Wednesday, 18 May 2016

Kota Tua DALI, YUNNAN bag.2

Hari #4 Jalan-jalan di DALI GuCheng 大理古城 (Baca: TALI KuCheng)
Trip mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan unik di kota DALI 

Ada 3 tempat yang ditawarkan Ibu calo dalam paket berwisata. CHANGSHAN, ERHAI, dan mengenal suku minoritas suka Bai.
Di depan gerbang bagian selatan ada peta ini, siapa tahu berguna..
Perjalanan 30 menit menuju Changshan tidak terasa, guide tour berceramah di depan, aku dan teman-teman tertidur. Turun dari bis kami langsung antri menuju cable car. Untungnya bukan musim liburan China, kalau ya, kemungkinan panjang antriannya bisa 2km.
Untuk naik ke atas gunung bisa jalan kaki, bisa juga melalui cable car. Karena sudah bayar dan waktu tidak memungkinkan, lebih nyaman naik cable car lah ya…10 menit sudah sampai di atas. Cara naiknya pun unik. Cable car tidak akan berhenti hanya untuk melayani kita naik pelan-pelan. Roda mesinnya  terus berputar. Jadi kita akan diarahkan ke garis yang sudah ditandai oleh petugas. Begitu cable carnya menghampiri, kita langsung naik masuk ke dalam dan pintu di tutup. Dalam hitungan detik dan tanpa sadar aku dan temanku sudah berada di atas cable car menuju gunung. 
Aku sendirian dalam 1 cable car. Padahal sebelumnya aku melihat seorang pria berusia (mungkin) kira-kira 35 tahun yang juga sedang melakukan trip sama dengan kami. Wajahnya lumayan. Dia orang China asli, membawa kamera DSLR yang kelihatannya berat dan professional. Aku penasaran apakah dia wartawan ya.. dia seorang diri. Aku pikir cable car ini harus berdua (China kan gak mau rugi), tapi ternyata gak papa sendirian. Ya sudah...lagipula ketika melihat jari tangannya sudah menggunakan cincin..sebaiknya aku mundur aja deh.. Dan ya akhirnya aku memilih sendiri saja. 


pemandangan cable car dari atas

Pemandangan dari atas cable car 
Pemandangan dari atas gunung 



Pagoda di foto dari bis



Turun dari cable car kami diperhadapkan jalanan yang menjual souvenir. Dekat dengan pintu gerbang menuju gua. Depan gua ada naganya. Masuk ke dalam terdapat banyak sekali stalaktit dan stalakmit. Bedanya yang satu menggantung kebawah, yang satu menjulang keatas.  Sebenarnya di Indonesia juga banyak gua yang banyak stalaktit dan stalakmit nya. Hanya saja pintarnya wisata di China ini, mereka tahu cara memanfaatkan tempat wisatanya menjadi tempat yang istimewa dengan ceritanya. 

depan gua 

Batu-batu tersebut ditandai dan diberi nama sesuai pengkhayal batu nya. Misalnya ada yang bentuknya seperti Dewa kebahagiaan, permata malam, kucing diatas pohon, dan lain sebagainya. Aku jadi punya impian jadi ahli pemberi nama batu-batu. Yang dibutuhkan hanyalah daya imajinasi yang kuat terhadap apa yang dilihat. haha....

O di gua ini, kita tidak perlu senter untuk menikmati batu-batu ini. Di dalam gua sudah ada lampunya dan berwarna warni. Hijau, biru, merah...So romantic! 
Temanku Linda bilang, kalau ada lagunya nih tempat sudah mirip diskotik. Ya benar juga…

Ada yang unik waktu naik dan turun tangga yang terbuat dari batu-batu di dalam. Tiba-tiba saja ada antrian di dalam gua yang dingin itu. Ada seorang photographer di depan sebuah batu dewi lengkap dengan lighter dan peralatannya. Gua ini pernah dijadikan lokasi syuting film Jimmy lin dengan judul  ‘Demi gods and Semi devils’ (Tian long ba bu). Jadi kita sengaja dibuat antri, trus masing-masing orang bergaya di depan patung tersebut. Petugas mengatur jalannya lalu lintas foto. Photographer dari petugas wisata mengambil gambar satu persatu turis yang bergaya. Nah kalau sudah keluar gua nanti, mau ambil foto cetaknya bayar 10RMB. Bisnis yang menarik. Di dalam gua loh…bukan hanya ada 1 spot melainkan ada 3 sampai 4 spot foto. Kan kalau foto sendiri belum tentu hasilnya sebagus photographer tadi dengan peralatan dan lighting nya.

Keluar gua ada gembok-gembok tergantung dan jumlahnya banyak. Mungkin orang-orang gak tahan kali ya kalau ngelihat pagar-pagar gitu pengennya ngasih gembok-gembok buat menandai hubungan cinta mereka. Nah itu juga bagus sekali karena ada bisnis gembok deh akhirnya.  Dari jalanan berbatu pafing block, kita bisa melihat kota DALI dari atas. Ada danau ERHAI. Dalam bahasa mandarin disebutnya laut. Padahal itu danau. Mungkin karena mereka jauh dari laut kali ya, danau pun disebut laut. 

