Showing posts with label Yunnan. Show all posts
Showing posts with label Yunnan. Show all posts

Saturday, 21 May 2016

Naik Kereta Malam Lijiang Ke Kunming

Hari#7 Perjalanan darat Lijiang - Kunming 
Lanjut perjalanan udara Kunming - Guilin 

Puas 2 hari di kota Lijiang, sehabis dari Tiger leaping gorge dan jalan-jalan sekitarnya itu, kami memesan kereta malam Lijiang ke Kunming. 
Nanti dari Kunming perjalanan akan dilanjutkan dengan pesawat ke Guilin. 

Kami dibantu oleh pelayan hotel untuk pesan tiket kereta malam. Bermalam di kereta, kami harus memilih kereta yang nyaman. Maka kami pesan kelas yang ada ranjangnya, dengan harga 147RMB/orang. 

Masuk kereta. Dalam 1 kamar ada 3 ranjang tersusun sampai atas. Ada 2 set ranjang tersebut di samping kiri dan kanan. Jadi total ada 6 ranjang. Kurang lebih seperti barak. 
Di luar ada kamar mandi.  Depan kamar mandi terdapat  kurang lebih 5 wastafel lengkap dengan cermin yang bisa dipakai bersama-sama untuk sikat gigi atau make up mungkin. 

Aku dan teman-teman atas bawah tidurnya. Sebelah kanan kami ada seorang Bapak China asli. Dia seorang diri. 

Tas kami banyak, bapak tersebut memberitahu kami untuk taruh barang diatas. Jadi ada semacam kabin penyimpanan. Aku naik melalui ranjang menginjak semacam sadel motor di tepi ranjang. Sadel motor-nya lebih lebar. Aku tumpuk semua barangku ke dekat ranjang kami. Karena sebelahnya mungkin akan dipakai oleh orang yang akan tidur di sebelah kami. Aku mengkhawatirkan kalau ada 6 orang dalam 1 kamar itu betapa full nya. 

Sampai jam 3 pagi ternyata tidak ada yang masuk kereta lagi, dan di dalam kamar itu hanya kami ber-4. Aman sudah, tidak ada orang lain lagi. Kami bisa tidur dengan tenang dan nyaman sambil menunggu besok pagi tiba di KUNMING. 

Kereta malam Lijiang - Kunming

Friday, 20 May 2016

TIGER LEAPING GORGE - LIJIANG - YUNNAN

Hari #6 LI JIANG 
(Lijiang, Yunnan, China - Hari#2 bag.3)

Poin ketiga dari perjalanan di hari ke-2 Lijiang adalah Tiger Leaping Gorge (Hutiaoxia Zhen). 
Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kira-kira 2km untuk melihat patung tiger. Disini tidak hanya bisa jalan kaki, tapi juga ada rickshaw (becak yang ditarik oleh orang). Naik rickshaw bayar sekitar 20RMB. Karena kami pelit dan ingin menikmati pemandangan pelan-pelan, maka kami memilih jalan kaki. 
Rickshaw yang siap mengantarkan
Depan kami terdapat pemandangan gunung Yulong, bawahnya adalah terusan sungai Yangtze. Sisi sungai terdapat tebing-tebing. Kami melewati tebing arah sebrangnya.

Kota Lijiang ini unik, dijepit Gunung Salju HaBa dan Yulong. Kami bisa melihat gunung salju abadi depan mata kami, menjulang tinggi beberapa kilometer dari tempat kami berdiri. Banyak pendaki mendaki di gunung tersebut. Tapi udara kota ini di bulan Mei panas sekali.


Pemandangan dari tebing tiger leaping gorge



Jalan di pinggir tebing hanya dibatasi oleh pagar pembatas tebing. Jadi harus hati-hati. Tak lama berjalan, kami harus melintasi gua batu. Gua batu ini sejuk. Tidak gelap, karena ada lampu.
Perjalanan keluar masuk gua batu ini mungkin sampai 3 kali. Setelah ujung, kami baru bisa melihat dari kejauhan batu tiger di sisi kanan penglihatan kami disertai arus deras sungai. 

Terus terang ini biasa saja. Pemandangan arus deras sungai warna coklat dilengkapi oleh sebuah batu pahatan berbentuk tiger atau macan. Sementara dari seberang ada tempat seperti balkon yang bisa melihat batu tiger dari jarak lumayan dekat. Ditempat itu banyak orang berkerumunun untuk foto tepat depan batu Tiger. 
Kami tidak tahu ternyata ada 2 tempat untuk bisa melihat batu tiger tersebut. Dari samping dan dari depan. Mungkin lihat dari depan biayanya beda. Rute perjalanannya pun beda. Dari tempat kami berdiri, masih ada jalan menuju ke bawah. Dimana kita bisa melihat sungai dari dekat. 

