Sunday, 8 September 2013

Nginep Gratis di Amsterdam #Belanda

Sambungan Berkelana ke Negri Eropa. 
Minggu, 8 September 2013 - Malam.
Ini Negara ke 2 dari kunjungan ke Eropa. 

Amsterdam, Belanda (Netherland)
Perjalanan ke Kota ke-2, negara ke-2 dari negri Eropa 

Keren banget ya baru lunch sosis di German, malamnya sudah dinner di Belanda. Gaya banget sih?! 
Kami melanjutkan perjalanan sore hari dari Koln ke Amsterdam, Belanda naik kereta. Mengejar sampai Amsterdam malam senin, supaya senin paginya sudah bisa kelayapan lagi jalan-jalan. 

Untungnya di Amsterdam ini kami sudah ada tempat penginapan. "Kebetulan" teman kantor Feifei sebulan yang lalu mendapat promosi dipindahkan ke Amsterdam untuk bekerja. Kantor perusahaannya berpusat di Amsterdam, Belanda. Jadi kami menginap disana deh - di apartemen yang diberikan perusahaan tsb kepada temannya Feifei. 
Gratis! :P dan “Kebetulan” tempatnya pas banget di pusat kota – Centraal, Amsterdam.

Ini foto apartemen teman kami itu
Tips kalau mau jalan-jalan ke kota-kota dan negara-negara di Eropa ini adalah cari teman sebanyak mungkin, baik itu lokal maupun international. Jadi siapa tahu bisa nebeng dot com.  Tapi kalau sudah nebeng, tahu diri ya dikit. hehe...Maksudnya bukan hanya kalau habis makan cuci piring, sehabis tidur beresin ranjang, kalau mandi jangan nyemburin air kemana-mana. Tapi kalau bisa juga (mungkin) bawakan something dari Indonesia ke sahabat atau temanmu itu, walau mungkin hanya sedus mie instan Indonesia yang terkenal. 





Menikmati 1 Harian di Kota KOLN, JERMAN

Minggu, 8 September 2013
Petualangan dimulai di kota Koln, Jerman.
Bangun jam 9 pagi dengan rencana segera menuju kota untuk lihat-lihat dan jalan-jalan. Akan tetapi sang pemilik apartemen mau pergi pagi-pagi, jadi kami diminta check out pagi hari supaya tidak membuatnya repot. Kami langsung check out. Karena kami masing-masing membawa 1 koper cabin dan 1 tas punggung, jadi agak repot kalau jalan-jalan dengan membawa semua itu. Kami memutuskan untuk menempatkan tas koper di tempat penyimpanan (automatic locker) di Stasiun. 

Sudah hampir jam 10.30. Lumayan lama karena banyak orang yang juga punya kepentingan yang sama. Menyimpan barang di stasiun lalu pergi jalan-jalan. Yang penting barang aman dan tidak dibawa kemana-mana. Mungkin sarana ini disediakan karena hostel atau hotel di Eropa mahal-mahal. Jadi kalau cuma 1 hari dan gak nginep, mending nyimpen barang di locker. 1 harian sekitar 9€.

Lapar..............

Tidak ada tempat makanan yang enak tapi murah, disini hanya ada coffee shop atau bakery shop. Feifei tak mau makan dekat stasiun. Masa sudah sampai jauh-jauh ke Eropa, makannya dekat stasiun. Feifei menyuruhku menunggu sampai kota dan mencari makanannya disana. 
Tapi karena kami terlalu lapar, kami tidak peduli lagi. 
Aku meminta Feifei membelikanku makanan apa saja. 
Pendekar tidak boleh kelaparan. Kalau kelaparan, gejala bad mood akan datang. 
Feifei mencarikan makanan, sementara aku menunggu mengantri di depan locker. 
Sebuah roti datang. Makan!
Aku makan dengan lahap seperti pendekar pengemis mendapat bakpao, menghabiskan setengahnya tanpa berpikir panjang kalau itu hanyalah roti coklat biasa dengan rasa biasa, dan harga yang mahal. 
Feifei bengong dan berkata dengan melas, "Eits jangan dihabisin donk! kan gua juga lom makan." 
Mataku membelalak kaget. Lupa kalau setiap makanan yang dibeli harus dibagi 2. Ingat ngirit!
------
Lanjut....
Setelah menyimpan semua barang yang tidak diperlukan dalam perjalanan ini, kami jalan-jalan ke kota. 
Melihat Gereja Gothic peninggalan abad 18. Ini letaknya dekat banget dengan stasiun Koln.  Perjalanan ke kota-kota yang ada di Eropa tidak lepas dari yang namanya melihat gereja katedral. Karena gereja itu merupakan pusat kebudayaan Eropa sekaligus kebanggaan dari suatu kota. 

