday, 17 September 2013

Dibantu orang asli China di Milan, Italy

Tidak diragukan lagi kalau hampir 2 Milyar penduduk China tersebar di seluruh pelosok belahan dunia selain Asia. 
Begitupun di Eropa ini, dari awal kami datang di Koln, Jerman, kami sudah mendengar banyak turis China berbicara. Bahkan penjual toko dekat stasiun pun adalah orang asli China. 

Tak disangka malam ini kami dibantu oleh mereka di Milan, Italy. 
Sebenarnya seperti cerita sebelumnya dimana  kami harusnya di Roma malam ini. Tapi karena ada kesalahan teknis maka kami memutuskan dengan cepat menuju ke Milan dengan membeli tiket online dari Barcelona, Spanyol.

Turun di stasiun Milan setelah menaiki bis dari Bandara seharga 10€. Perjalanan kurang lebih 1 jam. Tiba pukul 7 malam. 
Kami belum menemukan tempat tinggal, juga belum tahu mau kemana. Lapar pula. Karena rencana sebelumnya Milan hanyalah sebagai tempat untuk singgah sementara lalu akan lanjut menuju Tirano, Italy untuk menuju Swiss. 

Besok pagi-pagi kami sudah harus berangkat ke Firenze dan Bolognaise. So, malam ini harus tidur dulu di Milan. 
Jalan sana jalan sini keluar masuk hotel dekat stasiun yang aneh dengan lift jadul dan ada pintunya. Lift tidak akan jalan kalau pintu luarnya tidak ditutup kembali. 
Hotelnya masuk ke sebuah pagar besar, dan bentuknya seperti bangunan tua dan ruko. Tempatnya kecil dan rada serem, tapi harganya bisa 150€-200€. 
Untung gak ada yang kosong. 

Ok tidak dapat hotel dekat stasiun, kami mulai jalan lagi menuju luar. Dekat dari hotel ada sebuah bar yang menjual pizza. sudah sampai Italy tidak menikmati pizza rasanya kurang afdol. Tiba-tiba ada sepasang mata menatapku dan temanku terus menerus. Dia seperti orang China. Seorang enci-enci. Aku memutuskan untuk memanggil Feifei dan memintanya mendekati orang China itu. 

Terjadilah diskusi dan perbincangan yang lumayan lama. Aku menunggu tepat di samping pintu bar Pizza itu, melihat barang-barang. Ada seorang wanita tersenyum padaku. Asalnya seperti dari Eropa Timur (tidak jelas). Aku tersenyum balik padanya tanpa punya prasangka. 

Akan tetapi tak lama perasaanku semakin tidak enak dan penuh curiga dengan wanita berambut keriting sebahu menggunakan celana jeans dan jaket berbahan kulit. Dia mondar-mandir di depanku. Matanya terus menatap mataku. Menatap tas-tas kami, sementara aku menunggu Feifei berbicara dengan wanita China. 

Feifei balik ke arahku dan mengatakan bahwa wanita China itu ingin membantu kami mendapatkan penginapan melalui koneksi teman-teman Chinanya di daerah situ. Dia mau membantu karena anaknya saat ini ada di Amerika kuliah, jadi kasihan melihat kami berdua. Stasiun Milan juga terkenal tidak aman dan banyak copet. Banyak orang tidak baiknya. 

Wanita itu juga mengatakan hati-hati dengan barang bawaan kami, karena wanita yang melihati kami terus menerus tadi bersama rombongannya di samping pintu kananku menunggu. Ternyata banyak juga kawanannya. Ngeri!!

Wanita itu mau membantu karena Feifei berbohong kami dari China Selatan. Sesama orang China biasanya saling membantu. Hanya saja orang China utara tidak suka bergaul dengan orang China Selatan, karena dianggap licik. Tapi untungnya ada sebuah keluarga yang mau membantu memberikan tempat tinggalnya di sebuah rumah susun untuk kami tidur semalam saja. Dia memberi harga 10€ per orang, jadi 20€ untuk kami berdua. 

