Wednesday, 14 October 2015

#5 Jalan dan main di Labuan Bajo, Flores Barat

Hari #5 Perjalanan Ruteng – Lab. Bajo  (Rabu, 14 October 2015)

Kata om Achmad, perjalanan Ruteng ke Labuan Bajo ditempuh dengan jarak kira-kira140km. Labuan Bajo terletak di Barat Flores, dan merupakan pintu masuk untuk jalan-jalan di pulau Komodo dan sekitarnya. Kami jalan dari jam 8 pagi setelah sarapan di hotel. Pemandangan hotel ini lumayan menarik. Dari atas restoran terlihat sawah-sawah menghijau. 

Beda halnya dengan Sawah Laba-laba yang kami kunjungi setelah mobil sudah jalan. Om Achmad mengajak kami melihat Sawah Laba-laba (Spider Field) di daerah bernama Cancar, kecamatan Ruteng.  Untuk melihat sawah laba-laba ini kita masuk dari gang rumah penduduk. Bayar sumbangan. Lalu menapaki jalan setapak ke atas bukit. Lihatnya dari atas. 
Sawah laba-laba ini adalah buatan, dan satu-satunya disini. Orang-orang suku sini sengaja buat bentuk sawahnya seperti laba-laba, dengan begitu mereka akan lebih mudah mengenali petak sawah mana yang punya keluarga mana. Pembagian lahannya jadi lebih jelas dan ini sudah turun temurun. Sayang pada saat kami datang sudah habis panen, jadi ada yang sudah botak-botak. Seperti Pizza yang sudah diambil beberapa slice dari kotaknya :D

Sawah Laba-Laba
Photo & Documentation by Fei
Sawah Laba-Laba 
Photo & Documentation by Fei
Selama perjalanan ke Labuan Bajo kami sering berhenti baik untuk beristirahat, cari angin segar, buang air kecil/besar, makan siang, melihat-lihat pemandangan gunung, sampai berhenti doank karena ada perbaikan jalan masuk gerbang Lab. Bajo, jadi kayak di Puncak buka tutup jalan gitu.
Tapi canggihnya kita bisa sampai Labuan Bajo di jam 3 (7 jam perjalanan dengan banyak perhentian).  

Labuan Bajo dilihat dari atas (sudah dekat kesana)
Photo & Documentation by Nury
Di Labuan Baju baru cari hotel. Cari hotel di sini tidak susah. Di kanan kiri jalan sudah terlihat hotel. Jalanannya juga memutar sekitar 5 – 10 km (kira-kira). Kotanya kecil. Jalan kaki 2 hari 2 malam mungkin sudah selesai mengitari seluruh Labuan Bajo (kecuali air). Kalau extrim, jalan kaki 1 hari tanpa henti juga sudah bisa lihat semua kotanya lengkap masuk gang-gangnya. #versilebay.

Kalau itenary saya adalah nginap di Rabu malam, kamis sampai Sabtu jalan- jalan kapal. Sabtu sore jam 3 sudah balik lagi ke Labuan Bajo. Hari Minggunya jam 3.45 flight ke Denpasar, Bali. Menurut saya ini agak membosankan. Jadi kalau tidak mau lama-lama menikmati Lab. Bajo, cukup ada 1 hari full disini sudah cukup. Misalnya hari Minggu pagi sudah balik lagi ke Lombok atau ke Bali.  Tapi jangan kuatir, di Labuan Bajo banyak café dan juga ada tempat wisata yang bisa dikunjungi lainnya. Sayangnya saya tidak mengunjungi semua tempat-tempat wisata menariknya itu, seperti batu cermin, dan tempat lainnya yang katanya bagus.

Kami memutuskan nginap di hotel L.Bajo dengan harga per kamar Rp350.000 + Rp100.000 (extra bed), tapi bisa buat 4 orang. Ssst hanya rahasia kita saja ya :D

Sore kami laundry baju dulu. Jalan kaki 500 meter dari hotel ke tempat laundry. Tempatnya rumah penduduk biasa. Bisnis laundry sepertinya ok juga disini, karena tidak banyak, tapi banyak orang tahu kalau mau landry ke Ibu sini. Nah rencananya, ambil baju bersihnya nanti di hari Sabtu sore. Sudah drop baju, kami jalan mengitari lagi jalan itu sampai ke pantai Pede. Ditengah perjalanan, Nury ingin sekali makan tahu goreng isi. Mari kita cari gorengan. Hehe..Disini banyak sekali gorengan yang berjualan, baik depan rumah maupun pinggir jalan.