Aku dan teman-teman memutuskan tidak melanjutkan perjalanan sampai bawah. Kami cukup puas memandang dari atas. Duduk di dalam gua bersama keluarga yang ikut tour dengan kami. 

Melihat tebing-tebing terhampar di depan kami, dan sungai dibawahnya, kita bisa tahu kalau jarak tertinggi dari ngarai ke puncak tertinggi gunung adalah hingga 4,000 meter. Ceritanya dulu ada macan diburu pemburu. Macan dan pemburu itu saling kejar-kejaran. Sang macan berlari dan mendapati tidak ada jalan lagi, karena dibawahnya terdapat arus sungai yang sangat deras. Dengan perjuangannya, sang macan melompati sungai yang lebarnya 25 meter itu. Dia tahu itu adalah titik jarak terpendek untuk bisa sampai ke sebrang sungai. Maka begitulah legenda sang macan, yang dinamakan Tiger Leaping Gorge.  

Awal masuk gua batu
Dalam gua batu
Rickshaw menarik masuk sampai dalam gua
Ini pemandangan dari atas kami, melihat batu Tiger disebelah kanan. 
Keliatan gak Tiger nya?
Setelah jalan-jalan ke semua itu, mini bis CCT mengantar kami ke depan hotel. Di hotel, kami ngobrol-ngobrol dengan pemilik hotelnya, seorang om yang murah senyum dan sangat ramah. Dia mengajak kami duduk. Pelayannya ingin menjamu kami dengan teh. Kami duduk-duduk dan temanku memberi uang Indonesia. Pelayan hotelnya senang dengan uang Indonesia, padahal nilainya Rp 10,000. Tak lama kemudian si pemilik hotelnya mau juga uang Indonesia. Dia mau menukarnya dengan RMB. Ya sudah terjadilah transaksi penukaran uang. Kami menerima uang RMB, si bos hotel menerima mata uang Indonesia. Dia sangat suka sekali dengan uang nya Indonesia. Bagi mereka mungkin mata uang kita unik banyak angka Nol nya. 


HUTAN BAMBOO - LIJIANG - YUNNAN

Hari #6 LI JIANG 
(Lijiang, Yunnan, China - Hari#2 bag.2)

Poin kedua dalam hari ke-2 kami di Lijiang setelah tadi Yangtze River adalah Hutan bamboo - Sāngǔ shuǐ qiān shuǐ zhài (三股水千水寨). Kami masuk bayar lagi 80RMB/orang. Kata group leader nya tempat ini jarang dikunjungi turis. Kami masuk sini karena tadi ada keluarga dalam group kami naik perahu. Perahu tersebut mengantar mereka sampai satu sisi sungai untuk bertemu. 

Di hutan bamboo ini kami melintasi sungai dan air terjun, tempat ini bahkan di klaim sebagai tempat paling indah se Li Jiang. Ada batu pahatan dengan tulisan 丽江最美丽的地方 (Lìjiāng zuì měilì dì dìfāng), artinya Tempat paling indah se LijiangHawanya sejuk. Kami foto-foto dan menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan indah ini. Yang paling membahagiakan adalah banyak orang menjual buah disini. Apel, stroberi, blueberry, tomat, dan lain-lain. Aku beli stroberi sekantong seharga 5RMB dan banyak isinya. Aku cuci stroberinya dekat sungai situ. Berjalan sambil makan stroberi dan bluberry, melintasi sungai-sungai, bambu-bambu, air terjun, batu-batu, sawah. Nikmatnyaa……Enaaak sekali!



Perjalanan ke Hutan Bamboo
Hutan Bamboo
Lìjiāng zuì měilì dì dìfāng
Sebelum menuju poin ke-3, kami sempat masuk dulu ke museum Chamagudao (茶马古道). Disini semua informasi tentang perjalanan jalur sutra jaman sejarah. Ada pelana kuda yang dulu digunakan; ada 12 shio; dan informasi lainnya tentang barang-barang yang dipakai suku NAXI. Kami ke atas aula museum itu, bertemu penduduk local (penjaga museum itu – mungkin) sedang makan. Mereka menawarkan kami makan. Ramah sekali. Sayang sekali waktu kami tidak cukup banyak, jadi kami hanya menghabiskannya dengan foto-foto. Itu pun ketika kami berada di atas museum, melihat peta di sepanjang dinding kira-kira 5 meter dengan cerita perjalanan jalur sutra di dalamnya, tiba-tiba group leadernya teriak dari bawah suruh kami keluar. Haha…kayak anak kecil. Kami tadinya nggak yakin nama kami yang dipanggil, tapi baru ngeh ketika dia memanggil dengan “Hey 3 orang yang ikut tur kita, turun, waktu sudah habis!” Buru-buru sambil tetap foto-foto kami turun.