Bapak yang berasal dari China utara itu menjemput kami berdua dengan berjalan kaki. Ternyata dekat dari stasiun itu. Kami pun bersyukur sudah lepas dari wanita asal gak jelas yang mempunyai niat jahat itu. 

Rumah keluarga China tersebut seperti sebuah apartemen (baca: rumah susun sih), jadi tidak terlalu luas. Mereka mempunyai 3 kamar. Hmm..1 kamar sih aslinya, karena 2 kamar dibuat diluar dengan sekat lemari. Kami tidur di ranjang suami istri tersebut yang disekat lemari.
Istrinya menawari makan mie. Aku setuju karena memang daritadi lapar sekali. Bayar 20€ dapat tidur sementara dapat makan pula. Keberuntungan petualang seperti kami. 

Mie disajikan diatas meja samping tempat tidur. Aku dan Feifei makan dengan sangat pelan dan saling tidak bicara. Aku khawatir kalau berbicara bahasa Indonesia mereka akan curiga. 
Sudah mau selesai mienya, si suami yang duduk di depan kami berkata, "Wei kalian orang China makan mie anteng banget!" "Udah seruput aja! Ha ha ha.."
Hehe kami jadi tidak enak. Bukan orang China kalau makan terlalu tenang. Biasanya mereka makan dengan ribut. Lagi ngomong aja dengan satu sama lain seperti sedang mengajak berantem. 

Makan selesai. Dilanjutkan mandi. Lalu tidur. Aku menaruh semua uang dan barang berharga di dalam dada. menyelimuti diriku dengan kain yang kubawa dari rumah. Menataki tempat tidur juga. 

Thanks God malam ini selesai juga, dan lanjut esok paginya....
Membawa tas tidak boleh diseret, melainkan diangkat. Mereka takut orang lain tahu kalau kami menginap ditempatnya, karena ilegal. Tempat tinggal mereka tidak didaftarkan sebagai penginapan. Kalau ketahuan, mereka harus berurusan dengan pihak berwenang. 


Ditahan Petugas di Terminal Pesawat Milan

Masih ingat cerita dimana kami ketinggalan pesawat dari Barcelona ke Roma?
Nah cerita itu berlanjut dengan kami membeli tiket pesawat dadakan menuju ke Milan. Karena sudah tidak ada lagi tiket ke Roma dengan harga yang masuk akal.
Ok, jadi kami memesan pesawat no.2 murah di Eropa yang bernama Easy Jet.  Harganya masih masuk akal.
Sorenya kami berangkat dan tibalah di terminal Milan yang kelihatannya paling gembel. Terminal kecil. Menunggu keluarnya tas dari Conveyor dengan sabar. Tas kami keluar paling terakhir.

Ambil barang dan menuju pintu keluar, tiba-tiba petugas terminal menahan kami dan menanyakan berapa uang yang kami bawa?
Hmm…bingung menjawabnya. Kalau bilang uang kecil, khawatir tidak boleh masuk negaranya karena dikira gembel. Kalau uang besar, takutnya kami mau melakukan cuci uang.
Fei teman saya langsung menjawab sekitar 3000 €.
Kami diminta masuk ke kantornya dan disuruh mengeluarkan seluruh uang kami.
Saya pura-pura santai walau sedikit gemeteran, ada-ada saja!
Uang saya dan uang Fei dikeluarkan bersamaan dan hanya terkumpul sekitar 2000€. Kami panik karena takut dikira bohong.
Si petugas bertanya lagi, “Mana 1000€ nya lagi?”
Fei menjawab dengan cepat, “Ada di bank”

Ok setelah itu petugasnya mengeluarkan sedikit joke yang tidak lucu dan meminta maaf karena menahan kami. Kami dibebaskan.
Setelah itu kami bertanya-tanya kenapa di cek ya? Selama ini kami tidak pernah memahaminya.