Dekat stasiun ini banyak hal bisa dikunjungi dengan gratis. Ada museum Ludwig. Museum ini banyak terdapat karya seni klasik hingga modern. Kalau masuk dan hanya lihat-lihat gratis, tapi kalau mau menikmati musik atau melihat lebih dalam lagi bayar. Jadi yah kalau waktunya sempit dan rencana mau ngirit tanpa mendalaminya, lebih baik Skip. :D
Kemudian kami jalan lagi ke jembatan cinta. Jembatan cinta menyebrangi sungai Rhein. Dinamakan jembatan cinta karena banyak janji tertoreh dan terikat disitu dengan sebuah lambang gembok. Sok romantis deh kelihatannya. Gak hanya gembok kecil, yang besar banget pun ada.

Kami memang berencana makan sosis disana. Jerman kan terkenal dengan sosisnya. Maka kami mulai mencari sosis. Sosis yang kami makan adalah CurryWurst. Wurst itu berarti sosis. Curry yah kari. So Currywurst berarti sosis dibumbui kari. 
Ini dia!
CurryWurst - Koln, Jerman

Rasanya enak setengah mati. Hmm boleh lah yang suka sosis mencoba ini. Tapi tempatnya pilih-pilih ya..karena gak semuanya enak. Ini saya temukan di dekat jembatan sungai Rhein. Ada banyak yang jualan ini di cafe-cafe pinggir sungainya. Cuman ini yang sedang promo :D. Harganya hanya 7€. Kentang dan sosis yang panjang. Rata-rata menjual dengan 10-13€.
Di kota Koln ini, hari minggu toko buka rata-rata jam 1 atau 2 siang. So, kalau mau belanja, perginya diatas jam segitu aja. Tapi tutupnya juga cepat yaitu sekitar jam 5-an. 
Minggu itu lazy day dan waktu yang harus dihabiskan dengan keluarga daripada mengejar profit. Mereka tahu cara menikmati hidup. 
Kami melakukan windows shopping, karena banyak toko yang belum dibuka. Saya baru tahu arti kata ini setelah mencobanya langsung. Shopping yang cuma bisa di depan windows. Itulah yang dinamakan windows shopping. Barangnya gak pernah jadi hak milik, keinginannya ada di depan mata terhalang oleh selapis windows
Pengalaman ini bisa sepenuhnya dimengerti setelah Anda mencobanya di Eropa, dimana tokonya lebih banyak yang tutup daripada yang buka. Karena tokonya sangat baik hati, memberi pajangan barang-barangnya hanya ditutup dengan jendela.  
Windows Shopping, bisa dilihat tidak bisa dibeli

  

Saturday, 7 September 2013

Cari Internet buat Nginep di Koln, Jerman

Masih hari pertama datang ke Negri Eropa. 

Dari airport di Frankfurt kami menuju koln, Jerman. Bahasa kerennya Cologne, Germany.  Keretanya nyaman dan bisa melihat pemandangan indah.


Perjalanan ke Koln membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Frankfurt. Kami melewati berbagai stasiun. Tidak ada pemeriksaan passport. Dalam perjalanan itu tempat duduknya masih banyak yang kosong. Aku duduk di sebrang kanan Feifei, biar barang kami bisa duduk di bangku sebelahnya Fei fei. Aku duduk sendiri memandang pemandangan kota Jerman dari jendela kananku. Tidur. Bangun. Tidur. Bangun. Tiba-tiba disebelahku sudah ada pria muda duduk. Lumayan ganteng. Kesempatan untuk menghindari kesuntukan di kereta aku mengajaknya ngobrol. Hal pertama yang kulakukan adalah meminta tolong padanya mengambilkan botol minum disamping tempat duduknya, yaitu disebelah Feifei. Untungnya Feifei tidur, jadi kan bisa pura-pura minta tolong padanya begitu. :D

Dengan senang hati dia mengambilkannya. Aku berterimakasih. Kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Dia orang yang ramah dan kami ngobrol. Bahasa Inggrisnya memang masih kurang bagus, tapi dia berusaha dan senang mengobrol denganku. Dia seorang pemuda asal Auxemburg.
Aku melihat snacknya ada tulisan GRATIS. Kok sama kayak bahasa Indonesia. Mungkin bahasa German atau Belandanya Gratis sama dengan bahasa Indo - Gratis.