Belum sampai pantai Pede saya tertarik masuk hotel bintang 4 (namanya lupa :D maafkan). Disitu saya dan teman-teman lihat kamar dulu, pengennya tidur disini buat hari sabtu malam. Tapi ternyata Rp 800,000 (yang bisa ditawar menjadi Rp 750,000) tetap tidak worth it. Sayang ajalah..Hemat! Belakang hotel ada kolam renangnya dan langsung bisa tembus ke pantai Pede. Kami lewat belakang hotel masuk ke pantai. Jalan kaki agak jauh dari pantai, menikmati Sunset.
Pemandangan Sunset yang indah. Tetep ya namanya juga orang Indonesia, menikmati Sunset sambil foto-foto norak. Sayangnya di pinggir pantai banyak sampah. Semoga kita bisa lebih sadar lingkungan dan tidak mengotori pantai. Pakai plastic kek untuk menampung sampah, lalu buang pada tempatnya.

Pantai Pede, Labuan Bajo
Photo & Documentation by Fei

Pantai Pede, Labuan Bajo
Photo & Documentation by Fei

Sunset di Pantai Pede, Labuan Bajo
Photo & Documentation by Nury Diana

Sunset di Pantai Pede, Labuan Bajo
Photo & Documentation by Nury Diana

Malam hari diisi dengan jalan-jalan disekitar pelabuhan untuk makan seafood. Ramai. Sepanjang jalan, kira-kira 500meter panjangnya, terjaja makanan seafood kaki lima. Banyak orang bule dan lokal memilih-milih seafood apa yang hendak mereka makan. Makanan yang tersaji bisa hadir ke meja dalam waktu kira-kira 30 menit – 1 jam :D. So Be Patient.

Seafood di jajaran pelabuhan Labuan Bajo
Photo & Documentation by Nury Diana

Tuesday, 13 October 2015

#4 Mampir Sejenak ke Danau Ranamese arah Kota Ruteng

Hari #4 Perjalanan Bajawa - Ruteng (Selasa, 13 Oktober 2015)

Buka mata di rumah Opa Yuthi, bersyukur karena pagi telah tiba. Saya tidak bisa tidur, semalam berharap matahari cepat datang menjemput :D.
Aku, Cupe dan Yuthi jalan kaki menuju garis pantai diujung kampung Wae Bela ini. Ada gua namanya Lolaeloga. Tempatnya banyak batu-batu. Melihat pantai sambil duduk diatas batu besar melewati gua Lolaeloga sungguh membuat perasaan damai dan tenang. Saya tidak bawa kamera, jadi tidak bisa foto deh..:D

Kami sarapan dengan nasi, telur dadar bentuk segiempat, dan sambal tomat (enak sekali sambalnya). Setelah sarapan, siap-siap, kami jalan lagi menuju Ruteng. Kalau teman-teman ada waktu, sebaiknya juga kunjungi Wae Rebo karena dari Ruteng ke Wae Rebo kira-kira 4 jam lagi. Saya tidak berhasil kesana, karena waktunya amat mepet.

Saya dan Yuthi berpisah di jalan, karena dia tidak dapat cuti tambahan untuk bisa lanjut bersama kami ke Ruteng dan Lab. Bajo. Dia harus balik ke Bajawa, ke Mbai. Saya dan Cupe beserta teman lain mengantarkannya. Dia naik mobil yang sedang ada bule jalan-jalan, dan kebetulan mau ke Bajawa arahnya. Jadi sekalian.
Terimakasih Yuthi! Tak henti-hentinya saya bersyukur punya sahabat seperti dia. Dia seorang sahabat yang baik, penuh perhatian dan matanya sangat penuh simpati dan empati ketika mendengar orang bercerita. 