Gembok-gembok penanda cinta

Perjalanan selanjutnya kita dibawa ke tempat barang-barang perak. Tempatnya bagus dan mewah. Ramai sekali. Mereka akan menggiring kita masuk dan tidak akan dibiarkan kita keluar sendiri. Seperti di sekap dan secara halus dipaksa beli. Mereka akan memberi tahu kita kegunaan barangnya. Mana perak yang asli dan palsu. Bahkan aku sempat tertarik mau beli tumbler yang terbuat dari perak. Mereka menyakini kalau minum dari tumbler ini kita tidak mudah sakit. Makan perak bagus. Selain buat kesehatan, juga untuk menolak bala. Keberuntungan. Kemakmuran.

Tak tanggung-tanggung. Bukan hanya perak saja, mereka membawa kami ke tempat penjualan batu giok. Giok melambangkan keagungan, kekayaan, dan keberuntungan.  Bisa juga melambangkan status seseorang atau kekuasaan seseorang. Kalau cewe sudah punya giok di tangannya, berarti sudah menikah.  Status pernikahan ditunjukkan oleh sebuah gelang ditangan seorang wanita, bukan dari cincinnya.

Perak sudah, giok sudah, yang terakhir diajak berbelanja teh. Teh dari suku minoritas khusus daerah DALI. Jadi kami masuk ke sebuah rumah, yang kami kira suku minoritas sana. Dan memang benar pakaiannya begitu. Di sekap dalam 1 ruangan. Kami diminta mendengarkan ceramah tentang teh dan disuguhkan rasa-rasa teh khas mereka. Cara mereka presentasi sungguh luar biasa mengugah perasaan.  Teh untuk kesehatan. Rasa dan aromanya sungguh khas. 4 botol kecil harga 100RMB. Dari semua barang yang ditawarkan tidak ada yang kami beli, hanya teh yang akhirnya aku beli. Gak tanggung-tanggung beli 3 box, sampai disuruh tunggu sama petugasnya. Ternyata mereka mau nawarin lagi... Kami langsung kabur...

Pertunjukkan mana perak asli dan palsu. 
 Selain ditawarkan berbagai macam benda untuk dijelaskan, kami juga dibawa ke danau ERHAI. Sampai di ERHAI, kami naik perahu seperti gambar dibawah. Pemandangan gunung-gunung, rumah-rumah penduduk tepi danau. Sayangnya kami tidak sempat menginap di pinggir danau, melihat penduduk lokalnya dan menikmati kebudayaannya.  Kalau ada 1 hari lagi itu harus dicoba. 
Perahu untuk lihat-lihat ERHAI


Malam di kota tua...
Nah jalan-jalan ke dalam area kota tua DALI sore hari. Cuaca mendung. Dalam kota tua ini mirip kota tua di daerah-daerah China lainnya. Mereka sangat melestarikan kota tua. Ada 4 gerbang dari selatan, utara, barat dan timur. Kalau sudah masuk agak sulit keluar dari gerbang yang sama. Dalamnya kota ini besar dan banyak gang-gang nya. Kami sempat agak-agak kusut keluar dari gerbang yang sama, kecuali nanya-nanya orang.
Kalau nanya orang dijawab jutek, percayalah itu pasti bukan orang lokalnya. Itu mungkin orang dari daerah lain di China. Penduduk DALI nya sendiri ramah-ramah.

Aku lihat kanan kiri. Toko-toko yang menjual barang-barang yang serupa. Baju-baju; makanan siap saji; makanan kecil, Teh-teh, penjual alat musik seperti Tifa. Jadi penjualnya menggunakan pakaian tradisional memukul Tifa sambil bernyanyi mengikuti irama musik yang diputar melalui CD. Intinya mereka jualan CD lagu. Tapi yah tidak menutup kemungkinan kalau mau beli alat musiknya juga bisa. 
Jadi pas kita lewat toko CD musik itu, kita akan diperdengarkan lagu khas Yunnan. Sampai pulang aku masih terngiang-ngiang lagunya. Untung aku beli. Tapi beli CD nya di luar kota tua - lebih murah, aku belinya di Lijiang. Lagu-lagunya enak didengar.

Ada yang unik disini. Makanan kecilnya ada pai bunga mawar. Wangi mawar, tapi kalau makan mawarnya sendiri agak tawar.

Ada lagi...Disini kan banyak yang jualan baju, model bajunya terusan dengan cardigan dari bahan wol berwarna coklat. Di mana-mana para turis memakai baju ini. Jadi kita bisa lihat banyak orang pakai baju kembar. 

Yang paling menakjubkan adalah toiletnya. Jangan berprasangka buruk dulu. Justru ini yang paling aneh, toilet nya berbentuk gedung seperti hotel dengan arsitektur bangunan China kuno. Di depannya ada reseptionis penjaga, bahkan ada buku tamunya. Aku bingung ini toilet bayar gak ya…tapi orangnya dengan ramah memberitahu lantai bawah khusus untuk pria, lantai kedua untuk wanita. Kami masuk dan lihat-lihat. Wow toiletnya bersih dan nyiram otomatis.

Puas jalan, kami kembali lagi ke hotel yang sama malamnya. Padahal rencananya kami harusnya sudah jalan ke Lijiang mala mini, tapi gak sanggup, udah kemalaman dan cape banget rasanya. Jadi kami ketuk-ketuk pagar hotelnya, dan teriak-teriak minta masuk. Ini hotel apa kos-kosan ya… aneh banget mau masuk hotel seperti mau masuk kos sendiri tapi gak bawa kunci pagar. 

Mendung ya?
Suasana di kota tua DALI
Di kota tua menari tarian khas DALI. Anak-anak juga ikutan menari. 