Sampai di koln kami merubah rencana tempat menginap. Yang rencananya menginap di rumah “teman” baru (kenal) yang asalnya dari Internet, menjadi tidak tahu mau nginap dimana. Karena rumah "teman" baru itu jauh dari kota. Karena tak dekat dengan tujuan wisata kami yang hanya 1 hari 1 malam, maka kami putuskan mencari tempat penginapan lainnya. Dengan Mendadak. Bukan pendekar kalau tidak dadakan dalam merencanakan sesuatu. 

Kami berjalan bolak balik mencari hostel dekat-dekat stasiun. Semuanya full dengan harga yang paling murah 130€ an (sekitar Rp 2jt). 
Jalan sana sini belum ketemu sudah dikasih hujan dan gerimis bergantian. Tidak bawa payung pula. Dekat stasiun banyak tempat jual souvenir payung sih. Masa mesti beli dengan harga 13€. (Ingat mesti irit!) Ternyata Penjualnya adalah orang asli Cina. Dia mengajak kami melihat-lihat menggunakan bahasa mandarin. Mungkin dikiranya kami orang Cina. 

Belum ketemu internet, lebih baik kami jalan-jalan lagi disekitar stasiun. Dekat stasiun ada gereja katedral tua. Sana sini kuping tiba-tiba terasa panas karena bahasa yang terdengar adalah bahasa mandarin. 

Banyak turis dari Cina disini. Pantas saja tempat souvenir tadi juga orang asli Cina sana. 

Lanjut mencari internet untuk tempat nginap. Susah online. Tidak ada free hotspot. Ada Starbucks dekat stasiun. Saking perlunya dengan internet, aku berpikir harus masuk dan beli 1 gelas minuman gitu untuk mendapat free wifi. Hmm pikir-pikir lagi. Kan mau hemat, masa sampai di German minum di Starbucks, deket stasiun lagi. Aku berdiri didepannya saja, coba-coba free wifi nya. Eh berhasil. Mari kita cari hostel! Gak perlu bayar kopi :D
Fei fei jago surfing web. Kami dapat tempat menginap semalam melalui https://www.airbnb.com. Sudah biasa di Eropa, dimana turis kere kayak kami bisa menginap di rumah orang dengan harga murah atau bahkan gratis. Jadi pemilik rumah sudah memberikan tempatnya sebagai tumpangan kepada turis asing untuk menginap di rumahnya atau apartemennya. Ada yang berbayar ada juga yang berbaik hati dengan memberikan gratis. (biasanya sih apartemen ya). Yang kami dapatkan di link tersebut adalah berbayar dengan harga 55€ untuk 2 orang.

Perjuangan kesananya donk yg seru. Hujan, dingin. Sampai sana bingung yang mana apartemennya. Karena patokan kami hanyalah sebuah alamat yang entah bagaimana caranya bisa sampai sana. :D

Kami meneduh dibawah atap gedung. Ada seorang pria naik sepeda melewati kami. Aku mengejarnya, menanyakan jalan. Dengan baik hati dia memberitahu kami alamatnya melalui Hapenya untuk buka internet, karena dia sendiri juga tidak tahu tempatnya. 

Kami tinggal di apartemen seorang wanita bernama Dolores di jl kleines Griechen. Apartmentnya nyaman, bersih, rapi dan dekat dari stasiun. Kami naik MRT hanya melewati 2 stasiun tadi.

Tempat tidurnya bukan di sebuah kamar dan bukan pula sebuah ranjang. Kami ditempatkan di sebuah ruang tamu, tempat nontonnya Dolores, dan dekat dapur. Dia punya sofa yang bisa berubah jadi tempat tidur. Rata-rata orang Eropa punya itu. Praktis. 


Sofa yang dijadikan tempat tidur, Tv diujung.

Katro di Airport Frankfurt, Jerman

Day 1 Berkelana ke Negri Eropa 
7 Sept 2013

2 pendekar berkelana menggunakan pesawat Etihad dengan waktu take off pukul 1 pagi. Transit di Abu Dhabi. Sampai di Frankfurt, Jerman jam 14.00 waktu eropa. Di Jakarta kira-kira sudah pukul 7 malam.
Lagi dapat tiket promo. "Kebetulan" harganya waktu itu 11jt sudah pulang pergi. 

