Showing posts with label cerita bodoh. Show all posts
Showing posts with label cerita bodoh. Show all posts

Saturday, 21 September 2013

Thanks Tukang Gelato di Stasiun Milan, Italy

Perjalanan terakhir kunjungan ke negara-negara Eropa. Saatnya pulang kembali ke bandara di Milan. Kali ini bandaranya yang cakepan. Karena pesawat pulang kami dari Milan ke Jakarta menggunakan ETihad Air. Pesawat yang sama dengan yang pergi.

Kami menunggu kereta ke bandara dari stasiun Milan. Dari beberapa hari lalu di Negara Italy ini saya belum mencoba Ice cream ala Italy yang namanya Gelato.
Kebetulan di Stasiun ini ada yang jual. Saya kepengin. 
Fei menyakinkanku kalau Gelato yang enak itu bukan beli di Stasiun tapi di kota yang sebelumnya dia sudah search dan ada di itenary kami. Hanya saja tidak sempat makan, karena setiap kali mau makan sudah kenyang. Kalau gak kenyang keadaan tidak memungkinkan karena udara dingin makan es krim rasanya mau mate sajah.

Ok akhirnya kami memutuskan makan gelato di stasiun ini saja. Harganya 2.5€. Fei mengeluarkan semua uang receh dan hanya ada 2.48€.
Saya bilang padanya mungkin kita bisa beli dengan uang segitu. Hmmm..terdengar tidak masuk akal.
Tapi saya bilang, bilang aja kita Cuma ada segitu, masa sih gak dikasih? Hmm terdengar kayak gembel.
Ok Fei mencobanya dengan berat hati. Akhirnya kami mendapatkan Gelato asli Italy dengan harga 2.48€, yang aslinya 2.5€. Yah apalah artinya 0.2€.

Padahal denger cerita Fei, dia sempat mengeluarkan 10€ nya. Dan pelayannya baik memberi kami dengan harga yang kurang dari label tertera, karena agak malas kembaliin receh. :D


Thanks tukang Gelato di Italy! Saya dapat Gelato! Nyam!!!

Wednesday, 18 September 2013

Akhirnya bisa sewa Hotel di Bologna, Italy

Akhirnya dari semua perjalanan kami di salah satu negara menclak menclok di Eropa, hanya di Bologna lah kami menginap di sebuah hotel.

Hotel di sini harganya tidak terlalu mahal. Kami menginap di Hotel Caroline dengan harga per malam 60€.

Dari stasiun Firenza ke Bologna memakan waktu sejam.
Dari peta, hotel Caroline tidak jauh dari stasiun di Bologna. Kami memutuskan jalan kaki. Dengan mengerek-gerek koper menjauhi pusat kota di stasiun menuju jalan yang tidak kami ketahui benar atau tidaknya. Ini semua berdasarkan insting dan peta saja.

Tiba-tiba di tengah jalan seorang Nci-nci asli Cina dan kepo bertanya menggunakan bahasa mandarin, 
“Ni shi bu shi zhong guo ren ma?” (Kamu orang Cina bukan?). 
Aku jawab, “Bu shi” (bukan) dengan tergesa-gesa, dudul dan polos. 
Dia Tanya lagi, kamu ngerti bahasa mandarin ya?” 
Fei fei menggeleng. 
Dia bilang lagi, “O gak ngerti ya?” lalu jalan melalui kita. 
Hahaha dudul banget sih, kita baru sadar kok kita bisa jawab semua tapi tuh nci-nci mengira kita tidak tahu bahasa mandarin. Cakep!

Sorry ya tante, abisnya kita sudah ada hotel, gak perlu nginep murah lagi. SOMBONG!

Sombong itu memang harus dikeluarkan di hari-hari terakhir perjalanan di Negara-negara Eropa ini. 

Ini Hotelnya. Not bad kan?
Wcnya terdapat kloset duduk dan juga bidet khas toilet Eropa. Bidet ini sama bentuknya seperti wastafel hanya lebih pendek. Ini digunakan setelah menggunakan kloset duduk seperti biasa, lalu bilas-bilas disitu. Jadi jangan buat minum atau taruh gelas ya? :D


Tuesday, 17 September 2013

Dibantu orang asli China di Milan, Italy

Tidak diragukan lagi kalau hampir 2 Milyar penduduk China tersebar di seluruh pelosok belahan dunia selain Asia. 
Begitupun di Eropa ini, dari awal kami datang di Koln, Jerman, kami sudah mendengar banyak turis China berbicara. Bahkan penjual toko dekat stasiun pun adalah orang asli China. 

Tak disangka malam ini kami dibantu oleh mereka di Milan, Italy. 
Sebenarnya seperti cerita sebelumnya dimana  kami harusnya di Roma malam ini. Tapi karena ada kesalahan teknis maka kami memutuskan dengan cepat menuju ke Milan dengan membeli tiket online dari Barcelona, Spanyol.