Ruteng adalah kota singgah sebelum ke Laboan Bajo. Disini kita bisa istirahat dulu.
Tidak ada yang bisa dilihat kecuali Ranamese Lake. Itu juga sudah  jam 4 sore, jadi om Achmad menyarankan tidak usah masuk untuk jalan melintasi sekeliling danau itu. Kami hanya mengintip dari atas. Yuthi bilang, “danau itu angker, jadi sebelum sampai tengah kota Ruteng, mampirlah kesitu lihat”.

Saya melihat dari atas, tampak warna air danau hijau kebiruan. Sangat sepi, tenang, anginnya sepoi-sepoi. Kalau Yuthi tidak bilang angker, mungkin saya tidak akan kepikiran hal aneh-aneh disana. Dari atas danau banyak tanaman hijau, pohon-pohon. Saya jadi kepikiran ada binatang aneh ditengah-tengah danau.

Danau Ranamese dari atas
 Setelah selesai lihat-lihat dan foto, supir Om Achmad bercerita kalau disana ada bidadarinya. Bidadari-bidadari disitu pernah menyeret seorang supir teman Om Achmad. Banyak cerita horror lainnya di sekitar daerah situ.

Sebelum tiba di hotel, om Achmad mengajak kami naik ke bukit untuk lihat Sunset. Di bukit itu terdapat kuburan orang Kristen dan Katolik, bahkan ada gua maria untuk berdoa.
Gua maria - Ruteng
Documentation by Jusuf A


Akhirnya tibalah kami di tengah kota Ruteng. Kota Ruteng seperti kota-kota pada umumnya, seperti Garut. kanan kiri jalan masih terlihat sawah. Sebelum sampai hotel, kami beli minum dulu di Mini market. Disini sejuk. Kami bermalam di hotel FX7. Di hotel ini, supir punya tempat tidur sendiri yang disediakan hotel. Pelayannya sangat ramah. Harga per kamar per malam Rp 300,000. Kalau mau pesan makan, sebaiknya dilakukan sebelum mandi, karena makanan yang akan keluar lamaaaa sekali. Air panaspun keluarnya 1 jam setelah kami check in. dan setelah 15 menit mandi, tak lama kemudian air dingin yang meluncur keluar. Kalau 1 kamar ada  2 orang, yang akan kena sialnya adalah orang yang mandi belakangan..haha…
1 lagi, jangan pesan makanan banyak-banyak, karena 1 piring bisa buat 2 orang kalau mau irit. Makanannya tergolong standar harganya Rp 30rb an. Pesan aja sayur, nasi dan mie atau bihun goreng buat 3 - 4 orang. :D
Restorannya berada di lantai 3 dengan naik tangga putar.  

Monday, 12 October 2015

#3 Kampung Bena dan Air Panas Malanage, Bajawa

Hari #3 Bajawa Menuju Wae Bela (Senin, 12 October 2015)
#3 Menikmati Perjalanan Bawaja melewati Kampung Luba, Bena dan Malanage (Bag.3)


Kira-kira jam 3 kami baru jalan kaki ke kampung Bena dari Kampung Luba. Tempatnya tidak jauh, dan petunjuk jalan nya lengkap. 

Di kampung Bena, sama juga ada registrasi isi buku tamu dan sumbangan seikhlasnya. Bentuk kampung Bena sedikit berbeda dengan kampung Luba. Tempat ini berundak-undaknya hingga ke atas. Hingga titik paling tinggi saya bisa lihat gua maria. Rata-rata penduduk sini memeluk agama Khatolik. Dari sini kita juga bisa memandang pemandangan gunung Inerie dari kejauhan. 

Di Kampung Bena, banyak batu-batu peninggalan Megalitikum. Rumah-rumah adatnya mirip-mirip. Karena panas, batu - batu disini bisa buat goreng telur. Penduduk setempat ada yang sedang menenun kain, memandikan anaknya, beristirahat atau hanya sekedar duduk-duduk di teras depan rumah panggungnya. 