Senangnya sudah tiba di Jerman (Negara pertama dalam plan kunjungan).
Aku melihat satu ruangan kecil untuk merokok. Haha kasian ya mau merokok di dalam ruangan, saling ngebul bersama. Rasakan itu! :D 

Fei fei menyuruhku mengambil trolley di bandara. Dengan pedenya kucoba menarik salahsatu trolley sekuat tenaga. Kucoba geser depan geser belakang, trolleynya jalan maju. Namun sayangnya setiap sampai ujung, trolleynya nyangkut. Kutarik sekuat tenaga, trolleynya tak kunjung bergeser keluar dari relnya. Orang-orang melihat ke arahku. Tak ada pertolongan. Karena kebanyakan juga turis disana, jadi semua pada cuek juga dan menebak-nebak apakah aku berhasil mengeluarkannya. Akupun juga cuek saja. Tidak bisa ya sudah, aku kembali saja dengan pedenya ke tempat Fei fei berdiri. 
Kataku padanya,“Trolleynya gak bisa keluar. Malu neh tadi dilihatin ama orang-orang.”

Fei fei pernah tinggal di Eropa selama 2 tahun. Khususnya di negara-negara seperti Prancis, Spanyol, Itali, Rumania, dll. Dia mendapat beasiswa Erasmus mundus buat kuliah keliling Eropa. 
Dengan santainya dia menjawab, "O ya uda nanti kita ambil trolleynya dari luar aja". 

Kami menunggu tas di conveyor belt. Cara keluar tasnya berbeda dari yang biasanya, ini tasnya keluar dari tengah seperti pusaran. 

Kami keluar mencari kereta. Ambil trolley dulu. Ternyata kasusnya sama tidak bisa ditarik keluar. Eh ternyata untuk ambil trolley harus bayar dulu. Kami sewa dengan harga 2€. Kalau sudah selesai pakai, jika dikembalikan ditempat trolley, maka uang bisa diambil kembali. 

Lanjut naik kereta menuju Koln.




Berkelana Ke Negri EROPA

Berkelana ke benua Eropa selama 2 minggu.
Pendekar berkelana tak sabar ingin berbagi pengalaman selama jalan-jalan disana. Ini negara-negara yang dikunjungi:
Germany; Belanda; Prancis; Spanyol; Italia; Swiss.

Seperti perjalanan berkelana biasanya saya bersama seorang pendekar lainnya yaitu pendekar Fei fei.  
Perjalanan kita kesana tepat pada saat harga euro naik jadi Rp15,600. Kami menukar mata uang di hari sebelum keberangkatan.
Jangan pernah coba-coba ya kalau gak kepepet. 
Namanya juga pendekar berkelana, dalam merencanakan sesuatu memang suka mepet. 
Padahal hari-hari sebelumnya harga euro masih diposisi dibawah itu.


Dan dalam cerita ini akan banyak kita temukan kata “kebetulan”. Jalan-jalan itu merupakan anugerah, hadiah dari Atas. Jadi apapun yang terjadi usahakan  selalu bersyukur dan menjalaninya dengan positif. Kebetulan itu merupakan syukur yang memang mesti dinikmati jalannya. 

Tips dari saya jangan pernah khawatir terlalu berlebihan saat berkelana, jalani saja dengan hati bahagia. Kebetulan berarti ada pertolongan. 
walaupun harga 1 Euro saat itu mahal, kami bersyukur karena di negara-negara yang dilewati, kami berusaha hemat sehemat-hematnya. 

Mari ikuti cerita kami selanjutnya...

Tuesday, 5 February 2013

Berkelana Ke Pangandaran (Hari ke-3)

Senin, 4 Februari 2013 (Hari ke-3)

Paginya kami menikmati jalan-jalan disekitar resort Banyu Alam. Check out dan lihat-lihat hotel disekitar sana. Banyak yang menarik seperti Danau Dariza, konsep tempatnya lebih cocok untuk keluarga. 

Danau Dariza


Selain itu juga ada Hotel Tirta Gangga. Tempatnya lebih mirip hotel biasa, nilai tambahnya lebih bersih dan service bertaraf hotel. Ada pemandian air panasnya juga ditambah fasilitas kolam renang.