Turun di stasiun Milan setelah menaiki bis dari Bandara seharga 10€. Perjalanan kurang lebih 1 jam. Tiba pukul 7 malam. 
Kami belum menemukan tempat tinggal, juga belum tahu mau kemana. Lapar pula. Karena rencana sebelumnya Milan hanyalah sebagai tempat untuk singgah sementara lalu akan lanjut menuju Tirano, Italy untuk menuju Swiss. 

Besok pagi-pagi kami sudah harus berangkat ke Firenze dan Bolognaise. So, malam ini harus tidur dulu di Milan. 
Jalan sana jalan sini keluar masuk hotel dekat stasiun yang aneh dengan lift jadul dan ada pintunya. Lift tidak akan jalan kalau pintu luarnya tidak ditutup kembali. 
Hotelnya masuk ke sebuah pagar besar, dan bentuknya seperti bangunan tua dan ruko. Tempatnya kecil dan rada serem, tapi harganya bisa 150€-200€. 
Untung gak ada yang kosong. 

Ok tidak dapat hotel dekat stasiun, kami mulai jalan lagi menuju luar. Dekat dari hotel ada sebuah bar yang menjual pizza. sudah sampai Italy tidak menikmati pizza rasanya kurang afdol. Tiba-tiba ada sepasang mata menatapku dan temanku terus menerus. Dia seperti orang China. Seorang enci-enci. Aku memutuskan untuk memanggil Feifei dan memintanya mendekati orang China itu. 

Terjadilah diskusi dan perbincangan yang lumayan lama. Aku menunggu tepat di samping pintu bar Pizza itu, melihat barang-barang. Ada seorang wanita tersenyum padaku. Asalnya seperti dari Eropa Timur (tidak jelas). Aku tersenyum balik padanya tanpa punya prasangka. 

Akan tetapi tak lama perasaanku semakin tidak enak dan penuh curiga dengan wanita berambut keriting sebahu menggunakan celana jeans dan jaket berbahan kulit. Dia mondar-mandir di depanku. Matanya terus menatap mataku. Menatap tas-tas kami, sementara aku menunggu Feifei berbicara dengan wanita China. 

Feifei balik ke arahku dan mengatakan bahwa wanita China itu ingin membantu kami mendapatkan penginapan melalui koneksi teman-teman Chinanya di daerah situ. Dia mau membantu karena anaknya saat ini ada di Amerika kuliah, jadi kasihan melihat kami berdua. Stasiun Milan juga terkenal tidak aman dan banyak copet. Banyak orang tidak baiknya. 

Wanita itu juga mengatakan hati-hati dengan barang bawaan kami, karena wanita yang melihati kami terus menerus tadi bersama rombongannya di samping pintu kananku menunggu. Ternyata banyak juga kawanannya. Ngeri!!

Wanita itu mau membantu karena Feifei berbohong kami dari China Selatan. Sesama orang China biasanya saling membantu. Hanya saja orang China utara tidak suka bergaul dengan orang China Selatan, karena dianggap licik. Tapi untungnya ada sebuah keluarga yang mau membantu memberikan tempat tinggalnya di sebuah rumah susun untuk kami tidur semalam saja. Dia memberi harga 10€ per orang, jadi 20€ untuk kami berdua. 

Bapak yang berasal dari China utara itu menjemput kami berdua dengan berjalan kaki. Ternyata dekat dari stasiun itu. Kami pun bersyukur sudah lepas dari wanita asal gak jelas yang mempunyai niat jahat itu. 

Rumah keluarga China tersebut seperti sebuah apartemen (baca: rumah susun sih), jadi tidak terlalu luas. Mereka mempunyai 3 kamar. Hmm..1 kamar sih aslinya, karena 2 kamar dibuat diluar dengan sekat lemari. Kami tidur di ranjang suami istri tersebut yang disekat lemari.
Istrinya menawari makan mie. Aku setuju karena memang daritadi lapar sekali. Bayar 20€ dapat tidur sementara dapat makan pula. Keberuntungan petualang seperti kami. 

Mie disajikan diatas meja samping tempat tidur. Aku dan Feifei makan dengan sangat pelan dan saling tidak bicara. Aku khawatir kalau berbicara bahasa Indonesia mereka akan curiga. 
Sudah mau selesai mienya, si suami yang duduk di depan kami berkata, "Wei kalian orang China makan mie anteng banget!" "Udah seruput aja! Ha ha ha.."
Hehe kami jadi tidak enak. Bukan orang China kalau makan terlalu tenang. Biasanya mereka makan dengan ribut. Lagi ngomong aja dengan satu sama lain seperti sedang mengajak berantem. 

Makan selesai. Dilanjutkan mandi. Lalu tidur. Aku menaruh semua uang dan barang berharga di dalam dada. menyelimuti diriku dengan kain yang kubawa dari rumah. Menataki tempat tidur juga. 

Thanks God malam ini selesai juga, dan lanjut esok paginya....
Membawa tas tidak boleh diseret, melainkan diangkat. Mereka takut orang lain tahu kalau kami menginap ditempatnya, karena ilegal. Tempat tinggal mereka tidak didaftarkan sebagai penginapan. Kalau ketahuan, mereka harus berurusan dengan pihak berwenang. 