Tidak berlama-lama disini, sudah jam 4.30.  Mobil Om Achmad langsung melaju lagi menuju sungai air panas Malanage. Mau air yang agak panas, cari tempat agak keatasan sedikit. Duduk-duduk di agak tengah kalau mau menikmati yang sedang-sedang saja. Semakin kebawah airnya semakin dingin. Sungai air panas Malanage ini menurut orang sini adalah sungai benturan antara gunung belerang dengan aliran sungai dari gunung batu. Makanya terjadi percampuran antara air panas dan dingin.  Menikmati air panas di sini sungguh menyenangkan. 
Kami tidak berlama-lama disini, hanya rendam kaki saja, karena saya juga tidak ganti pakaian. Kami baru makan sedikit tadi siang, maka menghindari masuk angin, kami langsung jalan lagi menuju rumah Opa Yuthi di Wae Bela. 

Malam kami lanjut ke rumah Opa Yuthi di Wae bela. Rumahnya dekat dengan pantai yang banyak batunya. Makan malam dengan lobster besarrr sekali. Om Yuthi beli dari nelayan di pinggir pantai. Setelah itu tetep disuguhkan arak dan kopi Bajawa. 
Di kampung ini, kalau malam sudah sangat gelap, karena tidak ada lampu jalan. Mudah-mudahan lain waktu kesini lagi, lampu jalannya sudah dipasang. 

Hari ke - 3 selesai ditutup dengan foto-foto, menikmati kebersamaan dengan tante dan om Yuthi. Mengunjungi kuburan Ibunya Yuthi dekat dari rumah opa. Semua orang menyayangi Ibunya Yuthi. Kebaikan itu tetap dikenang, bak bulan tetap bersinar walau cahayanya sudah tertutup awan. 
Pintu depan Kampung Bena, Bajawa
Photo & Documentation by Jusuf A.
Dari atas Kampung Bena, Bajawa
Photo & Documentation by Fei
Pintu depan Kampung Bena, Bajawa
Photo & Documentation by Jusuf A.

Air panas Malanage
Photo & Documentation by Nury Diana
Lobster Besar dari Om Yuthi
Photo & Documentation by Nury Diana

Masakan Mama (tante) Yuthi dengan Lobster besar tadi
Photo & Documentation by Nury Diana



#3 Metik Cengkeh Bersama Penduduk Kampung Luba, Bajawa

Hari #3 Bajawa Menuju Wae Bela (Senin, 12 October 2015)
#3 Menikmati Perjalanan Bawaja melewati Kampung Luba, Bena dan Malanage (Bag.2)


Menikmati Gunung Inerie dari Kampung Luba, Bajawa
Photo & Documentation by Fei

Pukul 11 siang tiba di Kampung Luba, kecamatan Jerebuu, Bajawa
Panas sekali. Debu bertebaran naik keatas. 
Syukurlah saya bawa payung, jadi terik matahari tidak langsung mengenai tubuh dan wajah :D. 
Pertama kali masuk agak bingung arahnya mau kemana dulu, ngapain dulu. Tidak ada pemandu disana, kecuali menemukan rumah penduduk untuk tanya-tanya. Akhirnya saya mengerti, kalau di ujung kanan dari tempat kami masuk, ada rumah registrasi tamu. Disitu kita bisa daftar dan beri sumbangan berapapun seikhlas kita. Saya dan teman-teman mulai dengan foto-foto diri bersama rumah adat tradisional suku Luba. Basically, rumah-rumahnya mirip-mirip dengan kampung Bena, dan cara adat nya juga. Hanya tata letak rumah dan penataan lambang dan alat-alat untuk upacara yang berbeda. 

Kampung Luba, Jerebuu, Bajawa. 
Photo & documentation by Fei 
Kampung Luba, Jerebuu, Bajawa.
Photo & documentation by Fei
Gigi-gigi dan tulang2 korban binatang di depan rumah 
Kampung Luba, Jerebuu, Bajawa. 
Photo & documentation by Fei 
Di tengah lapangan yang dikelilingi rumah-rumah adat dengan atap ilalang, ada seperti rumah pondok kecil gitu. Ada 2 bentuk, satu bentuk atapnya seperti payung segitiga, namanya Ngadhu sebagai lambang nenek moyang untuk laki-laki, sementara atap bentuk kayak trapesium, namanya Bhaga lambang untuk nenek moyang yang perempuan. Fungsi tiang pondok itu untuk acara upacara adat mereka dengan hewan kurban yang digantung. 
Di setiap rumah tergantung tulang-tulang dan gigi-gigi hasil kurban, seperti babi, kerbau. Semakin banyak menandai status sosial. 