Museum Chamagudao






YANG TZE RIVER - LIJIANG - YUNNAN

Hari #6 LI JIANG 
(Lijiang, Yunnan, China - hari#2 bag.1)

Jam 8 kurang kami sudah menunggu tepat di seberang hotel. Tour agent CCT katanya akan menjemput aku dan teman-teman pukul 8. Kami harus tepat waktu. Konfirmasi tempat disampaikan oleh resepsionis hotel tempat kami menginap. Rencananya hari ini kami akan menuju Yangtze River dan Tiger Leaping Gorge (Hutiaoxia Zhen).
Namun sudah setengah jam menunggu dan melihat nomor-nomor plat bis dan mobil van yang lewat,  tak satupun nomor tour agent kami. 

Tips: Untuk tahu mana kendaraan yang akan digunakan, perhatikan plat nomor bis atau mobil van yang akan jemput. Informasi akan disampaikan oleh tour agent melalui telpon. 

Aku usul ke temanku lebih baik kita telpon saja agent tour nya. Ini tantangan karena kami tidak ada yang pegang nomor China. Kerennya temanku adalah dia cari orang untuk pinjam HP. Ada seorang om baik. Alhasil 15 menit kemudian sebuah mini bis menghampiri kami. Kami naik dan duduk paling depan. Belum ada orang lain yang dijemput. 

Mini bis jalan lagi, tak lama menepi di pinggir jalan dan menunggu orang lain untuk dijemput. Tak lama ada polisi menilang supir mini bis kami. Entah apa permasalahannya. Setelah urusan dengan polisi selesai, supir teriak dengan wajah masih marah, karena sehabis di tilang ke arah penumpang, “Semuanya pakai sabuk pengaman!” Kita semua langsung pakai sabuk pengaman. Sungguh luar biasa, disini penumpang (orang yang bayar tour agent) takut sama supir atau yang menjual jasanya. 

Mini bis jalan lagi. Tak lama supir mengisi bensin.  Aku sudah tidak tahan mau buang air kecil, tapi sedikit cemas kalau turun. Orang-orang sini kalau kerja cepat. Jadi kalau belum saatnya turun, biasanya group leader tidak akan memberi kesempatan untuk turun atau bahkan ke WC, karena akan buang waktu. Ketika ada kesempatan berhenti sebentar, aku ragu-ragu mau turun. Aku lihat group leader nya dan tanya, “Boleh ke wc nggak?” Dia bilang boleh. Aku langsung turun dengan cepat dan menyelesaikan semuanya. Aku diketawain temanku…kok mau ke wc aja takut-takut gitu sih? Hahaha…iya, abisnya tour leader china galak, jadi takut :D.

Selama perjalanan, group leader mempresentasikan semua tentang Lijiang: penduduknya, tempat-tempat favoritnya, sejarah, dan lain sebagainya. Seperti biasa saat group leader mulai berceramah, aku pun larut dalam mimpi.

Poin pertama turun di Yangtze river first bend (Sigudiyiwan) di sungai Yangtze.  Setelah mendengar sejarah sungai Yangtze, kita akan lebih bisa menghargai tempat ini. Tempat ini juga dinamakan sungai titik balik, dimana kalau tidak bengkok,  sungai ini akan mengalir hingga ke Vietnam dan Myanmar. Dengan ada titik balik ini China selatan jadi makmur, termasuk daerah Shanghai. Dengan kata lain Yangtze river first bend ini mengubah sejarah seluruh China. Letak titik balik ini dikelilingi oleh pegunungan. 

Tidak berhenti disitu saja, Yangtze river first bend ini menjadi tempat tokoh-tokoh penting sejarah China dalam membuat perubahan hidup. Contoh tokoh besar yang melewati sungai ini adalah Zhugeliang. Zhugeliang adalah penasihat Raja Liubei dalam sejarah Samkok (Kisah 3 negara) di China.  Karena melihat letak geografis titik balik sungai Yangtze ini, Zhugeliang dapat memenangkan peperangan. Bukan hanya Zhugeliang tokoh penting dalam sejarah China, melainkan sungai ini juga pernah dikunjungi Kubilai Khan. Terakhir pernah menjadi tonggak sejarah pasukan merah (pasukan komunis China).

Karena sedemikian pentingnya tempat ini bagi sejarah China, tempat ini dijadikan tempat yang menarik dan dihargai sebagai tempat kemenangan dan kemakmuran. Waktu berfoto di depan sungai ini pun gayanya harus dengan jari bentuk V, dengan begitu biarlah kemakmuran dan kemenangan menyertai hidup kita seterusnya.