Penabuh Tifa

jualan sepatu

jualan minuman santan kelapa. Tidak ingin kuminum. Khawatir rasanya







Kota Tua DALI, YUNNAN bag.1

Hari #4 Jalan-jalan di DALI GuCheng 大理古城 (Baca: TALI KuCheng)
Hanya 1 hari saja. 

Aku bangun jam 8 lewat. Tadi malam tidurnya hampir jam 3 pagi. Cukuplah mengistirahatkan tubuh. Sekarang saatnya mencari tahu ada hal apa saja yang menarik di kota Dali. Aku dan teman-teman baru keluar hotel untuk mulai jalan-jalan jam 10 pagi setelah check out. Kami jalan kaki menuju kota tua nya. Jaraknya dekat, tinggal jalan kaki, nyebrang, jalan lagi, lalu sampai gerbangnya. Di sepanjang jalan banyak yang berjualan. Ada hal menarik yang kulihat sebelum sampai gerbang kota tua, di pinggir jalan ada yang jualan guci-guci keramik. Ukurannya besar dan kecil terjaja di pinggir jalan begitu saja (lihat gambar dibawah). Aku kebayang kalau hujan semua guci itu akan dengan senang hati menampung banyak air. Ngeri juga kalau pecah.



Jalan kaki lagi menuju gerbang. Belum masuk gerbang sudah banyak calo-calo yang menawarkan paket pariwisata. Macam-macam bentuknya. Bisa paket beberapa hari, bisa hanya 1 hari, setengah hari, dll. Kami penasaran ingin tahu paketnya kemana saja dan harganya berapa. Sudah dapat informasinya, kami menolak untuk pakai paket, kami pede bisa pergi sendiri, tinggal naik taxi harusnya ok.

TAPI.....

Bukan orang China kalau gak gigih berjualan. Apalagi kalau kita sudah nanya-nanya, dia akan dengan semangat mengikuti kita kemanapun arah langkah kaki kita melangkah. Karena paksaan, desakan, rengekannya, kami mengalah dan menawar saja. Dia menawarkan paket pergi ke CHANG HAI, ERHAI, mengenal suku minoritas dengan harga 200RMB per orang. Aku tawar 80 RMB saja. Susah payah akhirnya dia mau juga. Padahal itu bagi kami nothing to lose.  Setelah setuju dengan harganya, aku tetap ingin masuk ke dalam kota tuanya dulu, nanti akan menemui ibu calo ini lagi di gerbang. Dia gak mau, malahan ikut nemenin kami masuk ke dalam kota tua jalan-jalan bentar. Kami melihat sepeda disewakan seharian seharga 50RMB. Toko-toko bersiap-siap buka. Kotanya masih sepi kalau pagi hari. Calo itu bilang ke kami kalau mau lihat dan jalan-jalan kota tua sebaiknya malam hari, karena ramai. 

Setelah 20 menit jalan masuk kota tua ditemani calo tersebut (baca: diikuti), kami langsung masuk ke program paket jalan-jalannya.
Sebelum mobil datang menjemput, kami makan dulu beli erkuai (makanan khas yunnan). Makanannya dari sejenis kulit lumpia membungkus macam-macam isi. Misalnya sosis, cakwe, lalu dikasih semacam sayur rebung diasinkan. Aku lebih suka pakai cakwe. Bumbunya enak bagiku. Si ibu calo itu tetap menunggu kami makan dulu, padahal mobil van yang menjemput kami sudah datang dan menunggu di depan kami, pinggir jalan. Yah kami agak nyusahin sih…tapi apa boleh buat, belum makan sama sekali, khawatir lapar di jalan.

Setelah 3 makanan dibuat dan bayar, kami masuk mobil dan makan
5 menit setelah mobil dijalankan, tiba-tiba supir memberhentikannya di pinggir jalan. Kami kira dia akan mengangkut orang-orang yang sudah dirayu untuk ikutan paket wisata dengan mobil yang sama. Eh ternyata ada bis lewat, dan kami pindah ke bis tersebut. Di situ terkumpul orang-orang yang di dapat dari calo yang berbeda-beda. Harga per orangnya pun beda-beda. Ada yang kena 150RMB per orang, ada yang kena 200RMB. Punya kami paling murah. :D 

Tapi jangan salah, trip-trip di cina itu kebanyakan murah, karena diakhir cerita jalan-jalan itu mereka akan menawarkan kita dengan berbagai macam barang pusaka miliknya. Dengan paksaan, rayuan, berbagai macam teknik marketing dan penjualan, pasti ada lah barang yang dibeli oleh wisatawan. Dalam group bis kami hampr semua adalah orang China asli yang berlibur ke kota ini. Guide tour yang menjelaskan tentang Dali pun berceramah sepanjang jalan menggunakan bahasa mandarin. Disitulah nikmatnya, ketika dia berbicara menjelaskan panjang lebar dengan nada dan logat guide tour, aku pun mengantuk dan tertidur.
Ketika ingin mengambil foto guide tournya, wanita dengan baju khas Dali, aku kena omel, katanya tidak boleh foto ketika dia kerja. Mohon maaf, Kalau sudah di bawah bis terserah deh mau foto ya foto. Ok lah kalau begitu aku masukkan lagi kameranya dan tidur lagi.