Tiba-tiba mata kami tertuju pada seorang Ibu yang sedang menenun kain. Coraknya kuda, dan kainnya berwarna hitam. Kenapa demikian, bisa di baca di blog-blog lainnya :D.

Ibu Penenun kain
Kampung Luba, Jerebuu, Bajawa. 
Photo & documentation by Fei 
Penduduk kampung Bajawa biasa membuat kain dengan warna gelap. Ini juga sama menunjukkan strata sosial.  Saya melihat mama sudah tua, tapi kegiatan mama menenun kain. Kegiatan menenun kain ini sudah dijadikan kegiatan turun menurun. Mereka melakukannya dengan tekun dan sudah menjadi kebiasaan. Melihat ini membuatku belajar arti membiasakan diri untuk bertekun dan bersabar. 1 lagi, kesetiaan. Kaki mama warnanya sampai putih karena kering dan pecah-pecah. Sambil menenun, sambil menyirih. 

Kain-kain tenunan Bajawa dari rumah di kampung Luba
Photo & Documentation by Fei

Menikmati saat kebersamaan dgn penduduk kampung Luba
Photo by Yuthi. Documentation by Nury D.
Duduk-duduk disana lumayan lama, sampai seluruh orang di rumah keluar. Orang-orang sana ramah dan baik. Mereka kenal Opa Yuthi, dan Yuthi mengajak mereka ngobrol bahasa Bajawa. Opa Yuthi dulu kepala suku di kampung Wae Bela, makanya semua orang kenal. Sungguh beruntung kami dapat kesempatan duduk dan mengobrol dengan penduduk asli sana, bantu petik Cengkeh. Kami berinteraksi langsung dengan mereka. Tertawa bersama. Yuthi, Mama dan bapak kasih tau kami cara metik cengkeh. Caranya mudah, tidak seperti memotek-motek cabe. Tinggal tumbuk jadi satu di telapak tangan, lalu bunga-bunga cengkeh itu jatuh berguguran lepas dari tangkainya. 

Kami juga disuguhkan arak dan makanan khas mereka, jagung dengan kacang merah rebus. Kalau di Papua nama makanan khasnya Papeda, kata Yuthi. 
Makanan jagung dan kacang merah rebus ini rasanya hambar. Makannya harus cocol garam dan cabe rawit hijau. Sambil makan, sambil nengak sedikit arak. Arak mereka diberi nama Sopi. Tapi aku selalu menyebutnya "Sofi" (sok kenal). 
Cuma kata mama disana, itu bukan arak Sopi, hanya arak khas sana saja. 

Makanan khas Bajawa. 
Tak diberi jarak waktu lama, 5 kopi sudah tersedia untuk kami berlima. Minum kopi Bajawa. Harum, nikmat. Saya yang tidak suka kopi sangat menikmati Kopi tersebut. Jarak 1 meter wanginya sudah tercium aroma kopi. 
Photo & Documentation by Nury Diana

Tak berselang lama, sambil tetap memetik cengkeh hasil tanaman dari suku sana, kami diberi minum kelapa. 
Mari kita hitung ada berapa minuman yang diminum. 
1. Arak Bajawa; 2. Kopi Bajawa; 3. Air Kelapa.
"Ini tidak apa-apa Yuthi minum sekaligus?" Tanyaku
"Tidak apa-apa lah Joel..(panggilanku)" 