Yangtze river first bend



Pose V for Victory di Sungai Yangtze 



Thursday, 19 May 2016

LASHI LAKE - LIJIANG - YUNNAN

Hari #5 LI JIANG 
(Lijiang, Yunnan, China - Hari#1 bag.1)


Setelah trek kuda 1,5 jam, dan perjalanan dilanjutkan lagi. Kami masuk ke dalam sebuah rumah penduduk. Tiba-tiba feelingku merasa nggak enak.

Benar saja..kami ditawari minum teh. Bukan teh biasa..si pelayan memberi presentasi untuk kami bertiga. Kami dibawa masuk ke ruangan, dan dia mulai bicara, “Saya disini untuk menjelaskan teh dan kebudayaan suku NAXI, itu sudah menjadi tugas saya. Kalau tidak mau beli tidak apa-apa, tapi ijinkan saya mempresentasikannya dulu sama kalian semua untuk di dengar.”

Kami duduk santai dan menerima secangkir demi secangkir teh. Dari teh yang bermanfaat untuk sakit tenggorokan, sakit sembelit, tidak enak badan, dan lain-lain. Basic teh nya adalah Pu’er. Yunnan terkenal dengan teh Pu’er. Teh Pu’er yang semakin lama disimpan (mengalami fermentasi) akan seperti anggur, manfaat untuk kesehatannya akan semakin besar. Mereka menamakannya Shu cha. Bau teh nya menurutku agak tengik. Biasanya teh Pu’er yang bagus itu yang lebih dari 5 tahun. Sementara teh Pu’er yang biasa kita minum namanya Shengcha.

Aku pikir minum teh tidak baik untuk sakit maag atau masalah pencernaan, tapi pelayannya menjelaskan minum teh baik manfaatnya untuk sakit maag, asal tahu kapan minumnya, pada musim apa, dan tidak berlebihan. Hasil akhir kami keluar membawa sekantong paket teh.
Aku paling tidak tahan mendengar teh. Ya sudahlah…


Tawaran Teh dibungkus oleh jamuan teh
Pelayan yang menjamu teh (penjual teh)

Presentasi teh selesai, kami menuju objek wisata terakhir, LASHI LAKE. Jadi uang 1,080RMB tadi mengantar kami sampai ke LASHI LAKE. 

Tapi buat teman-teman yang baca blog ku ini, kalau mau wisata kesini, mending pakai tour agent local yang dibeli di kota. Harganya sekitar 80RMB. Tapi jangan salahkan tour agent nya kalau kalian dibawa ke tempat-tempat belanja. Gak papa juga sih, sekalian mengenal budaya dan barang china di satu daerah itu apa. Asal bisa tahan diri untuk tidak membeli barang tidak penting dan tidak berguna dengan uang yang mahal saja :D.

Kami bertiga naik perahu bersama tukang perahu mengelilingi danau ini. Danau ini banyak sekali rumput air. Dekat situ ada eceng gondok juga, dimana ada nelayan memancing. Pemandangan sekeliling kami adalah gunung dan sawah. Ditengah –tengah danau, si tukang perahu akan menggoyang-goyang kapalnya. Kami pikir itu ada arti apa gitu, eh ternyata itu hanya untuk iseng…penyambutan bagi tamu yang mengunjungi desanya dan memandangi pemandangan indah tempatnya.


LASHI LAKE

Tukang perahu kami di Lashi Lake

Lashi Lake

Selesai dari sana kami kembali ke taxi di tempat parkir dan total yang harus kami bayar 80RMB. Supir taxinya baik banget. Tadinya jam 4 dia harus jemput anaknya di sekolah, tapi karena harus menunggu kami dari jam 2 tadi, dia merelakan anaknya dijemput oleh saudaranya. Kami balik lagi ke kota. Ada seorang wanita suku asli NAXI yang menumpang di taxi kami. Dia bercerita banyak tentang sukunya. Dia hendak turun di tengah-tengah perjalanan kami. Banyak hal yang dia beritahu, seperti makanannya, tempat wisata yang seru, orang-orangnya, dan lain sebagainya.

Kami diantar oleh supir taxi menuju ALEJIU. Tempat makan ini terkenal. Kami makan dulu disitu, baru kemudian jalan kaki menuju kota tua LIJIANG.  Sebelum sampai kota tua, kami pergi ke tour agent dulu untuk tanya-tanya seputar wisata ke Tiger Leaping Gorge (Hutiaoxia Zhen). Kami dapat harga 150RMB menggunakan jasa tour CCT (China Comfort  Travel). Aku rekomen banget tour agent ini. Mereka professional, bahkan menggunakan surat kontrak untuk bawa kami jalan-jalan. Mereka juga berjanji tidak membawa kami ke tempat-tempat perbelanjaan. Menurutku harganya murah, karena kalau dibandingkan dengan tour lainnya, untuk jalan-jalan ke Tiger Leaping Gorge dan sekitarnya minimum 200RMB.