Ternyata kita harus menandatangani form declare kalau uang yang kita bawa tidak lebih dari 10.000€. Mungkin khawatir cuci uang atau judi, atau…atau…

Pesawat RYAN AIR Buruk Pelayanannya

Day-11-Selasa,17 September 2013 - Barcelona, Spanyol

Bangun pagi-pagi jam 3 untuk naik pesawat pukul 6.15 menuju Roma, Italy. Dari apartment sahabat kami jalan ke halte bus langsung dapat bus menuju airport. Perjalanan menuju airport lumayan lama kira-kira 1 jam. 

Untungnya kami tidak telat jadi bisa prepare lebih banyak. Pesawat Ryan air ini tidak diperkenankan membawa 2 tas, walaupun itu tas cabin dan tas kecil. 
Mengantri untuk naik pesawat. Setelah sampai di depan tiket boarding, petugasnya bilang kalau tiket online print kami belum dibubuhi stempel. 
Tidak ada keterangan untuk memberikan stempel. Lagi pula tadi kami berhasil masuk gate boarding dengan tiket yang sama tapi tidak ada pemberitahuan apapun. Dia menyuruh menunggu di samping sementara orang-orang dibelakang kami lewat untuk menaiki pesawat. Setelah semua orang lewat, kami tanya lagi bagaimana? 
Petugas hanya bilang yah harus ada stempelnya. Minta cap sama petugas administrasinya dibawah. 
Astaga! Itu jaraknya bisa 15 menit sendiri kalau lari. Sedangkan pesawatnya sudah mau take off. Petugas tidak mau tahu dan minta kami kesana. 
Masalahnya adalah kenapa dia tadi menyuruh kami menunggu dan membiarkan orang-orang lewat dulu baru memberitahu. Coba dari tadi dia bilang minta kami kebawah secepatnya. 

Feifei lari sekuat tenaga ke kantor admin di bawah. Itu jauh. Aku menunggu dengan kesal di bangku dekat dengan petugas tadi. Terdengar dari speaker sana kalau pesawat dengan nomor itu sudah mau berangkat. 

15menit kemudian Feifei balik dengan wajah kacau. Rambut berantakan. Nafas tesengal-sengal. Petugasnya hanya bilang pesawatnya sudah mau tinggal landas tidak bisa memberi kami masuk. Petugas mengatakan tiket kami tidak bisa dipakai lagi, pesawat sudah mau takeoff, jadi meminta kami untuk menukar tiket dengan waktu yang lain. 
SINTING! Padahal petugasnya daritadi melihatku disitu, kenapa dia tidak memberitahu apa-apa?
Meminta kami untuk buruan kek, apa kek. Menunggu kek. 

Sudah nego sana nego sini tidak bisa. Kami ditinggal pesawat. 
Feifei mengurus ke administrasi Ryan air dibawah. Antriannya panjang. Semua orang kena masalah yang sama. Bad service, tidak ada announcement apapun, dan lain-lain. 
Ternyata tiket Ryan Air tidak bisa ditukar dengan jadwal lain, kecuali bayar lagi. 

Tiket tersebut memang murah sekitar 30€ per orang. Kalau bayar lagi kira-kira 200€. Cakep!

Kami hanya bengong dan kesal setengah mati!
Feifei sahabatku berusaha untuk naik banding. Dengan susah payah akhirnya kami kembali ke kota lagi untuk mencari wifi. Ada starbucks dekat Universitat. Lumayan bisa internetan walau dibatasi hanya 45 menit. Enakkan di Indo bebas waktu. Feifei menulis komplainnya. Lalu kami mencari fax machine. Setelah cari di peta dan jalan mengikutinya, ketemulah 1 tempat untuk fax. Surat complain tersebut hanya bisa dikirim melalui mesin fax. Tidak bisa email, tidak menerima telepon customer care. Kalau kalian melihat review Ryan Air di online, kalian akan menemukan sejuta keluhan dan negatif komentar dari hampir semua penumpangnya. 