Pergi ke kota Dali banyak hal yang bisa dipelajari, terutama dari suku minoritasnya. Di China, suku-suku minoritas  dijadikan objek wisata. Mereka menjelaskan suku tersebut dengan segala macam keunikannya, mata pencahariannya, rumahnya, dan lain-lain, terakhir mereka akan menjual barang khas dari sana, yang katanya tidak akan ditemui ditempat lain. Jadi mau tidak mau, terpaksa atau tidak terpaksa, dengan pemikiran kapan lagi aku kesini, ya uda beli deh.

Guide tour yang buatku tertidur itu menjelaskan salahsatu suku minoritas sana, suku bai (baca: pai). Budaya suku bai, wanita lebih mendominasi kaum pria. Wanita bekerja keras diluar, pria mengerjakan pekerjaan halus di rumah, seperti membuat gelang-gelang perak, kerajinan tangan dari batu, atau bahkan menjaga anak.  Pria dikatakan pria...bila dia bisa merokok dan minum-minuman arak. Jadi kalau di rumah, pria nya tidak minum dan tidak merokok, tetangga-tetangga akan mencibir istrinya...masa beliin rokok sama arak aja gak mampu....

Cara mudah mengenali wanita yang masih single dan sudah bersuami dengan melihat topinya. Topinya ada rumbai-rumbai berwarna putih. Kalau wanita sudah berumah tangga, rumbainya pendek. Sementara wanita single rumbainya panjang. Jadi kalau ada pria iseng memegang rumbai wanita tersebut harus menikahinya. Kalau gak mau, pria tersebut harus bekerja di rumahnya selama 3 tahun. Begitupun sebaliknya kalau misalnya si wanita tidak mau menikahi prianya (misalnya: dari belakang si wanita kan gak tau ya siapa yang megang rumbainya, kalau  prianya jelek banget dan GAK banget, wanita tersebut berhak tidak mau), tapi pria itu tetap harus bekerja selama 3 tahun, setelah itu bebas.

Panggilan untuk wanita disana a mao (arti: kucing), untuk pria a gou (artinya: anjing). Kalau kita melihat arsitektur bangunan disini yang semuanya hampir mirip-mirip dengan banguan tradisional dulu karena mereka masih mempertahankan budayanya. Gedungnya berwarna putih, itu adalah warna sakral nya mereka. Ukiran kayu di rumah melambangkan kemakmuran dan kekayaan. 
Pagoda khas Dali ada 3 gitu, Pagoda utama di tengah, katanya miring. Kami gak turun, kami lihat dari bis saja. 


Erkuai isi cakwe
Penjual Erkuai pinggir jalan

Jalanan di sekitar kota tua DALI




Hotel kami di Dali, YUNNAN, CHINA

Hari #4 DALI GuCheng 大理古城 (Baca: TALI KuCheng)

Aku ingin pergi ke Dali, salahsatunya terpengaruh film putri huanzhu. Waktu itu di ceritanya, mereka berlibur ke Dali. Masyarakatnya hangat, pakaian tradisionalnya bagus dan unik. Disana ada tarian, nyanyian, dan kehidupan sederhana penduduk lokalnya.
Akhirnya keinginan buat pergi kesana tercapai. Cara perginya baca disini.

Bus dari Kunming sampai di Xiaguan, kota barunya, lalu aku dan teman-teman lanjut naik mobil van menuju kota tua nya (Gucheng: 古城). Pertamanya supir kebingungan letak hotel tempat kami nginap. Hotelnya memang masih baru, tapi reviewnya bagus. kami dapat dari applikasi china qunaer. Aplikasi china untuk penyewaan hotel seperti traveloka gitu.  Kami menginap di hotel Man Su. Daerah pintu selatan kota tua. Tempatnya masuk ke dalam gang. Mobilnya menurunkan kami di depan gang. Bangunan depannya seperti masuk ke kos-kosan di Jakarta. Tengahnya taman, dan diujung tangga ke lantai atas ada meja resepsionis. Dihias pernak-pernik dan elemen-elemen china, jadinya hotel ini unik dan memiliki nilai budaya dali.

Kami sampai hotel jam 2 pagi, resepsionisnya menyambut kami dengan jaket tebal berwarna hijau. Karena kami bertiga, dengan ramah dia menawarkan kamar yang besar, bisa buat bertiga. Kamar standarnya kan hanya berdua, 1 ranjang gitu. Nah yang ini ada 2 ranjang besar dalam 1 kamarnya. Kami tetap membayar 98RMB (kira-kira 200rb). Murah kan untuk ber-3? Uda gitu dikasih upgrade kamar besar lagi.

Eits tapi jangan salah. Bukan pebisnis kalau gak ada maunya. Masa di kasih gratis begitu saja? Dia minta kita review hotelnya. Temanku bingung mau review apa. Lah biasanya kan kita review kalau kita sudah menikmati kamarnya, menikmati pelayanannya, lihat-lihat sekeliling bagaimana rupa dan bentuknya hotel ini, tapi ini ditodong review jam 2 pagi. Ya udah temanku memberi handphonenya kepada resepsionis. Terserah deh dia mau nulis review apa terhadap hotelnya.
Pantesan review di hotelnya bagus. Mungkin ini caranya. Mungkin kalau kita reviewnya besok, kita bisa lupa dan akhirnya review itu tidak ada. Rugi juga dia sudah memberikan kamar upgrade nya untuk kita.

Akhir nya kami bisa tidur juga.