Tadinya reseptionis tour, seorang pria berbadan agak gemuk dan mukanya agak chubby itu tidak mau menerima kami karena kami bukan penduduk China asli. Tapi setelah memelas, mereka mau juga menerima kami menggunakan ID Passport. Untunglah dia baik sekali.
Kami akan jalan-jalan mulai besok pagi jam 8. Dia akan menghubungi kami untuk memberitahu dimana tempat kami menunggu. Sayangnya tak ada satupun dari kami yang punya no HP China. Jadi dia akan kontak tempat hotel tempat kami menginap. 

Kota Tua Li Jiang


Kota tua LIJIANG tak beda jauh dengan kota tua DALI.  Banyak makanannya. Banyak yang jual alat music yang sama, lagu-lagu diputar juga sama. Banyak toko-toko souvenir, dan ada satu jalanan isinya diskotik ala china kuno. Disitu banyak bule nya. 

Pemandangan Kota Tua Lijiang di malam hari








CHAMAGUDAO - LIJIANG - YUNNAN

Hari #5 DA LI – LI JIANG 
(Lijiang, Yunnan, China - Hari#1)

Pagi ini kami sudah bersemangat berkemas-kemas dan merapikan segala barang. Hari ini dari kota DALI kami akan menuju kota LIJIANG.
Naik bis dengan harga 85RMB/orang. kami pesan bisnya dari sebuah agen tour local China. Sebelum berangkat aku dan teman-teman sempat sarapan dulu. Sarapan kali ini sangat sederhana, hanya sepiring telur dadar. Tapi ini bukan telur dadar biasa, karena isinya bukan pakai bawang merah atau sosis atau jamur, tomat, dan lain-lain. Telur ini menggunakan bunga mawar sebagai isinya. Bunga mawar menjadi makanan khas Yunnan. Bunganya wangi dan digunakan untuk berbagai macam bentuk olahan makanan. Rasanya seperti telur pada umumnya, rasa mawarnya juga tawar. Harganya 28RMB.

Telur isi mawar


Bahan mentah Mawar nya untuk Telur
Aku juga sempat jalan-jalan dulu di sekitar toko sana untuk beli sepatu yang lucu seharga 40RMB (setelah nawar).
Kami diantar mini van menuju bis di pinggir jalan. Disitu ada beberapa orang lainnya dari agen tour berbeda-beda menunggu bis yang sama.
Orang tournya sangat ramah dan membantu. Dia bilang tasnya jangan dibawa sendiri, nanti biarin orang bis nya yang angkut masuk bis. Kami menurut saja. Kami masuk bis dan duduk paling belakang. Kenapa aku suka duduk paling belakang? Karena kalau tidak dapat di depan, ya belakang saja. Kata supir di DongChuan, duduk di bis itu paling nyaman kalau gak di depan ya di belakang. Di tengah itu anginnya kurang bagus. Aku sih percaya aja. :D

Perjalanan ke kota Lijiang dari Dali sekitar 2 jam. Tidak lama, sampai akhirnya kami sampai di terminal dan menemukan taxi. Temanku ngobrol-ngobrol dengan supir taxi nya apa yang menarik di Lijiang dan lain sebagainya. Singkat kata, dia bersedia menemani kami menuju  chamagudao (茶马古道). Objek wisata di Chamagudao adalah mengenal budaya penduduk setempat, “suku NAXI” (baca: nazi). Kendaraan sehari-hari suku ini adalah kuda. Aku suka sekali berkuda. Di Chamagudao kita bisa mengenal jalan sutra, dimana dulu perdagangan China dengan Nepal, Tibet, dan daerah-daerah dekat sana melalui jalan ini dan dengan berkuda. Jadi kudanya digunakan untuk membawa barang, sementara orangnya jalan kaki. Makanya kuda-kudanya jalannya pelan dan pendek-pendek ukurannya.

Kami diantar dulu ke hotel gu dao yan yu inn (古道烟雨客栈)per malam nya 78RMB. Kami bayar taxi nya 15RMB. Cukup murah. Dia menunggu kami check in dulu. Ada seorang wanita menunggu kami dekat dengan taxi. Wanita itu adalah pekerja hotel tempat kami nginap. Dia ingin menunjukkan jalan ke hotelnya. Tadi kan kami telpon dulu, karena kami tidak tahu hotelnya dimana. Dia sangat ramah dan baik sekali. Senyumnya manis sekali dan tulus. Dia membawakan tasku dan naik ke atas. Ada jalan yang harus didaki dulu melalui tangga, dan itu lumayan tinggi. Sepertinya 50 meter lebih. Naiknya aja udah setengah mati rasanya. Buru-buru check in dengan berbasa-basi karena konsepnya hostel. Orang-orangnya ramah. Mereka mengajak kami ngobrol. 1 kamar besarnya ada 2 ranjang double bed.
Setelah selesai siap-siap, kami langsung menuju kembali ke bawah , tempat taxi nya menunggu. Supir taxi mengantar kami ke chamagudao. Di sana kami melalui jalanan kota lama lijiang. Jalanannya biasa saja, dan sedang banyak pembangunan. Ini seperti jalan ke puncak, tapi di daerah jawa gitu, kalau di Indonesia.