Minum air kelapa langsung dari batoknya. Rasanya nikmat sekali.  Dan memang begitulah harusnya menikmati sebatok kelapa. 
Photo by Yuthi. Documentation by Nury Diana
Saya sangat menikmati momen-momen kebersamaan ini. Bercanda ria, ngobrol, memetik cengkeh bersama, menikmati arak, kopi dan kelapa, makan makanan khas adat, sungguh luar biasa. Mereka juga bilang kami orang pertama yang melakukan kebersamaan ini bersama mereka. 
Mereka juga menawari saya makan sirih pakai daun sirih, pinang dan kapur digulung jadi satu. Nyirih. Yuthi ajari saja cara makannya. Maaf ya Yuthi, saya tidak bisa dan saya tidak mau nyirih. Teman-teman menggoda saya untuk mencoba. Ayolah sekali seumur hidup. Melihat Yuthi sirih dan warna bibirnya berubah merah dengan gigitan-gigitan di dalam mulutnya, saya pikir saya telah merasakannya dalam sanubari hati. :D 
Senang sekali saat itu. Melihat sahabat kuliahku Yuthi mengobrol dengan mama dan bapak disana. Cupe tertawa sambil menghirup arak dan kopinya. Nury menikmati kebersamaan dengan terus tersenyum. Fei berusaha keras menghabiskan jatahnya untuk memetik semua cengkeh yang jadi KPI nya. :D 
Hal yang kami lakukan namanya Nalo. Pesta kecil-kecilan adat sini.
Pemandangan dan momen ini menjadi pelajaran berharga untuk saya. Sudah selayaknya saya menghargai hidup walau dalam kesederhanaan. Ketekunan. Kesabaran. Kesetiaan. 

Lanjut Baca bag. 3.....

Menikmati kebersamaan dengan penduduk Kampung Luba
Photo & documentation by Jusuf A. 
Photo by Yuthi, Documentation by Nury Diana
Memetik cengkeh bersama
Kampung Luba, Bajawa
Photo & Documentation by Nury D
Memetik cengkeh bersama (kebersamaan yang hangat)
Kampung Luba, Bajawa
Photo & Documentation by Nury D
Photo & Documentation by Nury D
Menikmati Kelapa langsung di batoknya
Kampung Luba, Bajawa
Photo & Documentation by Nury D

#3 Sunrise dibalik Gunung Ebulobo dan Menikmati Gunung Inerie, Bajawa

Hari #3 Bajawa Menuju Wae Bela (Senin, 12 October 2015)
#3 Menikmati Perjalanan Bawaja melewati Kampung Luba, Bena dan Malanage (Bag.1)

Enjoying Sunrise at Ebulobo mountain, Bajawa
Pagi hari di rumah Yuthi menikmati indahnya Sunrise dibalik gunung Ebulobo. Sungguh indah. Kebetulan rumah Yuthi agak tinggi, dari sini saya dan teman-teman bisa menikmati kota Bajawa sambil menatap indahnya matahari yang kian lama muncul dengan warna-warni langitnya. Perasaan saat bangun pagi dan menikmati terbitnya matahari rasanya hangat dan segar seperti embun. 

Setelah mandi dan sarapan, jam 9.30 kami lanjut jalan  menuju arah Wae Bela untuk bermalam di rumah opa Yuthi. Singgah ke warung beli kopi Bajawa. Kopi Bajawa yang saya beli home made dengan harga Rp 17,000 setengah kilo. Lanjut jalan ke "pasar Inpres Bajawa" beli sayur untuk dimasak dirumah opa Yuthi.  

Perjalanan ke Waebela diselingi dengan mengunjungi kampung Luba, Kampung Bena dan air panas Malanage.

Sebelum sampai Kampung Luba (spot perjalanan pertama), om Achmad berhenti di pinggir jurang supaya kami bisa lihat gunung Inerie dari kejauhan dan foto-foto. Kalau mau trekking di gunung ini juga bisa, kira-kira 4 jam perjalanan pergi, dan 4 jam perjalanan pulang. Kami memilih skip. Next trip aja :D. Gunung Inerie, di kabupaten Ngada. 

Lanjut baca bag.2 
Gunung Inerie, Kab. Ngada

Sunday, 11 October 2015

#2 Sunrise di Danau Kelimutu, Flores

Moni – Danau Kelimutu – Perjalanan menuju Ngada (Minggu, 11 October 2015)
Kab. Ngada, Ibukotanya Bajawa. Bajawa suku di Kab. Ngada., bagian tengah Flores.