Paginya kami lihat baik-baik lagi bagaimana hotel ini. Sangat cozy. Di dekat taman dan meja resepsionis ada lobi yang berbeda dengan lobi hotel pada umumnya. Tempat duduknya ala-ala tatami dan  menggunakan banyak bantal. Ada tempat jamuan teh. Penduduk lokal sangat menikmati menjamu tamu dengan the. Menghormati tamu dengan teh.
Di sepanjang jalan banyak hotel. Model bangunan hotelnya mirip-mirip dengan ala bangunan cina kuno. Ini yang membuat kita merasakan suasana sedang berada di kota Dali, Yunnan.  Kota yang berbeda dengan kota-kota lainnya di area cina lain. Ini menjadi ciri khasnya kota itu.  Menurutku ini menjadi standar dari pemerintah kota ini, karena sudah dijadikan kota pariwisata. 



Jalanan dekat hotel, belok kanan masuk gang itu hotel tempat kami nginap




Ranjang besar bisa buat ber-4

Buat menjamu teh 

Ruang tamunya


pintu depan hotel (Man Su)

Tuesday, 17 May 2016

Cara Pergi ke Dali, Yunnan, China

Hari #3 Kunming - Dali (baca: TALI)

Sebelumnya dari Dongchuan balik lagi ke kota Kunming. Setelah check out dari hotel yang ranjangnya tadi malam tidak ditiduri, kami berkemas menuju stasiun bis. Masih ada waktu makan. Aku memilih makan Suan la fen, makanan favoritku. Mie nya kenyol-kenyol berwarna bening dan kuahnya asam pedas. 

Kalau mau ke Dali, berangkatnya dari Kunming. Jadi kami naik taxi (42RMB) menuju stasiun bis bagian barat -西部客运车站 untuk beli tiket bis ke Dali. Di stasiun bis banyak calo yang menawarkan mobil sewaan. Nanti naiknya bisa beramai-ramai dengan orang lain yang kita gak kenal. Lebih baik jalan terus menuju loket pembelian tiket.

Bis Kunming – Dali harganya 110RMB/orang.  Aku dan teman-teman naik bis jam 5 sore berangkat, sampai Xiaguan kira-kira jam 12.30 pagi. Dari Xiaguan menuju daerah kota tua nya  kira-kira setengah jam. Xia guan itu merupakan kota baru nya Dali. Rata-rata pariwisata akan menuju kota tua Dali untuk bermalam. Bentuk bangunan hotelnya unik dengan dekorasi ala cina kuno. Di ruang tamunya ada tempat menjamu tamu dengan teh.

Karena  sampainya malam hari dan agak susah mendapatkan angkot ke kota tua, kita bisa minta tolong supir bis nya, tanya-tanya aja gimana caranya ke kota tua.  Kami beruntung supirnya membantu kami dan beberapa orang lainnya yang kebetulan juga akan berpariwisata kesana. Sesampainya di Xiaguan ada mobil van yang siap mengantar kami menuju hotel dengan bayar masing-masing orang 15RMB.


Saran dariku pergi ke kota Dali kalau mau murah jangan berangkat sore-sore yang sampainya malam. Berangkat pagi hari lebih baik, karena kalau hari masih terang, ada bis menuju kota tua yang bayarnya hanya 2RMB. 

Kehidupan di Hongtudi, Dongchuan, Yunnan

Duduk di bis beberapa jam sambil lihat kanan kiri rumah-rumah penduduk. Ini sudah masuk perkampungan. Logat bahasanya pun sudah tidak bisa dimengerti. Aku bertanya-tanya ini mau turun di mana ya tempatnya, sampai suatu tempat kanan kiri adalah pemandangan sawah berwarna merah dan warna-warna lainnya. Tak lama bis berhenti. Supir berdiri sembari turun memberitahu kalau Dongchuan yang dimaksud bisa turun disini. Supirnya baik dan bertanggungjawab. Sempat-sempatnya dia turun dari bis, mengambil tas kami di bagasi, dan  mengenalkan kami ke  seorang wanita pemilik hotel. Setelah selesai memberitahu dan mengenalkan, dia lanjut pergi lagi.

Wanita tersebut menyambut kami dengan hangat. Dia mempersilahkan kami masuk ke lobi dan mulai berbicara tentang Hongtudi dari A sampai Z. Ada beberapa titik yang menjadi tempat best view untuk melihat pemandangan indah ini. Rata-rata orang menikmati tempat ini dengan menginap dulu, karena tidak ada bis lagi malamnya. Pemandangan terbaik baru bisa dinikmati diatas jam 3 sore ketika matahari bersinar sampai dengan sore menjelang matahari tenggelam.

Rencananya kami hanya mau menikmati tempat ini sehari saja, tapi karena tidak memungkinkan kami memutuskan untuk menginap di hotel ini. Pemilik hotel menawarkan makan siang di restorannya. Kelihatannya dia orang yang jujur dan tulus, kami mempercayainya. Lagipula hotelnya permalam tidak mahal, yaitu sekitar 50RMB, yang biasanya kena 60RMB. Kami memilih sayur-sayuran di restorannya. Jadi caranya pilih sayurnya apa, lalu mau dimasak kayak gimana. Si Ibu pemilik restoran ini yang memasak semuanya. Hari ini dia mengerjakan semuanya sendiri. Luar biasa. Dari mulai menjamu tamu, menyiapkan makan siang, mengatur orang untuk mengatur kami jalan lihat-lihat naik mobil, sampai dengan menyiapkan kamar, beres-beres, bersih-bersih. Katanya 3 orang lainnya sedang libur pas hari itu.