Sampai chamagudao kami terkejut setelah tau untuk naik kuda trek terdekatnya harganya 600an RMB, kami ngambil yang medium dengan harga 1,080RMB. WOW ya! Jumlah yang sangat besar untuk wisata berkuda disini. Sebenarnya kita bisa dapat harga lebih murah kalau beli melalui internet atau melalui agen tour, tapi kita tidak ada pilihan karena sudah sampai. Dan ok lah kami setuju dan tidak bisa ditawar, karena di paket tour nya kita tidak akan digiring untuk belanja, katanya. 

Jalan naik kuda disini sungguh pelan. Pelan-pelan kami melewati gunung, sawah, jalanan kecil, dan rumah – rumah penduduk suku NAXI. Sambil jalan sambil dijelaskan oleh penuntun kuda kami, seorang Ibu. Tentu saja aku tidak mengerti apa yang dia katakan, kalau sudah cerita sejarah. Yang jelas dulu tempat ini pernah dijajah oleh suku mongol. Makanya budaya berkuda itu masuk dalam kehidupan mereka. Mereka juga menilai pria yang tampan adalah pria dengan wajah bulat, perut bulat, dan pantat bulat. Kalau dapat pria seperti itu, kehidupan sejahtera selalu melingkupi.



jalanan kota Lijiang dekat hotel gu dao yan yu inn
Peta perjalanan jalur kuda di Chamagudao

Pemandangan awal perjalanan ke jalur sutra

Pemandangan kuda-kuda

Daerah kuda yang kami lewati

Daerah kuda yang kami lewati

Jalur kuda perdagangan




Secuplik Makanan DALI (Bagian Bonus)

Perjalanan ke negeri China ini takkan lengkap kalau tidak kulineran. Makanan-makanan kecil khas kota ini bisa menjadi pertimbangan untuk dicicip. Tidak semuanya enak, rasanya ada yang pedas, ada yang manis, ada yang hambar...
Ada yang belinya di sekitaran tempat wisata, ada juga di kota tua.  


Kentang goreng - rasanya asin pedas
Ini Cake walnut mawar. Packaging-nya bagus. Isi dalam kue nya ada bunga mawar. Tekstur kuenya dari walnut. Rasanya enak. Makannya selagi panas. Ini mirip-mirip Poffertjes. Cake ini banyak di kota tua DALI.
Cake Walnut Mawar
Makan malam di kota tua DALI. Ada mapo tahu, sup ayam kampung,


Huang Liang Fen. Setelah makan rasanya pedes-pedes. Biasa saja
Liang Fen


Pertunjukkan menarik gula. Sebelum di tarik, di pukul-pukul oleh 2 orang dan memakai irama musik
Gorengan keju. Toping bunga mawar. Setelah dimakan, menurutku rasanya kurang dari biasa :(

Gorengan Keju




Wednesday, 18 May 2016

Kota Tua DALI, YUNNAN bag.2

Hari #4 Jalan-jalan di DALI GuCheng 大理古城 (Baca: TALI KuCheng)
Trip mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan unik di kota DALI 

Ada 3 tempat yang ditawarkan Ibu calo dalam paket berwisata. CHANGSHAN, ERHAI, dan mengenal suku minoritas suka Bai.
Di depan gerbang bagian selatan ada peta ini, siapa tahu berguna..
Perjalanan 30 menit menuju Changshan tidak terasa, guide tour berceramah di depan, aku dan teman-teman tertidur. Turun dari bis kami langsung antri menuju cable car. Untungnya bukan musim liburan China, kalau ya, kemungkinan panjang antriannya bisa 2km.
Untuk naik ke atas gunung bisa jalan kaki, bisa juga melalui cable car. Karena sudah bayar dan waktu tidak memungkinkan, lebih nyaman naik cable car lah ya…10 menit sudah sampai di atas. Cara naiknya pun unik. Cable car tidak akan berhenti hanya untuk melayani kita naik pelan-pelan. Roda mesinnya  terus berputar. Jadi kita akan diarahkan ke garis yang sudah ditandai oleh petugas. Begitu cable carnya menghampiri, kita langsung naik masuk ke dalam dan pintu di tutup. Dalam hitungan detik dan tanpa sadar aku dan temanku sudah berada di atas cable car menuju gunung. 
Aku sendirian dalam 1 cable car. Padahal sebelumnya aku melihat seorang pria berusia (mungkin) kira-kira 35 tahun yang juga sedang melakukan trip sama dengan kami. Wajahnya lumayan. Dia orang China asli, membawa kamera DSLR yang kelihatannya berat dan professional. Aku penasaran apakah dia wartawan ya.. dia seorang diri. Aku pikir cable car ini harus berdua (China kan gak mau rugi), tapi ternyata gak papa sendirian. Ya sudah...lagipula ketika melihat jari tangannya sudah menggunakan cincin..sebaiknya aku mundur aja deh.. Dan ya akhirnya aku memilih sendiri saja. 