Surat complain tidak pernah bisa dikirimkan. Nomor telpon fax yang kami layangkan tidak pernah menerima surat itu. Kalau gak nadanya sibuk, kalau gak tidak ada yang angkat. 

Ok Plan ke Roma gagal. Selanjutnya cari tiket murah langsung menuju Milan! Easy Jet menjawab kebutuhan kami saat itu juga dengan harga kira-kira 75€. 

Membeli tiketpun penuh perjuangan, dari cafe satu ke cafe lainnya demi internet. Ketemu starbucks pun hanya dibatasi internet 1 jam saja. Jadi beda kayak di INDO, yang bisa duduk 3 jam lebih. Di sana semua dibatasi. 



Wednesday, 11 September 2013

Dari Amsterdam menuju Paris #Prancis

Rabu, 11 September 2013 - Malam - Paris, Prancis


Naik kereta Thalys, kereta mahalnya orang Paris. Beruntung dapat harga promo 35€. Tmpt duduk sampingku hrsnya org lain bkn feli, ternyata yg shrsnya disampingku cowo cakeup. Sayang sekali switch tempat ama feifei kakakka...

Sampai di paris sore hari. Kota paris yang kulihat hari ini tidak begitu menarik, seperti di Jakarta. Panas, banyak polusi dan kotor.
Mungkin karena dekat stasiun pusat kota. kami menuju station montparnasse untuk ke Angers. 

Sampai Angers malam, kami naik taxi dari station ke rumah tante Fei Fei. Taxi di Eropa memang kebanyakan mercedes. Jadi kami tunggu supaya bisa naik yang Mercy donk. Sayang dah sampai sini. *Norak banget*. 
Naik taxi disini, rata-rata orang duduk dibelakang. Malam itu saya melihat di tempat duduk depannya ada anjing disamping supirnya. Di Eropa sepertinya gak masalah bawa anjing di Taxi. Kami menuju rumah tante tempat dimana Feifei tinggal semasa kuliah. Tante dan om ramah dan baik, terlepas agak bawel dikit. Tapi tetap aja aku gak ngerti mereka ngomong apa. Kan pake bahasa Prancis. 

Tuesday, 10 September 2013

Jalan-jalan ke pasar Belanda #Belanda

Selasa, 10 September 2013 - Pagi - Centraal, Amsterdam

Mulai lagi dengan jalan pagi. Kali ini pergi ke pasar. Dekat daerah tempat kami ada pasar terkenal yaitu Albert cuypmarkt.  Jalan kakinya kurang lebih 1 jam. Bisa 1 jam karena kebanyakan jalan di arah yang menyasarkan.  :D
Lihat2 barang pasar, beli keju Edam dan Gouda lagi. Serenceng 3 biji ukuran 250gram Cuma 13€. Lebih murah dari kota Edam tempat keju itu dibuat.



Jajan kentang goreng dikasih mayonese seharga 2€ buat sarapan :P



Puas jalan-jalan dan melihat-lihat ada apa di pasar, apa yang dijualnya, harganya berapa dan coba dihitung lagi kalau dirupiahkan, kami melanjutkan perjalanan kembali ke pasar lainnya, yaitu ke floating flower market. 
Sampai sana banyak melihat toko bunga, toko souvenir dan toko-toko keju. Beberapa toko keju pelayannya menggunakan topi traditional khas Belanda. Karena unik, maka kami foto. Disana saya hanya beli souvenir magnet kulkas seharga 2€.