Hari #2 Gunung Kelimutu, Flores, NTT  untuk lihat danau 3 warna yang memiliki keunikan dalam menampilkan warna airnya.
Bangun  jam 4 pagi. Harus benar-benar jalan dari tempat penginapan paling lambat jam 4.30 pagi supaya masih bisa nikmati Sunrise disana.
Saya dan teman-teman bergegas beres-beres bawa barang seperlunya dan berangkat. Tidak perlu check out dulu, karena nanti dari Gunung Kelimutu bisa balik lagi ke home stay jam 9 an untuk sarapan.

Setengah jam kurang sudah sampai di tempat parkir Gunung Kelimutu. 
Beli tiket untuk lokal Rp 47,500 ber -4 (mungkin sudah sekalian dengan mobil, dan supir tidak dihitung). Dari tempat parkir jalan mendaki pelan-pelan ke atas. Tapi saat itu saya lari, karena matahari sudah sedikit terlihat. Kami mengejar Sunrise. Saya, Cupe, dan Yuthi mampir dulu di Danau Tiwu Ata Polo. Ceritanya danau ini adalah untuk jiwa-jiwa yang selalu melakukan kejahatan. Kalau dilihat dari 3 danau nya, masuk akal cerita dan warnanya. Walau aslinya danau ini terbentuk dari gunung meletus dan adanya kegiatan vulkanik. Gaya magnetic disekitar sana juga tinggi. Baca-baca kisahnya, bahkan kapalpun tidak ada yang berani melintas diatasnya.
Di Tiwu Ata Polo saya lihat warna airnya agak gelap, warna hijau tua, dan baca dari sumber disana, danau ini sudah mengalami perubahan warna sebanyak 44kali. Yah mungkin namanya juga orang-orang yang suka melakukan kejahatan biasakan digambarkan dengan warna pekat dan gelap.  


Happy foto-foto, kami menuju Tiwu Ata Mbupu sambil lihat Sunrise dari tangga batu menanjak ke atas. Pemandangan sekeliling sangat indah. Cahaya mentari pagi menyinari dan memberi warna bagi pemandangan disekeliling. Danau Tiwu Ata Mbupu ceritanya adalah tempat berkumpulnya roh-roh orang tua yang telah meninggal. Warna yang saya lihat hari ini adalah biru tua.
Selesai melewati tangga demi tangga sampai terlihat jelas danau Tiwu Ata Mbupu, tengok ke kanan, saya melihat danau Tiwu Nuwamuri Ko’o Fai. Danau ini kisahnya tempat berkumpulnya roh anak-anak muda yang telah meninggal. Warna yang saya lihat biru muda dengan garis-garis kuning (itu belerang). Dari sumber disana, perubahan warnanya sudah 25 kali. Disini saya bisa lihat dengan jelas 2 danau (Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuwamuri Ko’o Fai), karena letaknya dari atas berdampingan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh luar biasa.
Hijau tanaman, danau warna-warni, gunung-gunung, bukit-bukit, oranye sinar matahari, awan putih dan birunya langit, buat hati damai, tenang dan segar.