pemandangan cable car dari atas

Pemandangan dari atas cable car 
Pemandangan dari atas gunung 



Pagoda di foto dari bis



Turun dari cable car kami diperhadapkan jalanan yang menjual souvenir. Dekat dengan pintu gerbang menuju gua. Depan gua ada naganya. Masuk ke dalam terdapat banyak sekali stalaktit dan stalakmit. Bedanya yang satu menggantung kebawah, yang satu menjulang keatas.  Sebenarnya di Indonesia juga banyak gua yang banyak stalaktit dan stalakmit nya. Hanya saja pintarnya wisata di China ini, mereka tahu cara memanfaatkan tempat wisatanya menjadi tempat yang istimewa dengan ceritanya. 

depan gua 

Batu-batu tersebut ditandai dan diberi nama sesuai pengkhayal batu nya. Misalnya ada yang bentuknya seperti Dewa kebahagiaan, permata malam, kucing diatas pohon, dan lain sebagainya. Aku jadi punya impian jadi ahli pemberi nama batu-batu. Yang dibutuhkan hanyalah daya imajinasi yang kuat terhadap apa yang dilihat. haha....

O di gua ini, kita tidak perlu senter untuk menikmati batu-batu ini. Di dalam gua sudah ada lampunya dan berwarna warni. Hijau, biru, merah...So romantic! 
Temanku Linda bilang, kalau ada lagunya nih tempat sudah mirip diskotik. Ya benar juga…

Ada yang unik waktu naik dan turun tangga yang terbuat dari batu-batu di dalam. Tiba-tiba saja ada antrian di dalam gua yang dingin itu. Ada seorang photographer di depan sebuah batu dewi lengkap dengan lighter dan peralatannya. Gua ini pernah dijadikan lokasi syuting film Jimmy lin dengan judul  ‘Demi gods and Semi devils’ (Tian long ba bu). Jadi kita sengaja dibuat antri, trus masing-masing orang bergaya di depan patung tersebut. Petugas mengatur jalannya lalu lintas foto. Photographer dari petugas wisata mengambil gambar satu persatu turis yang bergaya. Nah kalau sudah keluar gua nanti, mau ambil foto cetaknya bayar 10RMB. Bisnis yang menarik. Di dalam gua loh…bukan hanya ada 1 spot melainkan ada 3 sampai 4 spot foto. Kan kalau foto sendiri belum tentu hasilnya sebagus photographer tadi dengan peralatan dan lighting nya.

Keluar gua ada gembok-gembok tergantung dan jumlahnya banyak. Mungkin orang-orang gak tahan kali ya kalau ngelihat pagar-pagar gitu pengennya ngasih gembok-gembok buat menandai hubungan cinta mereka. Nah itu juga bagus sekali karena ada bisnis gembok deh akhirnya.  Dari jalanan berbatu pafing block, kita bisa melihat kota DALI dari atas. Ada danau ERHAI. Dalam bahasa mandarin disebutnya laut. Padahal itu danau. Mungkin karena mereka jauh dari laut kali ya, danau pun disebut laut. 

Gembok-gembok penanda cinta

Perjalanan selanjutnya kita dibawa ke tempat barang-barang perak. Tempatnya bagus dan mewah. Ramai sekali. Mereka akan menggiring kita masuk dan tidak akan dibiarkan kita keluar sendiri. Seperti di sekap dan secara halus dipaksa beli. Mereka akan memberi tahu kita kegunaan barangnya. Mana perak yang asli dan palsu. Bahkan aku sempat tertarik mau beli tumbler yang terbuat dari perak. Mereka menyakini kalau minum dari tumbler ini kita tidak mudah sakit. Makan perak bagus. Selain buat kesehatan, juga untuk menolak bala. Keberuntungan. Kemakmuran.

Tak tanggung-tanggung. Bukan hanya perak saja, mereka membawa kami ke tempat penjualan batu giok. Giok melambangkan keagungan, kekayaan, dan keberuntungan.  Bisa juga melambangkan status seseorang atau kekuasaan seseorang. Kalau cewe sudah punya giok di tangannya, berarti sudah menikah.  Status pernikahan ditunjukkan oleh sebuah gelang ditangan seorang wanita, bukan dari cincinnya.