Lanjut jalan lagi ke Dam Square. Tempat luas dengan banyak bangunan tua belanda untuk orang-orang berkumpul menikmati hari. Ada banyak burung merpati, pertunjukkan-pertunjukkan (kalau di Indo kayak pertunjukan pengemis gitu), tapi disitu lebih menjuallah dikit. Ada juga yang pertunjukkan seperti jualan obat versi Eropa.


pemandangan dari Dam Square
Toko-toko di Amsterdam buka dari jam 9 pagi tutup jam 5 sore. Hidup yang nyantai.
Tak bisa lama-lama karena kami harus buru-buru naik kereta menuju Prancis lagi. Jadi jalan pulang tidak bisa jalan kaki, kami naik tram menuju waterpool untuk segera berangkat ke centraal. Perjalanan berikutnya adalah negara Prancis.

Monday, 9 September 2013

Windows Shopping di Red Light District #Belanda

Masih tanggal 9 September 2013 - malam hari - Centraal, Amsterdam

Sebelum jam 7 malam kami sudah berada lagi di Centraal. Tidak boleh lebih dari jam 7, nanti bisnya tidak bisa balik lagi ke Centraal. Kalaupun ada mungkin kita harus bayar lagi :D
Belum puas dengan Centraal, kami pergi ke daerah seperti China Town Amsterdam. Banyak makanan Chinese terpampang. Kelihatannya enak. Ada Mie, dimsum, dll. Haduh jadi pengen makan. Tapi kok makanannya mahal-mahal ya. Ya iyalah mau makan masakan Cina kok di Eropa. Salah besar itu!


Menahan diri dari godaan makan enak, kami tetap harus mengisi perut. Pilihan sementara jatuh ke sebuah kedai kopi (cafe), dan kami memesan coklat panas (2€, bayarnya pake receh-receh di saku). Karena cape banget jalan seharian, jadi disini sekalian numpang duduk sekalian minta wifi gratis buat cari jalan ke arah yang diinginkan. 

Dekat situ ada tempat yang namanya Red Light District. Tempat ini baru hidup ketika sudah mulai diatas jam 6-7 malam keatas. Tempat dimana para wanita dewasa cantik berkumpul dengan sexynya memajang diri dalam rumah kaca. Kalau ini dinamakan windows shopping juga. Kalau sudah kepilih dan mau belanja, bisa masuk kedalamnya. Baru kemudian kain hordeng ditarik untuk menutupi apa yang mereka lakukan. Jadi orang-orang yang tidak berkepentingan dilarang untuk lanjut lihat-lihat.

Kami tidak ada yang berani mengambil gambar karena memang dilarang untuk foto-foto, walaupun banyak turis yang foto-foto juga sih. Kami kan menaati peraturan disana. :D

Daerah Red light district sebelum gelap


Sunday, 8 September 2013

Nginep Gratis di Amsterdam #Belanda

Sambungan Berkelana ke Negri Eropa. 
Minggu, 8 September 2013 - Malam.
Ini Negara ke 2 dari kunjungan ke Eropa. 

Amsterdam, Belanda (Netherland)
Perjalanan ke Kota ke-2, negara ke-2 dari negri Eropa 

Keren banget ya baru lunch sosis di German, malamnya sudah dinner di Belanda. Gaya banget sih?! 
Kami melanjutkan perjalanan sore hari dari Koln ke Amsterdam, Belanda naik kereta. Mengejar sampai Amsterdam malam senin, supaya senin paginya sudah bisa kelayapan lagi jalan-jalan. 

Untungnya di Amsterdam ini kami sudah ada tempat penginapan. "Kebetulan" teman kantor Feifei sebulan yang lalu mendapat promosi dipindahkan ke Amsterdam untuk bekerja. Kantor perusahaannya berpusat di Amsterdam, Belanda. Jadi kami menginap disana deh - di apartemen yang diberikan perusahaan tsb kepada temannya Feifei. 
Gratis! :P dan “Kebetulan” tempatnya pas banget di pusat kota – Centraal, Amsterdam.