Aku melihat pemilik restoran ini sangat rajin dan pekerja keras.  Hawa dingin bukan jadi masalah. Mungkin karena hawanya dingin kali ya, orang-orang ini mau gak mau bekerja lebih rajin, kalau diam saja tidak bergerak kan makin dingin. Aku melihat di lobinya ada kerajinan kristik dengan pola gambar yang besar ukurannya. Mungkin disela-sela waktu kosongnya, Ibu ini melakukan kegiatan menjahit kristik.

Kehidupan di Dongchuan sangat sederhana. Sambil menunggu makan siang yang sedang dimasak, aku dan teman-teman jalan-jalan.  Melihat-lihat pemandangan disana sungguh indah. Sepi. Penduduk local rata-rata bekerja sebagai petani, peternak dan sisanya dipakai untuk menambah penghasilan lewat pariwisata.

Mereka sangat pintar memanfaatkan tempatnya sebagai tujuan pariwisata. Semua bisa dijadikan uang. Ada supir dan mobil bisa untuk antar tamu jalan-jalan lihat-lihat sambil foto-foto. Waktu kami pergi ke suatu titik disana, ada tempat yang masih dibangun. Nantinya kalau turis mau masuk harus bayar.  Untuk melindungi tanah pertanian mereka, ada peringatan “kalau diinjak kena biaya sekian yuan.” Bahkan ada seorang kakek tua yang hanya duduk dengan anjingnya. Kalau mau foto dengannya harus bayar sekitar 20RMB. Kata Pak Zhang, pemandu kami, kakek itu dulunya artis.

Jadi kalau mau foto-foto harus lihat-lihat dulu ada papan peringatan gak….jangan sampai udah foto-foto malah harus bayar.

Setelah dibawa jalan pakai mobil oleh Pak Zhang, kami bisa lihat banyak hal:

  • Kehidupan beberapa Ibu penjual kentang dan telur panggang di pinggir jalan. Makan kentangnya bisa pakai sambal. Ada beberapa pilihan sambal yang bisa dicocolkan ke kentang atau telur. Peringatan: kalau kentangnya gak matang, yang terjadi adalah kentut-kentut.
  • Peternak madu.  Madunya warna putih, berasal dari bunga gunung. Rasanya enak dan dijual per botol 1 liter harganya 80RMB. Temanku Linda dari Sukorejo sempat tersengat lebah di pinggang bagian belakang. Kata pemilik ternak lebah ini, itu biasa saja, dulu ada yang pernah tersengat di kepala dan bengkak- bengkak. Obat nya yah pakai madu saja dioleskan dibagian tersengat.

Tak banyak yang bisa aku lakukan disini setelah jalan-jalan dan selesai menikmati sunset yang mataharinya gak jelas tenggelamnya dari mana. Karena kami tidak mendapat pemandangan itu akhirnya.  Ditambah pula gak bawa baju hangat, baju pengganti, dan peralatan lainnya (karena gak ada rencana nginep disini). Jadi kami hanya bisa menikmati sunset dan menunggu sunrise esok hari nya, sambil melihat apa yang penduduk lokal kerjakan. Angin disini kencang dan dingin. Untungnya ranjang hotel ada matras penghangat yang ditempatkan diatas ranjang.

Hotelnya - Hong cheng ke zhan
Keledai atau kuda ?
Pak Zhang gendong anaknya
kentang dan telur panggang
Documentation by Fei
Documentation by Fei
Documentation by Fei
Makan malam di restoran yang sama - Documentation by Fei



































Monday, 16 May 2016

DongChuanqi Hongtudi Surganya Photographer

Hari #2 Kunming – Dongchuan – Hongtudi
Senin, 16 Mei 2016

Dongchuan Hongtudi (Dongchuan Red Land) 东川, 红土地 memiliki keindahan alam yang luar biasa indah. Bukan hanya menyenangkan mata fisik, namun sangat membahagiakan mata lensa kamera yang menangkapnya. Di Dongchuan Hongtudi  ini kita bisa melihat pemandangan sawah gitu. Berundak-undak penuh dengan warna-warni. Orang-orang menyebut daerah ini dengan nama “God’s palette”. 

Datang di bulan Mei ini, kita bisa melihat tanahnya berwarna merah. Sebenarnya warna-warni itu didapatkan dari tanah merah, tanaman-tanaman, sayur-sayuran yang ditanam petani, dan juga rerumputan.

Untuk pergi kesini, naik bis dari Kunming di stasiun bagian utara (北客运车站), ke tempat tiket dan beli ke arah Fazhe. Harga bis nya 48 RMB. Counter tiketnya minta passport, tapi pas kami kasih passport, tukang tiketnya kayak malas gitu input, eh dikembalikan lagi deh…
Kami berencana 1 harian saja main disana. Selesai lihat-lihat sorenya mau balik lagi ke Kunming. Tapi ternyata bis sore paling lambat balik ke Kunming jam 6, itu pun bukan dari Hongtudi, melainkan jalan lagi 50 km lagi ke arah Dongchuan kota. Jadi kami terpaksa menginap di hotel dulu untuk bisa menikmati sunset dan sunrise pada keesokan harinya. Kami menginap di Hongchengkezhan (红成客栈). Di Bis nya, kita harus kasih tau supirnya mau ke Dongchuan, Hongtudi, nanti supirnya akan menurunkan kita di tempat penginapan yang mempunyai banyak informasi untuk bisa menikmati daerah ini.