Perak sudah, giok sudah, yang terakhir diajak berbelanja teh. Teh dari suku minoritas khusus daerah DALI. Jadi kami masuk ke sebuah rumah, yang kami kira suku minoritas sana. Dan memang benar pakaiannya begitu. Di sekap dalam 1 ruangan. Kami diminta mendengarkan ceramah tentang teh dan disuguhkan rasa-rasa teh khas mereka. Cara mereka presentasi sungguh luar biasa mengugah perasaan.  Teh untuk kesehatan. Rasa dan aromanya sungguh khas. 4 botol kecil harga 100RMB. Dari semua barang yang ditawarkan tidak ada yang kami beli, hanya teh yang akhirnya aku beli. Gak tanggung-tanggung beli 3 box, sampai disuruh tunggu sama petugasnya. Ternyata mereka mau nawarin lagi... Kami langsung kabur...

Pertunjukkan mana perak asli dan palsu. 
 Selain ditawarkan berbagai macam benda untuk dijelaskan, kami juga dibawa ke danau ERHAI. Sampai di ERHAI, kami naik perahu seperti gambar dibawah. Pemandangan gunung-gunung, rumah-rumah penduduk tepi danau. Sayangnya kami tidak sempat menginap di pinggir danau, melihat penduduk lokalnya dan menikmati kebudayaannya.  Kalau ada 1 hari lagi itu harus dicoba. 
Perahu untuk lihat-lihat ERHAI


Malam di kota tua...
Nah jalan-jalan ke dalam area kota tua DALI sore hari. Cuaca mendung. Dalam kota tua ini mirip kota tua di daerah-daerah China lainnya. Mereka sangat melestarikan kota tua. Ada 4 gerbang dari selatan, utara, barat dan timur. Kalau sudah masuk agak sulit keluar dari gerbang yang sama. Dalamnya kota ini besar dan banyak gang-gang nya. Kami sempat agak-agak kusut keluar dari gerbang yang sama, kecuali nanya-nanya orang.
Kalau nanya orang dijawab jutek, percayalah itu pasti bukan orang lokalnya. Itu mungkin orang dari daerah lain di China. Penduduk DALI nya sendiri ramah-ramah.

Aku lihat kanan kiri. Toko-toko yang menjual barang-barang yang serupa. Baju-baju; makanan siap saji; makanan kecil, Teh-teh, penjual alat musik seperti Tifa. Jadi penjualnya menggunakan pakaian tradisional memukul Tifa sambil bernyanyi mengikuti irama musik yang diputar melalui CD. Intinya mereka jualan CD lagu. Tapi yah tidak menutup kemungkinan kalau mau beli alat musiknya juga bisa. 
Jadi pas kita lewat toko CD musik itu, kita akan diperdengarkan lagu khas Yunnan. Sampai pulang aku masih terngiang-ngiang lagunya. Untung aku beli. Tapi beli CD nya di luar kota tua - lebih murah, aku belinya di Lijiang. Lagu-lagunya enak didengar.

Ada yang unik disini. Makanan kecilnya ada pai bunga mawar. Wangi mawar, tapi kalau makan mawarnya sendiri agak tawar.

Ada lagi...Disini kan banyak yang jualan baju, model bajunya terusan dengan cardigan dari bahan wol berwarna coklat. Di mana-mana para turis memakai baju ini. Jadi kita bisa lihat banyak orang pakai baju kembar. 

Yang paling menakjubkan adalah toiletnya. Jangan berprasangka buruk dulu. Justru ini yang paling aneh, toilet nya berbentuk gedung seperti hotel dengan arsitektur bangunan China kuno. Di depannya ada reseptionis penjaga, bahkan ada buku tamunya. Aku bingung ini toilet bayar gak ya…tapi orangnya dengan ramah memberitahu lantai bawah khusus untuk pria, lantai kedua untuk wanita. Kami masuk dan lihat-lihat. Wow toiletnya bersih dan nyiram otomatis.

Puas jalan, kami kembali lagi ke hotel yang sama malamnya. Padahal rencananya kami harusnya sudah jalan ke Lijiang mala mini, tapi gak sanggup, udah kemalaman dan cape banget rasanya. Jadi kami ketuk-ketuk pagar hotelnya, dan teriak-teriak minta masuk. Ini hotel apa kos-kosan ya… aneh banget mau masuk hotel seperti mau masuk kos sendiri tapi gak bawa kunci pagar. 

Mendung ya?
Suasana di kota tua DALI
Di kota tua menari tarian khas DALI. Anak-anak juga ikutan menari. 

Penabuh Tifa

jualan sepatu

jualan minuman santan kelapa. Tidak ingin kuminum. Khawatir rasanya