Ini foto apartemen teman kami itu
Tips kalau mau jalan-jalan ke kota-kota dan negara-negara di Eropa ini adalah cari teman sebanyak mungkin, baik itu lokal maupun international. Jadi siapa tahu bisa nebeng dot com.  Tapi kalau sudah nebeng, tahu diri ya dikit. hehe...Maksudnya bukan hanya kalau habis makan cuci piring, sehabis tidur beresin ranjang, kalau mandi jangan nyemburin air kemana-mana. Tapi kalau bisa juga (mungkin) bawakan something dari Indonesia ke sahabat atau temanmu itu, walau mungkin hanya sedus mie instan Indonesia yang terkenal. 





Menikmati 1 Harian di Kota KOLN, JERMAN

Minggu, 8 September 2013
Petualangan dimulai di kota Koln, Jerman.
Bangun jam 9 pagi dengan rencana segera menuju kota untuk lihat-lihat dan jalan-jalan. Akan tetapi sang pemilik apartemen mau pergi pagi-pagi, jadi kami diminta check out pagi hari supaya tidak membuatnya repot. Kami langsung check out. Karena kami masing-masing membawa 1 koper cabin dan 1 tas punggung, jadi agak repot kalau jalan-jalan dengan membawa semua itu. Kami memutuskan untuk menempatkan tas koper di tempat penyimpanan (automatic locker) di Stasiun. 

Sudah hampir jam 10.30. Lumayan lama karena banyak orang yang juga punya kepentingan yang sama. Menyimpan barang di stasiun lalu pergi jalan-jalan. Yang penting barang aman dan tidak dibawa kemana-mana. Mungkin sarana ini disediakan karena hostel atau hotel di Eropa mahal-mahal. Jadi kalau cuma 1 hari dan gak nginep, mending nyimpen barang di locker. 1 harian sekitar 9€.

Lapar..............

Tidak ada tempat makanan yang enak tapi murah, disini hanya ada coffee shop atau bakery shop. Feifei tak mau makan dekat stasiun. Masa sudah sampai jauh-jauh ke Eropa, makannya dekat stasiun. Feifei menyuruhku menunggu sampai kota dan mencari makanannya disana. 
Tapi karena kami terlalu lapar, kami tidak peduli lagi. 
Aku meminta Feifei membelikanku makanan apa saja. 
Pendekar tidak boleh kelaparan. Kalau kelaparan, gejala bad mood akan datang. 
Feifei mencarikan makanan, sementara aku menunggu mengantri di depan locker. 
Sebuah roti datang. Makan!
Aku makan dengan lahap seperti pendekar pengemis mendapat bakpao, menghabiskan setengahnya tanpa berpikir panjang kalau itu hanyalah roti coklat biasa dengan rasa biasa, dan harga yang mahal. 
Feifei bengong dan berkata dengan melas, "Eits jangan dihabisin donk! kan gua juga lom makan." 
Mataku membelalak kaget. Lupa kalau setiap makanan yang dibeli harus dibagi 2. Ingat ngirit!
------
Lanjut....
Setelah menyimpan semua barang yang tidak diperlukan dalam perjalanan ini, kami jalan-jalan ke kota. 
Melihat Gereja Gothic peninggalan abad 18. Ini letaknya dekat banget dengan stasiun Koln.  Perjalanan ke kota-kota yang ada di Eropa tidak lepas dari yang namanya melihat gereja katedral. Karena gereja itu merupakan pusat kebudayaan Eropa sekaligus kebanggaan dari suatu kota. 