Tempat penginapannya juga tidak mahal, sekitar 60RMB. Beruntung kami dapat harga 50RMB aja. Makan siang dulu disini, lalu jam 2 lewat jalan pakai mobil diantar ke 9 titik tempat. Tempat-tempatnya antara satu dan yang lain tidak jauh. Harga mobilnya sekitar 200RMB. Paling bagus kalau mau foto diatas jam 3 sore, saat matahari muncul dan bersinar terang sampai dengan sunset menjelang.

Udaranya dingin, waktu aku datang sekitar 16 derajat. Padahal sudah mau masuk musim panas. Lucunya kami tidak ada persiapan kesini dengan bawa baju dingin dan bawa baju ganti. Jadi baju yang sama kami gunakan untuk tidur malam sampai besok paginya lagi. Aku hanya bawa jaket tipis. Dua orang temanku ada yang pakai jaket tipis, ada yang hanya pakai baju lengan panjang bahan heatech. Jadi malam-malam kami kedinginan. Sebenarnya sih hawanya sejuk, cuma anginnya itu loh menyapu-nyapu wajah kami. Saking kencang anginnya, disini juga banyak kincir angin untuk jadi energi listrik.

Paling nyaman kalau ke Dongchuan naik mobil sewaan dari Kunming, jadi bisa 1 harian saja mainnya. Harganya sekitar 800RMB. Paling hemat dan agak nyantai 2 hari 1 malam. Hari pertama naik bis pagi-pagi jam 7.50 sampai Hongtudi jam 12 -an (kira-kira 3- 4 jam lebih). Besok harinya ambil bis jam 8.30 pagi, supaya masih bisa lihat sunrise jam 5.30 dan atau 6 pagi.
Di Dongchuan orang-orangnya bisa bahasa mandarin dengan baik, jadi walaupun mereka bicara agak nyampur dengan logat daerahnya, masih bisa dengar dengan ok lah. Orang-orangnya baik dan ramah. Akan tetapi segala sesuatunya mesti tetap ditawar harganya :D Waktu kami kesana mereka tanya kami darimana, kami sebut kami dari Indonesia. Mereka tidak tahu Indonesia itu dimana, kecuali Malaysia yang dekat dengan Negara Indonesia.

Di sini juga ada warung buat beli air mineral, mie instan, pembalut atau bahkan cairan pencuci muka.
Yang aku suka ketika kesini adalah tempatnya masih agak sepi dan tidak terlalu banyak turis. Ada beberapa turis dari Cina menikmati tempat ini dengan santai dan foto-foto. Rata-rata yang kesini adalah photographer yang ingin mengabadikan pemandangan God’s palette ini. Jadi pas sunrise menjelang, ada satu titik dimana para photographer dengan berbagai macam tipe kamera DSLR nya berjejer dari atas bukit siap mengambil gambar.


Setiap musim kita akan disuguhkan dengan warna-warni yang berbeda dari pemandangan Dongchuan Hongtudi ini. Sayangnya pas aku disini, matahari tidak terbit seperti yang diharapkan. Sinarnya agak malu-malu dan gak berani keluar. Gerimis pula. Awan tebal menutupi. Oklah..kami harus puas dan bersiap-siap pulang untuk kejar bis 8.30, tapi diluar kehendak kami. Bis yang di tunggu-tunggu itu tidak dapat kami masuki, karena kami kalah cerdik dan cepat disbanding orang Cina sungguhan. Bis itu seharusnya bisa ditunggu di depan pintu hotel, namun ada beberapa tamu hotel itu yang sudah jalan kaki ke tempat bis mangkal dari atas, jadi kami gak dapat tempat duduk deh…terpaksa menunggu 1 jam lagi. Kami pulang naik bus yang jam 9.30. 

NB: Kami beruntung bertemu pak Zhang. Dia yang mengantarkan kami jalan-jalan ke 9 titik di daerah indah ini. Ternyata dia adalah kakak iparnya pemilik hotel yang kami tempati. karena dia orang lokal, kami bisa masuk ke satu titik yang bisa melihat semua hamparan keindahan Hongtudi dari atas. Ternyata tempat itu sedang dalam tahap pembangunan. Nantinya akan dimintai biaya masuk untuk para turis. Karena belum siap, kami masuk situ masih gratis. 
Waktu kami disana ada beberapa photographer yang masuk dimintai bayaran oleh penduduk yang sedang mengerjakan proyek itu. Untungnya ada Pak Zhang, jadi kami bertiga aman. :) 






para turis fotographer yang kena palak suruh bayar
menara yang sedang dipersiapkan untuk melihat Hongtudi

saat nunggu sunset, para photographer sudah mengambil spot



Sunday, 15 May 2016

Hari Pertama di Kota Kunming China

Hari #1 Kunming, Ibukota Yunnan, Cina
Minggu, 15 Mei 2016

Pertamakalinya aku jalan-jalan ke cina di akhir musim semi menjelang musim panas. Tiket pesawat promo Air Asia mengantarku terbang dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Kuala Lumpur menuju Kunming – ibukota Yunnan daerah selatan China. Take off jam 6.25 pagi. Tunggu di KL 3 jam, jam 1 terbang (kira-kira 3 jam) sampai Kunming jam 4.30 sore. Perjalanan kali ini tanpa itenary yang lengkap. Tanpa booking hotel untuk beberapa hari ke depan, cuma booking hotel buat malam ini aja. Akan tetapi kurang lebih aku dan 2 orang teman bersamaku sudah tahu kira-kira akan kemana saja, dan apa tempat menarik yang harus dikunjungi dalam 7 hari ini.