Agak jauh lagi dari situ ada yang namanya Kampung Sampireun. Tempatnya lebih heboh bagusnya. Harganya juga lumayan mahal. Permalam bisa 2jt-hampir 4jt rupiah. Konsep tempatnya lebih cocok untuk keluarga, tapi lebih condong ke bulan madu. Tempatnya romantis. Ada tempat makan malam di sebuah perahu gitu. Ini cocok untuk pengelana seperti saya, tapi gak cocok kalau gak ada pasangannya. :D


Makan siang di Garut, Resto Liwet Pak Asep Stroberi. Tempatnya lucu. Bahkan ada tempat makannya dibawah rumah Stroberi yang besar. Kami mengambil lesehan diatas danau. Cuci tangannya gak perlu ke toilet, disitu disediakan wastafel lengkap dengan sabunnya. Keren deh tempatnya. 




Setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan ke Jakarta. Kali ini benar-benar sampai Jakarta. Sampai di Jakarta pukul 12.30 pagi. Tepar!

Monday, 4 February 2013

Berkelana ke Pangandaran (Hari ke-2)

Selama di pantai pangandaran, kami mengendarai kuda. Pendekara pengelana paling suka dengan kuda. Cuman kali ini naik kudanya mesti bayar, 2 kuda Rp 150rb. Aku sangat menikmati pemandangan pantai bersama kuda yang aku kendarai. Warnanya putih usianya 9tahun. Sudah tua, namun penurut. Mungkin kuda tua lebih banyak pengalaman kali ya dibanding kuda muda yang dikendarai temanku, maunya lari mulu. Maklum kuda yang dikendarai temanku adalah kuda balap. :D


Menikmati pantai dengan makan baso, cilok, kelapa, baso lagi (beda tempat). Siangnya kami makan yogurt buatan orang Prancis asli.  Dia punya tempat penginapan namanya Mini Homestay tak jauh dari penginapan kami yang juga homestay judulnya. Harga yogurtnya cuma Rp 5rb. Rasanya lumayan banget, secara saya penikmat Yogurt. (mmm)

O ya terlewatkan. Kami sempat naik perahu menuju pantai pasir putih. Gak penting banget deh, harganya Rp 100rb naik perahu. Sampai sana mending dianterin ketempat yang bisa berenang atau snorkeling. Sampai sana kita malah ditinggal udah gitu alat snorkel-nya mesti sewa lagi. Padahal sudah perjanjian diawal semua sudah disewakan. Mau balik lagi susah dan ribet. Aku dan temanku gak bawa hape. Kami minta tolong abang yang sewa snorkeling disana buat nelponin si tukang perahu dan marketing yang pintar berpromosi itu.  Namun sia-sia, si abang tidak datang. Agak menyesal sih, tapi apa daya, mari kita nikmati saja dengan pemandangan apa adanya. Tempatnya tidak terlalu buruk, namun tak seindah namanya juga. Setelah tanya anak kecil sebenarnya harga perahu  buat nyebrang berapa duit, yaitu Rp 15rb aja perorang, langsung sakit hati..hahaha

Kami melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta pukul 2.30 siang. Rencana kami gagal sampai Jakarta ketika kami tiba di sebuah pom bensin di kecamatan Ciamis. Perjalanan jauh itu tak lepas dari pombensin. Saya kecapaian. Rasanya mengendarai mobil menuju Jakarta PEER banget ya?! Kami memutuskan untuk mencari tempat penginapan.

Teman saya Feifei paling jago search tempat penginapan dan lain-lain yang asyik untuk dinikmati. Dalam sekejap dia menemukan ada tempat asyik di Garut, dimulai dari hotel Tirta Gangga, sumber alam sampai Banyu alam. Dalam sekejap pula kami menelpon satu-satu tempat penginapannya dan berhasil booking di Banyu Alam Cipanas Resort, Garut. Untung saja ini minggu malam. Harganya juga gak terlalu parah. Semalam kena Rp 400rb.

Kamarnya luas, ada air panas dan kolam buat berendam. Ada ruang tamu dengan TV dan bantal-bantal buat tidur-tiduran. Kamarnya ada hordeng penutup dari ruang tamu. Besarlah pokoknya. Lumayan buat santai semalam. Servicenya memuaskan.

Pemandangan dari depan kamar hotel Banyu Alam

Kamarnya di Banyu Alam

Ini kamarnya
Kamar mandinya. Bak mandi besar untuk mandi air panas