Dekat stasiun ini banyak hal bisa dikunjungi dengan gratis. Ada museum Ludwig. Museum ini banyak terdapat karya seni klasik hingga modern. Kalau masuk dan hanya lihat-lihat gratis, tapi kalau mau menikmati musik atau melihat lebih dalam lagi bayar. Jadi yah kalau waktunya sempit dan rencana mau ngirit tanpa mendalaminya, lebih baik Skip. :D
Kemudian kami jalan lagi ke jembatan cinta. Jembatan cinta menyebrangi sungai Rhein. Dinamakan jembatan cinta karena banyak janji tertoreh dan terikat disitu dengan sebuah lambang gembok. Sok romantis deh kelihatannya. Gak hanya gembok kecil, yang besar banget pun ada.

Kami memang berencana makan sosis disana. Jerman kan terkenal dengan sosisnya. Maka kami mulai mencari sosis. Sosis yang kami makan adalah CurryWurst. Wurst itu berarti sosis. Curry yah kari. So Currywurst berarti sosis dibumbui kari. 
Ini dia!
CurryWurst - Koln, Jerman

Rasanya enak setengah mati. Hmm boleh lah yang suka sosis mencoba ini. Tapi tempatnya pilih-pilih ya..karena gak semuanya enak. Ini saya temukan di dekat jembatan sungai Rhein. Ada banyak yang jualan ini di cafe-cafe pinggir sungainya. Cuman ini yang sedang promo :D. Harganya hanya 7€. Kentang dan sosis yang panjang. Rata-rata menjual dengan 10-13€.
Di kota Koln ini, hari minggu toko buka rata-rata jam 1 atau 2 siang. So, kalau mau belanja, perginya diatas jam segitu aja. Tapi tutupnya juga cepat yaitu sekitar jam 5-an. 
Minggu itu lazy day dan waktu yang harus dihabiskan dengan keluarga daripada mengejar profit. Mereka tahu cara menikmati hidup. 
Kami melakukan windows shopping, karena banyak toko yang belum dibuka. Saya baru tahu arti kata ini setelah mencobanya langsung. Shopping yang cuma bisa di depan windows. Itulah yang dinamakan windows shopping. Barangnya gak pernah jadi hak milik, keinginannya ada di depan mata terhalang oleh selapis windows
Pengalaman ini bisa sepenuhnya dimengerti setelah Anda mencobanya di Eropa, dimana tokonya lebih banyak yang tutup daripada yang buka. Karena tokonya sangat baik hati, memberi pajangan barang-barangnya hanya ditutup dengan jendela.  
Windows Shopping, bisa dilihat tidak bisa dibeli

  

Saturday, 7 September 2013

Cari Internet buat Nginep di Koln, Jerman

Masih hari pertama datang ke Negri Eropa. 

Dari airport di Frankfurt kami menuju koln, Jerman. Bahasa kerennya Cologne, Germany.  Keretanya nyaman dan bisa melihat pemandangan indah.


Perjalanan ke Koln membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Frankfurt. Kami melewati berbagai stasiun. Tidak ada pemeriksaan passport. Dalam perjalanan itu tempat duduknya masih banyak yang kosong. Aku duduk di sebrang kanan Feifei, biar barang kami bisa duduk di bangku sebelahnya Fei fei. Aku duduk sendiri memandang pemandangan kota Jerman dari jendela kananku. Tidur. Bangun. Tidur. Bangun. Tiba-tiba disebelahku sudah ada pria muda duduk. Lumayan ganteng. Kesempatan untuk menghindari kesuntukan di kereta aku mengajaknya ngobrol. Hal pertama yang kulakukan adalah meminta tolong padanya mengambilkan botol minum disamping tempat duduknya, yaitu disebelah Feifei. Untungnya Feifei tidur, jadi kan bisa pura-pura minta tolong padanya begitu. :D

Dengan senang hati dia mengambilkannya. Aku berterimakasih. Kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Dia orang yang ramah dan kami ngobrol. Bahasa Inggrisnya memang masih kurang bagus, tapi dia berusaha dan senang mengobrol denganku. Dia seorang pemuda asal Auxemburg.
Aku melihat snacknya ada tulisan GRATIS. Kok sama kayak bahasa Indonesia. Mungkin bahasa German atau Belandanya Gratis sama dengan bahasa Indo - Gratis.