Berikut yang terjadi di hari I sesampainya di Kunming:
·    Turun pesawat cari taxi menuju hotel 7 days atau 7 tian daerah huan cheng xiang (环城巷)

·     Segera setelah check in (hotel 7 days – 7 tian permalam 108 RMB, cari makan di daerah hotel. Disini tidak perlu khawatir, daerahnya banyak makanan. Kanan kiri toko penjual makanan. Dari makanan halal sampai makanan tidak halal. Dari makanan besar (sayur-sayuran seperti restoran besar) sampai makanan kecil pinggir jalan semua tersedia. Kami makan di rumah makan yang sayurannya bisa pilih apa saja, mau di masak apa saja. Misalnya mau kuah, kuahnya dimasak dengan labu atau lobak, sayur po chay, daging babi asap dengan bumbu masakan khas Sichuan. Kalau minimal 3 orang makan seperti ini harganya jadi lebih terjangkau. 


·   Ingat porsi disana besar-besar. Kami bertiga pesan 3 sayur, itu pun tidak bisa dihabiskan tuntas sudah kenyang banget. Paling bener sih 2 sayur aja (1 sayur, 1 lauk), tapi kan kami terlalu rakus dan lapar. Tidak perlu khawatir dengan nasi, mereka akan sediakan sekaligus dengan air putih panas atau teh isi ulang. Biasanya minum gratis. Rata-rata di Cina soal makan, tidak perlu khawatir soal minum. Kalau gak dikasih minuman, biasanya kami minum kuah tawar. Meja-meja sebelah kami pesan sayur hanya sebagai pendamping minum arak. Tempatnya ramai dan banyak yang antri. Duduknya di bangku kecil, kayak orang jongkok. Yah itu mungkin cara orang mereka supaya kita disitu hanya khusus makan, ngobrol bentar lalu cabut pergi, gak lama-lama…atau memang begitu ciri khas restoran disana, biar lebih irit. 

·     Kenyang makan, kami jalan-jalan menuju kotanya. Nama daerahnya Nan Ping Lu. Tempatnya banyak mall dan toko-toko kecil jualan makanan kecil. Banyak anak muda main disini. Di belakang mall ada satu jalanan kecil (muat 2 mobil sih), jual shaokao sepanjang jalanan itu. Kami duduk di bangku jongkok untuk menikmati shaokao, pertusuknya ada yang 3 RMB, ada yang 5 yuan, tergantung daging apa, sayur apa. Aku makan lidah bebek. Kenyel-kenyel gimanaaa gitu….aku gak tahu kalau itu lidah bebek. Setelah makan baru tanya…huee..gak doyan.

·    Kalau mau pipis, jalan saja ke mall terdekat. WC nya lumayan, gak lebih jorok dari wc – wc daerah Cina lain yang dulu pernah kutemui.

·     Setelah itu cari makan lagi, yaitu guoqiaomianqian - 过桥面前 (mie melewati jembatan). Yang terkenal rumah makan jianxinyuan - 建新国Mie nya terbuat dari beras. Cara makannya dengan mencelupkan mie kedalam kuah dengan daging-dagingan yang kita pilih sebelumnya. Harga paket dari 18 RMB.  Mie ini salah satu makanan khas daerah sini.

Selanjutnya jalan-jalan aja mengitari. Suhu sejuk (kalau kata orang local), tapi menurut kami suhunya dingin, sekitar 15 derajat. Kata orang local, Kunming lagi gak jelas suhunya. Kemarin aja di 30 derajat, sekarang 15 derajat. Cepat sekali berubahnya.

Di dekat hotel tempat kami menginap, ada banyak toko pijit dan refleksi. Yang lucu, ada ruangan yang isinya jejeran ranjang rumah sakit, disana ada orang berbaring dengan tiang infus di samping ranjangnya. Kami bisa melihat dengan jelas dari depan. Ruangan itu bisa dilihat di kaca dari atas sampai bawah. Lucu deh, kita bisa lihat orang-orang sakit lagi terbaring disana. Dan itu  memang rumah sakit. Bukan hanya bisa lihat ada orang lagi dipijit, tapi juga bisa lihat ada orang-orang yang lagi dirawat di ruangan rumah sakit.

Kalau melihat sekeliling, pakaian orang-orangnya tidak terlalu modern. Gaya berpakaiannya masih agak jadul dan suka gak nyambung gitu antara atasan, celana, dan sepatunya. O ya, bagi mereka yang memeluk agama muslim, ada banyak restoran halal disini. Kotanya menyenangkan, orang-orangnya ramah, makanannya enak, dibilang jadul gak, dibilang modern juga gak.


Nama Resto tempat kami makan - Long xin yuan

Lobak kuah dan daging asap 

suasana restoran tempat kami makan 
 guoqiaomianqian (mie melewati jembatan)

Jian xin yuan (resto terkenal untuk makan mie guoqiaomianqian)

jalanan yang penuh shaokao, dicari di nan ping lu 



#chinatrip #kunmingtrip #travelling #dumbtraveller #lucktraveller #kunming #yunnan #yunnantrip #MayChina2016