Ditahan Petugas di Terminal Pesawat Milan

Masih ingat cerita dimana kami ketinggalan pesawat dari Barcelona ke Roma?
Nah cerita itu berlanjut dengan kami membeli tiket pesawat dadakan menuju ke Milan. Karena sudah tidak ada lagi tiket ke Roma dengan harga yang masuk akal.
Ok, jadi kami memesan pesawat no.2 murah di Eropa yang bernama Easy Jet.  Harganya masih masuk akal.
Sorenya kami berangkat dan tibalah di terminal Milan yang kelihatannya paling gembel. Terminal kecil. Menunggu keluarnya tas dari Conveyor dengan sabar. Tas kami keluar paling terakhir.

Ambil barang dan menuju pintu keluar, tiba-tiba petugas terminal menahan kami dan menanyakan berapa uang yang kami bawa?
Hmm…bingung menjawabnya. Kalau bilang uang kecil, khawatir tidak boleh masuk negaranya karena dikira gembel. Kalau uang besar, takutnya kami mau melakukan cuci uang.
Fei teman saya langsung menjawab sekitar 3000 €.
Kami diminta masuk ke kantornya dan disuruh mengeluarkan seluruh uang kami.
Saya pura-pura santai walau sedikit gemeteran, ada-ada saja!
Uang saya dan uang Fei dikeluarkan bersamaan dan hanya terkumpul sekitar 2000€. Kami panik karena takut dikira bohong.
Si petugas bertanya lagi, “Mana 1000€ nya lagi?”
Fei menjawab dengan cepat, “Ada di bank”

Ok setelah itu petugasnya mengeluarkan sedikit joke yang tidak lucu dan meminta maaf karena menahan kami. Kami dibebaskan.
Setelah itu kami bertanya-tanya kenapa di cek ya? Selama ini kami tidak pernah memahaminya.

Ternyata kita harus menandatangani form declare kalau uang yang kita bawa tidak lebih dari 10.000€. Mungkin khawatir cuci uang atau judi, atau…atau…

Sunday, 15 September 2013

Hanya Boleh Membawa 1 Tas Cabin ke RYAN AIR

Paris menuju Barcelona, Spanyol dengan pesawat super murah Eropa, tere reng rereng - RYAN AIR. 
  
Bangun pagi2 sekali buat ke bandara kelas 3 nya paris yg kecil banget. Kami akan menaiki pesawat yang paling murah, Ryan Air - 20€ perorang. Sama dengan harga kalau naik bis. Bayangkan!

Tapi masalahnya adalah kita hanya diperbolehkan bawa 1 tas cabin. 
Ok. 
Tapi aku pergi membawa tas cabin dan 1 tas punggung. Tas kecilpun tidak diperbolehkan. POKOKNYA HANYA 1 TAS CABIN yang bisa memasuki ruang sempitnya 55cm x 40cm x 20cm dengan maksimum 10KG. 

Tak kuasa membawa semua barang dalam 1 tas cabin yang sudah penuh banget, dengan amat sangat terpaksa aku dan Fei fei membuang sebagian barang seperti baju, celana batik pemberiannya, baju tidur yang tebal :(( Hiks. Lalu menggunakan kaos berlapis-lapis, Sweater, tambah lagi jaket tebal. Syal dan segala macam kain diikat dileher dan pinggang. Tas punggung ditaro di dalam perut seperti ibu hamil.
Barang-barang kecil dipaksa masuk ke semua kantong jaket yang ada, keju edam 500gr, goudam 500gr di simpan dalam kantong kiri dan kanan jaket.  Sungguh menyiksa. Demi murah! Hemat dan untuk jalan-jalan. Haha..

Sesampainya di garis pemeriksaan tas, tas saya karena ukurannya agak spesial (baca: aneh, karena barangnya banyak di tekan-tekan) tidak dapat masuk ke dalam alat pengukur ukuran cabin itu. Kami disingkirkan sementara untuk mengatur ulang semua barang di dalam supaya masuk alat pengukur cabin Ryan Air. Kami sibuk membuka koper di tengah orang banyak, mengatur ulang. Tapi tetap saja tidak akan bisa. Sampai akhirnya kami bisa lolos, karena pesawatnya sudah mau take off sebentar lagi dan penumpang disuruh buru-buru. YEAY!!! 

Sampai di pesawat tempat duduk boleh milih kayak di Bis. Duduk sesuka hati. Yang telat silahkan dapat tempat duduk yang mungkin tidak bisa barengan sama teman. Tiket tidak berguna untuk mendata tempat duduk. Siapa cepat dia dapat. Beberapa baris tempat duduk di depan ada seperti Police line gitu . Tidak ada yang duduk, karena yang mau duduk disitu yah dia yang mau bayar lebih mahal. 

Sebentar lagi mau landing, ada bunyi "Tere Reng Re Reng"!!!

Lebih lengkapnya soal barang bawaan bisa lihat di web nya dengan motto yang dielu-elukannya: Cheap Flights http://goo.gl/D5rnLM