Sampai di koln kami merubah rencana tempat menginap. Yang rencananya menginap di rumah “teman” baru (kenal) yang asalnya dari Internet, menjadi tidak tahu mau nginap dimana. Karena rumah "teman" baru itu jauh dari kota. Karena tak dekat dengan tujuan wisata kami yang hanya 1 hari 1 malam, maka kami putuskan mencari tempat penginapan lainnya. Dengan Mendadak. Bukan pendekar kalau tidak dadakan dalam merencanakan sesuatu. 

Kami berjalan bolak balik mencari hostel dekat-dekat stasiun. Semuanya full dengan harga yang paling murah 130€ an (sekitar Rp 2jt). 
Jalan sana sini belum ketemu sudah dikasih hujan dan gerimis bergantian. Tidak bawa payung pula. Dekat stasiun banyak tempat jual souvenir payung sih. Masa mesti beli dengan harga 13€. (Ingat mesti irit!) Ternyata Penjualnya adalah orang asli Cina. Dia mengajak kami melihat-lihat menggunakan bahasa mandarin. Mungkin dikiranya kami orang Cina. 

Belum ketemu internet, lebih baik kami jalan-jalan lagi disekitar stasiun. Dekat stasiun ada gereja katedral tua. Sana sini kuping tiba-tiba terasa panas karena bahasa yang terdengar adalah bahasa mandarin. 

Banyak turis dari Cina disini. Pantas saja tempat souvenir tadi juga orang asli Cina sana. 

Lanjut mencari internet untuk tempat nginap. Susah online. Tidak ada free hotspot. Ada Starbucks dekat stasiun. Saking perlunya dengan internet, aku berpikir harus masuk dan beli 1 gelas minuman gitu untuk mendapat free wifi. Hmm pikir-pikir lagi. Kan mau hemat, masa sampai di German minum di Starbucks, deket stasiun lagi. Aku berdiri didepannya saja, coba-coba free wifi nya. Eh berhasil. Mari kita cari hostel! Gak perlu bayar kopi :D
Fei fei jago surfing web. Kami dapat tempat menginap semalam melalui https://www.airbnb.com. Sudah biasa di Eropa, dimana turis kere kayak kami bisa menginap di rumah orang dengan harga murah atau bahkan gratis. Jadi pemilik rumah sudah memberikan tempatnya sebagai tumpangan kepada turis asing untuk menginap di rumahnya atau apartemennya. Ada yang berbayar ada juga yang berbaik hati dengan memberikan gratis. (biasanya sih apartemen ya). Yang kami dapatkan di link tersebut adalah berbayar dengan harga 55€ untuk 2 orang.

Perjuangan kesananya donk yg seru. Hujan, dingin. Sampai sana bingung yang mana apartemennya. Karena patokan kami hanyalah sebuah alamat yang entah bagaimana caranya bisa sampai sana. :D

Kami meneduh dibawah atap gedung. Ada seorang pria naik sepeda melewati kami. Aku mengejarnya, menanyakan jalan. Dengan baik hati dia memberitahu kami alamatnya melalui Hapenya untuk buka internet, karena dia sendiri juga tidak tahu tempatnya. 

Kami tinggal di apartemen seorang wanita bernama Dolores di jl kleines Griechen. Apartmentnya nyaman, bersih, rapi dan dekat dari stasiun. Kami naik MRT hanya melewati 2 stasiun tadi.

Tempat tidurnya bukan di sebuah kamar dan bukan pula sebuah ranjang. Kami ditempatkan di sebuah ruang tamu, tempat nontonnya Dolores, dan dekat dapur. Dia punya sofa yang bisa berubah jadi tempat tidur. Rata-rata orang Eropa punya itu. Praktis. 


Sofa yang dijadikan tempat tidur, Tv diujung.