Photo & documentation by Nury Diana

Kami selesai jam 9 pagi. Saya puas menikmati indahnya pemandangan di gunung Kelimutu ini. Selain foto-foto, saling bercanda dengan sahabat-sahabat, kami juga mengajak bule asal Switzerland ngobrol. Senang ya punya pemandangan sebagus ini yang bisa dinikmati bersama para sahabat dan juga orang-orang asing yang juga mencintai tempat ini. J
Sarapan di Home Stay nasi goreng dan teh manis. Jam 10.30 lanjut perjalanan ke Bajawa, Kab. Ngada, daerah tengah Flores, dimana terdapat suku Bajawa dan juga dari sini ke Riung dekat. Riung itu dimana 17 pulau indah kumpul bersama untuk dinikmati pecinta Snorkeling atau diving. Ya ga cuma pecinta Snorkeling sih, pecinta pantai, pecinta jalan-jalan juga ok.
Intinya kami tidak pergi ke Riung. next trip lah ya..
Dari Moni, mobil menuju Ende untuk bertolak ke Bajawa, Kab.Ngada. Bersyukur ada Yuthi, kami bisa makan siang dengan baso. Rasa basonya enak harga permangkuk Rp 17,000 dan saya pesan 2 porsi. Hehe..Ada gado-gado juga disana dengan porsi besar dan rasa enak. Nama tempat, saya tidak tahu. :D
Sebelum sampai kampung halaman Yuthi di Padhawoli,  Bajawa, kami dibawa menuju pantai Batu biru di Ende. Di pantai ini banyak sekali batu, dan bentuknya lucu-lucu. Parkir, jalan kaki menuju pantai injak batu-batu besar, sedang, kecil, lebih dekat ke bibir pantai baru pasir. Tapi pasirnya pun ada batu-batu kecil warna-warni. Teman saya, Nuri punya cerita ketika dia berkunjung disini, mengumpulkan semua batu dengan tekstur unik dari sini sebanyak 1 dus.  Tiba di bandara, overweight, tapi tetap ingin dibawa. Akhirnya tetap berhasil dibawa sampai Jakarta. Sekarang ketika mengunjungi pantai Batu Biru ini lagi, dia hanya bawa 1 gelas 250ml. :D
Tiba di rumah Yuthi pukul 7 malam. Disambut keluarganya dengan makan malam sederhana namun enak dan memiliki keseimbangan menu dan rasa.
Orang-orang Bajawa sangat ramah, kita bisa memanggilnya dengan Ka atau Om untuk yang lebih tua. 

Photo & Documentation by Nury Diana

Photo & Documentation by Nury Diana

Pemandangan sepanjang jalan Moni ke Ende

Saturday, 10 October 2015

#1 Berkelana ke Tanah Flores, NTT

Penerbangan Jakarta to Ende –- Ende to Moni (Sabtu,10 October 2015)

Terbang pukul 5 pagi pesawat Lion air menuju Surabaya untuk transit. Lanjut ke Kupang dan disana menunggu kira-kira 1.5jam utk naik pesawat penerbangan lanjutan dengan pesawat Garuda jam 13.00 WITA. Biaya pesawat yg sudah 1 paket itu adalah Rp 1.8jt. Garuda Air dari Kupang menuju Ende ukurannya yang paling kecil dari semua tipe pesawatnya.  
Bandara Ende lebih kecil dari Kupang. Dari pesawat tiba
sampai menuju lokasi pintu gerbang, saya dan teman-teman sudah bisa melihat sahabat lama,Yuthi menunggu di pintu kedatangan.
 
Yuthi adalah sahabat kuliah saya dan Cupe. Dia asli Bajawa,Flores. Tujuan liburan kali ini selain utk jalan
-jalan menikmati tanah Flores dan snorkeling di pulau Komodo, juga untuk mengunjungi sahabat kami, Yuthi di kampungnya.

Kami berlima naik mobil sewa dgn harga Rp 4jt dengan Om Achmad utk 5 hari perjalanan di Ende
, Bajawa sampai Lab. Bajo.
Om Achmad menjadi supir sekaligus pemandu perjalanan. Dia juga yang menyusunkan tempat
- tempat yang akan kami kunjungi. 
Selepas dari airport kami makan siang dulu
. waktu sudah menunjukkan jam 3. Tempat makan tidak usah pilih-pilih yg penting makan saja dan kenyang untuk menjaga kesehatan. 
Harga makanan di Ende juga tidak terlalu mahal, dan porsinya besar
-besar.

Kami lanjut jalan ke Moni.
Perjalanan dari Moni ke Ende hanya sekitar 1.5jam saja. Di Moni kami nginap di sebuah home stay dengan harga Rp 450rb untuk 5 orang 1 kamar besar, ada 3 ranjang besar.  Pemandangan depan kamar adalah gunung, bukit-bukit, dan sawah. Dari sini besok pagi kami akan menuju Danau Kelimutu. Namun karena hari masih terang, kami jalan-jalan dulu menuju air terjun di Moni. Disana kami berenang dan bermain air terjun. Airnya hangat. Rasanya segar….
Makan malam di Home stay. Harga  lumayan murah dan ingat  porsinya besar. Hanya saja disini kalau mau pesan makan harus super duper sabar, karena Luaaamaaa.  1 porsi nasi goreng sekitar 20rb.